Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Penyakit Babi di Karangasem Mewabah ke Lima Desa

21 Februari 2020, 20: 32: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Penyakit Babi di Karangasem Mewabah ke Lima Desa

BERSIH-BERSIH: Petugas Puskeswan Manggis menyemprot desinfektan di kandang babi milik warga di Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Jumat (21/2). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Dinas Pertanian (Distan) Karangasem mencatat wabah yang mendera peternak babi telah meluas ke lima desa. Sebelumnya hanya tiga desa yang dipantau Distan Karangasem terkait fenomena babi mati mendadak.

Meski begitu, pemerintah menegaskan babi yang mati belum dapat disebut akibat terserang virus. Walaupun sejumlah peternak mencurigai ciri-cirinya mengarah ke ASF. 

"Belum tentu. Kita bisa katakan itu kena (flu babi) jika hasil uji lab menyatakan positif. Dan kami tidak bisa katakan ini kena ASF. Belum tentu," tegas Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Karangasem I Made Ari Susanta.

Pejabat asal Kelurahan Karangasem itu menyebutkan kasus kematian babi terjadi di lima desa. Di antaranya Desa Besakih, Ababi, Amerta Bhuana, Manggis (Yeh Poh), dan Tenganan. Petugas masih melakukan pemantauan dan investigasi di Tenganan dan Amerta Bhuana, sedangkan tiga lainnya masih menunggu hasil identifikasi laboratorium Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar. 

"Dari laporan, jumlah babi yang mati mendadak sebanyak 50 ekor. Sedangkan untuk kematian babi di Desa Tenganan masih dilakukan investigasi petugas. Informasinya ada belasan ekor babi yang mati indukan dan anak," terang Ari.

Peternak saat ini hanya bisa mencegah penyebaran virus dengan menerapkan pengamanan kandang secara ketat atau bio security. Peternak wajib memperhatikan lalu lintas orang maupun perlengkapan peternakan agar tidak masuk kandang sembarangan. Termasuk memperhatikan lingkungan sekitar kandang, hingga kebersihan kandang. 

Partikel atau virus yang dicurigai ASF pun bisa bertahan dalam kondisi apapun. Selain itu penyemprotan desinfektan dan pemberian vitamin dapat dilakukan. "Jadi partikelnya bisa bertahan di pakaian. Untuk sementara jangan masuk kandang sebelum keadaan bersih. Apalagi usai datang dari daerah terjangkit," papar Ari seraya menyebut petugas Puskeswan sudah turun ke daerah terjangkit melakukan penyemprotan desinfektan.

Di hubungi terpisah, Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa menyayangkan kasus babi mati telah meluas hingga ke lima desa di Karangasem. Meski belum mendapat informasi secara pasti, Suyasa berencana menemui Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri guna membahas persoalan penyebaran wabah babi dan mencarikan solusi menyelamatkan para peternak.

"Karangasem sebagai garda terakhir yang kami harapkan bisa menjaga babi Bali, ternyata terdampak juga. Tentu kami menyesali. Apalagi ini yang mengalami adalah peternak rakyat. Tapi kami tidak mau menyalahkan siapa. Kita akan cari solusi terbaik sembari bio security itu diterapkan," kata Hari Suyasa.

Dirinya mengaku baru mengetahui hanya tiga desa yang terdampak wabah babi. "Salah satunya di Besakih. Memang kami koordinasi dengan dinas di Karangasem bisa dipastikan mirip cirinya dengan kasus yang mewabah di daerah lain. Ini akan kami bahas bersama pemerintah setempat dan tidak cukup satu instansi saja yang menangani," pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia