Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Bar dan Bir di Hari Galungan

Oleh: Made Adnyana Ole

17 Februari 2020, 13: 05: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bar dan Bir di Hari Galungan

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

ADA sejumlah todongan yang tak sulit dihindari oleh anggota Dewan menjelang Hari Raya Galungan. Pertama, todongan dana mapatung daging babi dari warga pendukung yang sudah tua dan berkeluarga. Kedua, todongan kupon bazzar dari sekaa teruna di desa sendiri dan desa-desa sekitar.  Jika dana sedang melimpah, todongan segencar apa pun tak akan jadi masalah. Namun, jika kantong lagi gerit dan menjerit, todongan itu mirip serangan nyamuk di rumah mewah, bikin geregetan, marah dan gatal-gatal.

Di sejumlah daerah di Bali, bagi kawula muda, Galungan bisa identik dengan bar. Bar atau belakangan lumrah disebut bazzar di bale banjar saat Galungan, marak terjadi sejak tahun 1980-an. Entah muda-mudi mana yang memulainya, lama-lama bar atau bazzar seakan jadi tradisi untuk melengkapi Galungan.

Penyelengara bar atau bazzar adalah para kawula muda-mudi, atau sekaa teruna, remaja putra dan putri yang sedang ria-rianya menikmati hidup. Bar bisa disebut kafe dadakan, atau resto dengan ciri khas amat tradisional. Bale banjar dikurung klangsah, dihias ambu di sana-sini, jalinan janur dan tamiang digantung di antara lampu warna-warni. Tak lupa juga ada kelap-kelipnya. Makanan dan minuman yang dijual mirip-miriplah dengan apa yang dijual di kafe sungguhan. Namun menu sebagai ciri utama dari bar itu adalah bir. Jika tak ada bir, mungkin bukan bar namanya, tapi warung tipat cantok. 

Karena dibuat untuk penggalian dana, harga menu di bar dadakan itu biasanya dipasang tinggi-tinggi. Bisa tiga kali lipat dari harga semestinya. Jika bir sebotol di warung tepi jalan harganya 10 ribu, di bar dijual 30 ribu, bahkan bisa 50 ribu. Anehnya, tak ada yang keberatan. Semua bersenang-senang, semua merasa senang, merayakan kemenangan di Hari Galungan. 

Untuk urusan tugas jurnalistik, saya pernah berkunjung ke pabrik bir di Mojokerto sekitar tahun 1990-an. Saya ingat, saat itu seorang staf pemasaran di pabrik itu memberi penjelasan cukup mengejutkan. Kiriman bir ke Bali menjelang Hari raya Galungan jauh lebih besar ketimbang hari-hari biasa.  Bahkan mungkin jumlahnya sampai sepuluh kali lipat, atau lebih dari itu. Yang jelas, data itu mengesankan satu hal: di hari biasa bolehlah minum arak oplosan yang murah meriah di atas trotoar, namun saat Galungan wajib duduk di kursi bar, minum bir.

Sekitar tahun 1980-an, jelek-jelek begini saya jadi ketua sekaa teruna di kampung saya di Tabanan. Saat bar dibuat dengan sederhana, dan lebih kerap jadi ajang kumpul-kumpul ketimbang cari untung. Saat itu, dapat untung satu juta saja sudah syukur. Tentu, karena pembelinya adalah warga desa sendiri. Namanya juga warga desa, yang dipesan pastilah makanan. Nasi goreng, atau paling mahal sate kambing. Jika pun kupon disebar jauh-jauh hari sebelumnya, tak enak hatilah kita menodong warga desa sendiri dengan jumlah kupon banyak-banyak. Bar, praktis hanya perayaan semata, senang-senang, kumpul-kumpul enam bulan sekali.

Namun belakangan, saya sering heran mendengar bazzar sekaa teruna bisa untung hingga ratusan juta.  Dalam waktu semalam bisa menghabiskan ratusan kerat bir dan bale banjar selalu penuh orang. Musik berdenyar, kadang keributan tak bisa dihindarkan. Ada banyak berita, keributan besar antarpemuda, kadang hingga menimbulkan korban jiwa, bermula dari bazzar. Apa pasal? Zaman berkembang. Bar bukan lagi semata-mata jadi media ekspresi untuk bermain dan berkumpul. Bar di bale banjar kadang memang dibuat dengan sengaja untuk cari untung sebesar-besarnya. Bahkan, lambat laun, bar jadi media untuk mengelola dukungan politik.

Kupon disebar sebanyak-banyaknya, todongan diarahkan ke mana-mana. Yang jadi sasaran, adalah pengusaha, dan tentu saja politikus yang saban pemilu meminta dukungan ke desa-desa. Seorang teman anggota Dewan pernah berujar, dana insentif yang dikumpulkan enam bulan kadang habis saat Galungan tiba. Selain untuk anak-istri dan biaya upacara di rumah, dana ludes  untuk membeli kupon bazzar. Kupon dibeli, dibagi-bagikan lagi ke para konstituennya, ke para pendukungnya. Itulah yang kemudian membuat bar jadi ramai. Para pemuda ke bazzar tak perlu bawa uang, namun bawa kupon berbendel-bendel.

Menu apa yang dipesan dengan kupon sebanyak itu? Ya, bir. Bir-lah yang bisa diminum terus-menerus, karena masih bsia dimuntahkan tanpa malu-malu, lalu minum lagi, lalu muntah lagi. Jika hanya pesan nasi goreng, kupon pastilah tersisa banyak. Siapa yang mau makan nasi goreng sampai mabuk?

Jadi, pada setiap Hari Raya Galungan, sejumlah politikus tak bisa tenang. Todongan kupon bazzar seakan jadi teror di hari bahagia. Yang menodong, tentu saja orang-orang yang dulu merasa ikut berjasa mengumpulkan suara pada saat pemilu, untuk menaikkan si politikus ke kursi Dewan. Ada yang pengurus partai di tingkat bawah, ada yang orang biasa. Karena berjasa, orang ini merasa berhak untuk menodong si anggota Dewan.

Sebagai anggota Dewan, jangan coba-coba untuk menolak permintaan mereka. Sekali saja ditolak, maka kampanye negatif bisa-bisa tersebar sepanjang masa.  Dalam bahasa politik, itulah salah satu contoh bagaimana seorang politikus memelihara konstituen. Mungkin karena selalu memikirkan “todongan” dari konstituen, banyak anggota Dewan tak bisa bekerja dengan maksimal untuk pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat luas. Anggota Dewan jadi sibuk mengurus bansos, bahkan kadang sampai memboikot sidang. Mungkin karena harus memelihara konstituen dengan baik dan rutin itulah kadang membuat mereka tergoda untuk korupsi.

Maka, jangan heran, jika banyak anggota Dewan tampak berubah perilakunya terutama pada saat Hari Raya Galungan.  Ada yang tiba-tiba asosial, ada juga yang tiba-tiba sosial. Yang mudah dilakukan menjelang Hari Raya Galungan adalah mematikan HP. Padahal pada hari-hari biasa HP on 24 jam setiap hari. Tindakan matikan HP sebenarnya paling aman, meski akan mendatangkan banyak umpatan dari si penelepon.

Jadi, jangan berpikir gampang jadi anggota Dewan, terutama pada hari-hari menjelang Galungan. Jika jago bahas perda, seorang anggota Dewan harus jago juga menghindari todongan tanpa harus kehilangan dukungan. Betapa kerja yang sulit. Atau, jika mau aman, cobalah bikin perda untuk menghapuskan tradisi bazzar saat Galungan. Alasannya bisa dicari-cari, misalnya bazzar bukan budaya Bali. Cobalah kalau berani. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia