Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Permainan Mejuk-jukan di Desa Buahan

Digelar Saat Hari Pengejukan, Simbolis Ngejuk Celeng Galungan

17 Februari 2020, 20: 49: 22 WIB | editor : Nyoman Suarna

Digelar Saat Hari Pengejukan, Simbolis Ngejuk Celeng Galungan

MEJUK-JUKAN: Puluhan siswa SD diajak bermain mejuk-jukan di Balai Serba Guna Buahan, Senin (17/2). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Bagi umat Hindu di Bali, hari raya Galungan identik dengan mepatung atau memotong babi yang dagingnya diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari lawar, ares, kuah balung, urutan hingga tum. Nah sebelum babi dipotong, biasanya para kepala keluarga akan ngejuk celeng atau menangkap babi itu terlebih dahulu.

PAGI itu Balai Serba Guna Buahan, di Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan tampak dipadati puluhan siswa SD yang menggunakan baju olahraga sekolah dan kamen. Padahal Senin (17/2) mereka sudah libur untuk menyambut hari raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada tanggal 19 Februari 2020 dan 29 Februari 2020.

Setelah ditelusuri, ternyata mereka akan melakukan sebuah permainan tradisional yang bernama mejuk-jukan. Dalam bahasa Indonesia berarti tangkap-tangkapan. Dari pantauan di lapangan, ada beberapa tim yang telah mereka bentuk, dimana satu tim beranggotakan 4 orang siswa. Siswa laki-laki dan wanita dibuat berbeda grup. Permainan tersebut dipandu oleh seorang pria paruh baya. Ia adalah I Wayan Sumerta Dana Arta, salah seorang pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan yang juga wakil Desa Adat Buahan.

Menurut Sumerta Dana, permainan tradisional mejuk-jukan yang digagasnya tersebut diharapkan dapat mengangkat budaya lokal, utamanya menjelang hari raya Galungan. Dimana dua hari menjelang Galungan disebut dengan hari Pengejukan, saat itu umat Hindu melakukan kegiatan ngejuk celeng atau menangkap babi sebelum pada hari Penampahan babi tersebut dipotong.

"Zaman dulu pada hari pengejukan, para orang tua khususnya para ayah, ngejuk celeng, kemudian anak-anaknya sering kali ikut dan saat bertemu teman-temannya mereka bermain seperti halnya para orang tua sedang ngejuk celeng," ujar pria yang kerap dipanggil Wayan Mochoh itu.

Hal itulah yang kemudian melatarbelakanginya menciptakan permainan mejuk-jukan, agar anak-anak zaman sekarang bisa turut merasakan kebiasaan yang dilakukan saat zaman dahulu yang pada zaman sekarang ini sudah jarang dilakukan oleh anak-anak, apalagi dengan kemajuan teknologi, anak-anak lebih suka bermain gadget.

"Kemudian belakangan ini, saya pulang dari rantau, ingin melestarikan permainan tradisional, akhirnya rekontruksi lagi dan saya ajak anak-anak di sini. Intinya mencoba menciptakan sistem permainan, juga biar ada sistem kompetitifnya dan juga saya ciptakan lagu untuk mengiringi," paparnya.

Pria yang lama merantau di Lampung itu menambahkan, didalam lagu-lagu tersebut juga berisi kritik sosial. Adapun lirik lagunya 'Biin puan Galungan jani jalan ngejuk celeng, melahang mejaga apang tusing kena kajet, nyen kalah mesut iya lakar dadi celeng'. (Lagi dua hari Galungan, mari kita menangkap babi, berjagalah yang bagus, agar tidak kena tendang babi. Siapa yang kalah dia akan jadi babi).

"Artinya mengingatkan bahwa dua hari sebelum Galungan itu ngejuk celeng, bukan nampah. Kemudian agar jangan sampai kena kajet atau ditendang babi,” kata dia. “Sebab kita yakini sekarang ini turunnya Sang Kala Tiga dan kebetulan Sang Buta Dungulan beliau mempengaruhi sifatnya jadi kalau kita terpengaruh dengan unsur yang jelek maka kena kajet lah kita," sambung Wayan Mochoh.

Di samping itu secara filosofis, pada saat hari Penampahan Sang Buta Amangkurat harus ditampah, yang artinya membunuh sifat kebinatangan. Sehingga sembari lagu itu dilantunkan oleh anak-anak, ia juga bisa menjelaskan makna dari lagu tersebut. "Lagu itu saya ciptakan sendiri diiringi dengan instrumen rindik atau tingklik dan sebenarnya permainan ini lebih seru dimainkan di sawah, ada lumpurnya. Tapi sebenarnya dimana saja bisa," imbuhnya.

Ia pun menjelaskan sistem permainan mejuk-jukan tersebut. Satu grup terdiri dari 4 orang, dimana 4 orang tersebut kemudian mesut atau suit. Anak yang kalah akan menjadi celeng, dan tiga orang lainnya berperan ngejuk atau menangkap. Cara ngejuk celengnya juga tidak bisa sembarangan, yakni harus dari arah belakang dengan memegang bagan pinggang kebawah. Kenapa empat orang? Karena umat Hindu mempercayai bahwa setiap orang yang terlahir ke dunia bersama 4 saudara atau nyama sehingga harus saling menjaga.

Dalam permainan kali ini, ia melibatkan 64 orang siswa SDN 1 Buahan mulai dari kelas 3 hingga 6. Seluruhnya dibagi dalam 16 grup, 9 grup laki-laki dan 7 grup perempuan. "Yang jadi celeng harus terus berlari agar tidak ditangkap. Kalau salah cara nangkapnya, pengejuknya kalah. Arealnya bebas, tapi tidak terlalu sempit agar bebas bergerak dan bebas mengelak," tuturnya.

Dengan adanya permainan tradisional ini, dia berharap kedepan bisa disisipkan dalam pendidikan karakter. Terlebih saat ini dalam pendidikan diberlakukan kurikulum 2013. Hal ini pun telah ia lakukan sejak 3 tahun belakangan ini, bahkan ia juga menjadi relawan PAUD, TK, SD untuk memberikan permainan tradisional. "Untuk pendidikan karakter, kami lakukan agar mereka tak hilang jati diri. Apalagi sekarang sudah ada HP, agar sikap sosial tidak hilang. Kita saja kadang lupa dan berkurang sosialnya kalau sudah fokus pada gadget," pungkasnya. 

Sementara itu, salah satu peserta permainan, Kadek Lanang Adi Cahya, siswa kelas 6 SDN 1 Buahan mengaku sangat senang bisa ikut bermain dalam permainan menjuk-jukan tersebut. "Sangat seru, bisa main sama teman-teman dan mengenal permainan tradisional," ujarnya.

Suara peluit pun mengakhiri permainan tradisional yang sangat seru tersebut, sebagai pertanda jika babi telah tertangkap.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia