Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Mengungkap Pesan Tersembunyi Leluhur Saat Galungan dan Kuningan

17 Februari 2020, 13: 15: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengungkap Pesan  Tersembunyi Leluhur Saat Galungan dan Kuningan

PANDITA : Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, 50, dari Griya Natar Agung, Banjar Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Hari Raya Galungan yang jatuh Rabu (19/02/20), sebagai hari  kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).  Banyak nilai spirit penting diajarkan dalam rangkaian hari raya  bagi umat Hindu ini.

Dharma menang melawan adharma  yang digaungkan dalam merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Hari penting umat Hindu yang jatuh setiap 210 hari sekali ini, dirayakan meriah.
Leluhur dalam merayakan kemenangan dharma melawan adharma, menyelipkan  tentang perjuangan hidup.


Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, Hari Raya Galungan sebagai harinya kemenangan dharma, tidak hanya dilihat pada Buda Kliwon Dunggulan, melainkan dari Sugihan Jawa sampai dengan Buda Kliwon Pahang.

Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga mengatakan, rangkaian perayaan Galungan harus dilihat pesan spiritnya, tidak fokus pada materialnya saja.

Selama ini menurut pria berusia kepala lima ini, pemahaman material lebih banyak terdengar dari spiritnya. "Leluhur membuat rangkaian berbagai upacara dalam memperingati Galungan dan Kuningan dengan makna yang sangat bagus," paparnya  kepada Bali Express (Jawa Pos Group)  pekan kemarin. Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga membagi pesan spirit  dalam tiga tahap, dimulai tahap persiapan diri, mencapai kesejahteraan hidup, dan terakhir adalah kebahagiaan sejati.

Tahap persiapan menjalani hidup, lanjutnya,  dibagi dalam tiga paket lagi. Paket pertama adalah pembersihan, yang dilaksanakan oleh umat pada Sugihan Jawa di Wrespasti Wage Sungsang dan Sugihan Bali di Sukra Kliwonnya.


Ditegaskannya, filosofi Sugian Jawa sebagai pembersihan diluar atau makrokosmos, bukan Sugian untuk umat yang berasal dari Jawa.


“Sugian artinya pembersihan, Jawa berasal dari kata Jaba yang artinya diluar. Sugian Jawa berarti pembersihan diluar diri manusia," terangnya. Jika merujuk pada ini, lanjutnya, maka selain sembahyang ketika Sugihan Jawa, sebaiknya umat membersihkan merajan, pura, rumah, dan membuat lingkungan menjadi indah.


“Selanjutnya setelah diluar diri bersih, maka esoknya saat Sugihan Bali  membersihkan diri sendiri. Sugian Bali bisa dilaksanakan dengan misalnya memotong rambut, membuat diri bersih. Mengurangi berpikir, berkata, dan berbuat tidak baik,” sambungnya.


Sugian Jawa dan Bali, dimaknai sebagai pembersihan parhyangan, palemahan, dan pawongan.
Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga menjelaskan, kedua ini sebagai paket pertama untuk persiapan diri menyambut Galungan. Paket kedua dimulai dari Redite Paing hingga Wrepasti Umanis Dunggulan.
Hari Minggu ada Panyekeban, dan pada hari ini Butha Galungan turun. Umat Hindu  harus mulai mengendalikan diri, memilah mana yang benar dan salah dan menekan ego, sehingga tidak terpengaruh dengan Butha Galungan. “Hari selanjutnya, panyajaan yang artinya 'sajaan', serius, tekun, dan sungguh-sungguh. Kala ini Butha Dunggulan keluar, dan  sebagai umat kita harus bisa serius dalam mengendalikan diri. Jika berhasil, maka godaan Butha Dunggulan gagal,” terang tokoh umat dari  Griya Natar Agung, Banjar Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar ini.

Setelah itu, keesokan harinya Butha Amngkurat datang menggoda agar timbul  keangkuhan. Melalui tradisi nampah (memotong) babi, adalah simbolis  membunuh sifat tamas. "Babi kan pemalas,   kalau ayam itu sifat rajas, kita kendalikan semuanya. Sehingga rasa keangkuhan dan malas berkurang. Hasilnya sifat sattwam akan mendominasi diri kita,” ujarnya. Selanjutnya Rabu pun datang, dan berarti hari kemenangan dharma melawan adharma tiba. Dijelaskannya, setelah membersihkan lingkungan dan diri, ketika Sugian Jawa dan Sugian Bali. Lanjut berhasil menghadapi godaan dari tiga Buthakala,
rajas terkendali dan tamas hilang, sifat  sattwam akhirnya mendominasi. “Kondisi inilah tanda sesungguhnya kemenangan dharma pada seseorang melawan adharma. Jika sudah berhasil, maka baru kita keluar merayakan saat  Umanis Galungan, berkunjung dan minta maaf kepada keluarga dan teman,” bebernya.


Paket kedua tersebut, lanjutnya,  adalah pembentukan karakter diri umat. Sesudah berhasil mengalahkan godaan, karakter baik seorang umat akan lebih menonjol. Setelah menyelesaikan paket kedua, maka lanjut ke paket ketiga. "Diri dan lingkungan sudah bersih, karakter baik lebih menonjol, maka selanjutnya seorang umat siap menerima ilmu pengetahuan," paparnya.


Dijelaskannya,  penerimaan ilmu kepada umat ini dimulai pada Saniscara Pon Dunggulan atau Pamaridan Guru. Marid berarti ngalungsur (memohon), sehingga Pamaridan Guru bermakna memohon waranugraha dari guru, dimana guru yang dimaksud adalah Paramesti Guru (Batara Guru).
Lebih lanjut, usai mendapat waranugraha dari Yang Mahasempurna, umat akan melaksanakan hari Ulihan di Redite Wage Kuningan. Dimaknai sebagai kembalinya Dewata ke alamnya. Namun spirit hari Ulihan,  umat harus mengingat asal waranugraha yang didapat ketika Pamaridan Guru. Dimana ilmu itu dipraktikan dan diulang terus menerus. “Kalau sudah diulang terus menerus, maka akan tertancap dengan baik dalam pikiran. Hal inilah dimaknai ketika Pamacekan Agung yang jatuh pada Soma Kliwon Kuningan,” ungkapnya.


Semua itu adalah tiga paket persiapan diri untuk mencapai kebahagiaan lahir bathin.  "Leluhur begitu bagus membuat rangkaian Hari Raya Galungan. Tidak hanya perayaan, namun punya nilai spirit yang kuat,” pungkasnya.


Kalau sudah tahap persiapan menjalani hidup bisa dilakukan dengan baik, maka selanjutnya apa yang mesti dilakukan?


Diingatkannya, jangan beranggapan kalau Hari Raya Galungan dan Kuningan mentok sampai pada Manis Kuningan, lalu melompat ke Buda Kliwon Pahang. Walau benar berakhir pada Buda Kliwon Pahang, lanjutnya, sejatinya selama proses dari Sugian Jawa itu, Galungan masih berlangsung, tanpa jeda sampai Buda Kliwon Pahang. Maksudnya bahwa kemenangan sesungguhnya didapat kalau sampai Buda Kliwon Pegatwakan bisa sukses menjalani hidup, dengan sifat sattwam yang tetap mendominasi.


Ketika umat Hindu melaksanakan pembersihan diri dan lingkungan, kemudian bisa menonjolkan sifat sattwam dibanding rajas dan tamas, sehingga akhirnya bisa menerima ilmu waranugraha dari Batara Guru. Maka, selanjutnya ilmu tersebut digunakan dalam kehidupan. “Setiap Kuningan pasti ada Tamiyang, nah itu simbol perisai diri. Diharapkan manusia bisa menggunakan ilmu yang didapat sebelumnya dan selalu berusaha menempatkan sifat sattwam sebagai yang utama dalam diri, sehingga diharapkan umat tahan berhasil mengatasi rintangan dan sukses dalam kehidupan di duniawi,” paparnya.


Dikatakannya, alasan umat Hindu harus bisa menghadapi rintangan dan sukses di dunia, karena makna dari 'Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma''yang maknanya adalah mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia serta akhirat.


Dari artinya itu, lanjut  Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga,  bahwasanya Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa menginginkan umat agar bisa bahagia dan sejahtera di dunia, sebelum memikirkan ke akhiratnya. “Inilah tujuan jangka pendek diri kita sebagai manusia. Harus hidup sejahtera dan bahagia. Bagaimana bisa sejahtera di dunia, jika kita tidak mau mengulang dan mempraktikkan ilmu yang didapat,” tambahnya.


Usai Hari Raya Kuningan, menuju Buda Kliwon Pahang, 25 hari kemudian. Setelah umat mendapat kesejahteraan mulai memikirkan untuk kebahagiaan di akhirat, yakni agar bisa Moksa. Hal ini ditandai dengan mulai meninggalkan ikatan materi secara perlahan, sehingga diharapkan bisa Moksa kelak saat meninggal.


Simbol moksa ini, dijelaskan  Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, ketika Buda Kliwon Pahang. Hari yang juga dikenal dengan Buda Kliwon Pegatwakan itu, lanjutnya,  memiliki spirit sebuah jalan menuju kebahagiaan. Jalan menuju kebahagiaan sejati, saat seorang umat Hindu bisa melepaskan keterikatan duniawi. “Inilah yang saya maksud, ada tiga spirit dalam rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pertama persiapan menjalani hidup mulai dari pembersihan lingkungan dan diri sendiri, membentuk karakter Sattwam dan akhirnya mendapat pengetahuan. Selanjutnya adalah berjuang hidup untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia, dengan punya perisai diri agar bisa menghadapi rintangan dan berjuang hidup. Dan, terkakhir mencapai kebahagiaan sejati, yakni Moksa,” ujarnya.


Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga mengharapkan, selain menjalankan tradisi, umat Hindu mesti mempelajari spirit dari Hari Raya Galungan dan Kuningan. “Saya yakin, kalau selama rangkaian Galungan dan Kuningan, umat juga bisa melaksanakan spiritnya, maka bisa mencapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan sejati di akhirat kelak,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia