Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

ST Danginpeken, Satukan Sang Hyang Penyalin dan Bhanaspati Raja

21 Februari 2020, 20: 43: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

ST Danginpeken, Satukan Sang Hyang Penyalin dan Bhanaspati Raja

PENYALIN : I Wayan Hendrawan bersama rekannya sedang menggarap ogoh-ogoh dari rotan atau penyalin. Ogoh – ogoh ini karya Seka Truna Danginpeken, Sanur Kauh. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Unik, kreatif dan alami, begitulah yang tampak dari ogoh-ogoh yang dibuat Seka Teruna Banjar Danginpeken, Sanur Kauh. Di bawah bimbingan I Wayan Hendrawan alias Apel, ogoh-ogoh berbahan rotan ini sudah tergarap 80 persen. Body ogoh-ogoh semuanya berbahan rotan, sedangkan tapel atau bagian wajah dibuat dari kertas koran dan tanah liat.

Di bagian kepala terdapat ornamen bunga sebagai hiasan makhota yang terbuat dari kelopak batang pisang yang sudah kering dan kelopak bambu. Benar-benar alami. Ogoh-ogoh dengan perwujudan Bhanaspati Raja ini pun tampak gagah. Cengkraman kaki bagian bawah terlihat sangat kuat. Begitu pula gambaran otot kaki dari tumpukan rotan, tersusun menyerupai otot-otot yang kekar.

Ide pembuatan ogoh-ogoh yang mengusung tema Sang Hyang Penyalin ini bermula dari pembuatan instalasi ruangan. Apel Hedrawan menyebutkan, saat itu ia tengah membuat project instalasi. Lalu rotan yang dipakai tersisa. Agar tidak terbuang sia-sia, Apel kemudian berinisiatif menuangkannya dalam sebuah karya. Ogoh-ogoh adalah hal yang melintas di pikirannya saat ingin memanfaatkan rotan sebagai sebuah karya. “Awalnya sih begitu. Supaya tidak terbuang saja. Maka ya saya buat saja ogoh-ogoh sama muda-mudi sini,” tuturnya saat ditemui di rumahnya.

Nantinya ogoh-ogoh Bhanaspati dengan konsep Sang Hyang Penyalin ini tidak lagi diberi warna layaknya ogoh-ogoh yang lainnya. Warna alami rotan akan tetap diperlihatkan. Hanya saja saat finishing akan divernis agar warna lebih menyatu dengan bagian kepala. “Nanti ya saya biarkan saja begitu. Biar alami. Tidak usah lagi ditambah ornamen lain. Nanti sedikit divernis biar nyambung sama tapelnya,” sambung Apel.

Ogoh-ogoh karya Apel Hendrawan ini pun minim bugdet. Ia memprediksi anggaran yang digunakan kurang dari Rp 20 juta. “Tak perlu mahal. Biar sederhana, yang penting bermakna,” ujarnya.

Tak ada kendala yang berarti dalam pembuatan ogoh-ogoh tersebut. Dalam jangka waktu satu bulan, ogoh-ogoh itu hampir rampung dikerjakan. “Susahnya  cuma saat penganyaman. Rotan itu kan kaku. Tapi bisa diolah biar tidak patah. Mengerjakannya lebih baik sendiri atau berdua. Kalau berbanyak, nanti tambah susah. Ya gampang-gampang susahlah,” imbuh seniman lukis yang juga seniman tatto ini.

Ditanya alasan mengusung tema Sang Hyang Penyalin, Apel Hendrawan menjelaskan, Sang Hyang Penyalin merupakan tradisi sakral dari Desa Bugbug, Karangasem. Tarian tersebut dikenal sebagai tarian pengundang hujan dan simbol kesuburan. Tradisi ini pun diyakini telah ada sejak era pra Hindu. Sesuai namanya, tarian Sang Hyang Penyalin ini menggunakan Penyalin (rotan, Red) sebagai media utamanya. Namun rotan ini memiliki kekuatan magis di luar nalar. Karena bergerak-gerak sendiri tanpa harus dikomandoi saat ditarikan.

Rotan yang ujungnya berisi gangsing dan tetuesan janur itu seolah hidup. Bergerak-gerak, berputar maju mundur, meliuk-liuk tanpa komando. Persis seperti ular yang hendak mematuk. Sangat terlihat garang.

Makna dari tradisi sakral Sang Hyang Penyalin ini direpresentasikan dalam wujud ogoh-ogoh yang akan diarak pada malam pengrupukan atau malam sebelum hari raya Nyepi. Ogoh-ogoh tersebut merupakan simbol dari bhuta kala. Sementara Sang Hyang Penyalin, merupakan simbol widyadara dan widyadari. Simbol-simbol tersebut dipersatukan dalam wujud Bhanaspati Raja dengan harapan kesuburan bumi akan berkembang tanpa gangguan dari para bhuta. Selain itu, ogoh-ogoh itu sebagai simbol keseimbangan alam semesta.

Sebelumnya ia juga pernah membuat ogoh-ogoh berbahan sterofom yang berhasil menjadi juara 1 dan juara favorit di tahun 2016. Tema ogoh-ogoh saat itu adalah Angrebut Tirta Amerta. Namun kini ia belum tahu apakah ogoh-ogoh karyanya bersama muda-mudi Banjar Danginpeken akan dilombakan atau tidak.

(bx/bay/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia