Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

KEREN, Ada Alat Pencacah Sampah Plastik di Pura Luhur Batukau

21 Februari 2020, 11: 40: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

KEREN, Ada Alat Pencacah Sampah Plastik di Pura Luhur Batukau

PENCACAH PLASTIK : Alat pencacah sampah plastik milik Bhakti Ring Pertiwi yang diletakkan di Pura Luhur Batukau. (ISTIMEWA)

Share this      

Selama Karya Agung Pengurip Gumi Pura Luhur Batukau, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan berlangsung , sampah plastik menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Tapi tenang, sebuah alat untuk mencacah sampah plastik kini stand by untuk mencacah sampah plastik utamanya botol bekas air mineral.

 

DEWA RASTANA, Tabanan

 

SEBAGAI komunitas yang memulai gerakan dengan membersihkan aliran sungai di wilayah Penebel dari sampah, Bhakti Ring Pertiwi juga ikut berpartisipasi dalam mensukseskan Karya Agung Pengurip Gumi di Pura Luhur Batukau yang puncak karyanya berlangsung Kamis (20/2).

Bhakti Ring Pertiwi menyiapkan satu unit alat pencacah sampah plastik yang ditempatkan di sebelah timur Sekretariat atau Humas Pura Luhur Batukau. Setiap harinya alat itu dioperasikan untuk mencacah sampah plastik yang ada di kawasan Pura Luhur Batukau.

Sebab dalam Karya yang persiapannya sudah dilakukan sejak jauh hari tersebut banyak pemedek yang tangkil sehingga sampah plastik tak bisa dianggap sepele, selain juga digunakan untuk rangkaian upacara dan kelengkapannya. Sehingga sampah - sampah dikumpulkan dan dipilah oleh berbagai grup relawan kemudian sampah plastik akan dicacah.

Gede Sindu Pradnyana, salah satu anggota Komunitas Bhakti Ring Pertiwi mengatakan bahwa awal mulanya terfikirkan untuk membuat alat pencacah plastik itu adalah lantaran setiap melakukan aksi bersih-bersih sungai, pihaknya merasakan selalu ada sampah-sampah baru. Sehingga saat dievaluasi pihaknya menyimpulkan jika sampah-sampah itu datangnya dari desa-desa yang ada disepanjang aliran sungai. "Maka dari itu kita berfikir bagaimana cara mengurangi sampah ditingkat desa ini, paling tidak sampah yang dihasilkan desa tidak sampai keluar desa," ujar pria yang akrab disapa Gede Sleeper tersebut.

Pihaknya pun melakukan sosialisasi ke desa-desa dan akhirnya mencoba mencari solusi lain dengan menyediakan mesin pencacah sampah plastik. Sehingga dalam sosialisasi, pihaknya akan mempertegas agar masyarakat mau memilah sampah dan sampah plastiknya akam dicacah menggunakan alat pencacah plastik. "Kebetulan saya ikut bank sampah jadi tahu lah sedikit-sedikit yang menurut saya bisa jadi solusi, jadi masyarakat yang masih enggan memilah sampahnya kita tegaskan kalau sampah plastiknya akan kita cacah dengan alat pencacah sampah plastik," paparnya.

Akhirnya Bhakti Ring Pertiwi bekerjasama dengan komunitas peduli lingkungan di Gianyar dan salah satu bengkel mesin cacah plastik di Denpasar untuk membuat sebuah alat pencacah sampah plastik untuk dapat mengedukasi masyarakat, bukan untuk menyelesaikan sampah. "Jadi tujuan awalnya untuk mengedukasi masyarakat, dan kita awali melalui Karya Pengurip Gumi ini, dengan mengurangi penumpukan sampah plastik yang ada di Pura Luhur Batukau selama karya ini. Dan siapa tahu ada desa yang berminat," imbuhnya.

Pria asal Banjar Sakenan Belodan, Desa Delod Peken, Tabanan menambahkan jika alat pencacah sampah plastik tersebut setelah rampung dibuat langsung dibawa ke Pura Luhur Batukau tanggal 17 Februari 2020 lalu dan langsung diupacarai Ulap Ambe. Sejak hari ini alat pencacah sampah plastik tersebut bisa mencacah 50 kilogram plastik berbagai jenis selama 1 jam. Atau 10 karung sampah plastik bisa menjadi 1 karung setelah dicacah. Setiap harinya ada operator dari Komunitas Bisa Terbiasa yang stand by untuk mengoperasikan alat tersebut. Sejauh ini hasil cacahan rencananya akan dibuat papan plastik. 

Hanya saja dalam pembuatan alat pencacah sampah plastik itu pihaknya sempat menemui kendala yakni pada biaya. Menurut Gede Sleeper pihaknya menghabiskan biaya Rp 50 Juta dalam pembuatan alat tersebut termasuk rumah bordesnya. Biaya tersebut ia dapatkan secara swadaya dari Komunitas Bhakti Ring Pertiwi dan Bali Rare Madu Raksa, alias tidak ada bantuan dari pemerintah. "Kendalanya hanya itu saja, rencananya nanti alat ini kita bawa ke pura-pura Kahyangan Jagat untuk Ngayah sekaligus untuk edukasi," pungkasnya. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news