Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Ulat Grayak Serang Tanaman Jagung Petani Tejakula dan Gerokgak

21 Februari 2020, 21: 11: 50 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ulat Grayak Serang Tanaman Jagung Petani Tejakula dan Gerokgak

ULAT: Kadis Pertanian Buleleng, Made Sumiarta menjelaskan soal hama ulat yang menyerang puluhan hektare lahan jagung. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tanaman jagung seluas 19 hektar yang berlokasi di Kecamatan Tejakula dan Gerokgak terserang hama ulat grayak. Rata-rata hama ini menyerang tanaman jagung yang berumur dua hingga tiga minggu.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng Made Sumiarta mengklaim, Dinas Pertanian telah melakukan penanganan hama ulat grayak tersebut. Sumiarta menyebut, serangan ulat grayak yang memiliki nama latin spodoptera frungiperda ini sudah dilaporkan petani jagung sejak sepekan terakir

 “Luasan tanam yang terserang sekitar 10 hektare di Kecamatan Gerokgak, di Kecamatan Tejakula juga ada sekitar 9 hektare. Tetapi setelah dilaporkan petani kami bersama tim provinsi juga sudah turun untuk melakukan pengendalian hama,” ujar Sumiarta, Jumat (21/2) siang.

Menurutnya, luas lahan jagung yang terserang ulat grayak, sejauh ini masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan luasan total lahan jagung di Buleleng seluas 129 hektare tersebar di Kecamatan Gerokgak, Seririt dan Tejakula. Namun Dinas Pertanian, menurutnya, tak boleh lengah, karena menurut Sumiarta, ancaman serangan ulat grayak sangat mengkhawatirkan karena dapat bergerak cepat dalam merusak tanaman jagung.

Lanjutnya, petani yang tanaman jagungnya terserang hama dibantu pengendalian awal dengan pemberian pestisida. Sehingga hama yang menggerogoti daun hingga tongkol janggung dapat dikendalikan.

Selama ini, sambung Sumiarta, lahan tanaman jagung di Buleleng memang banyak ditemui di lahan bertekstur kering. Sebagian besar petani yang menanam jagung menggunakan air tadah hujan sebagai sumber pengairan.

“Memang tanaman jagung baru ditanam petani di daerah-daerah kering saat musim hujan mulai turun. Seperti sekarang ini sudah mulai tumbuh bahkan ada yang sudah mulai panen jagung muda,” jelas dia.

Petani jagung di Buleleng, sejauh ini, memang memilih mengembangkan jagung jenis hibrida dengan varietas Bisi 2. “Karena memang cocok ditanam di lahan kering, varietas Bisi 2 ini memiliki keunggulan satu tanaman bertongkol dua, sehingga produktivitasnya lebih tinggi dari varietas jagung lainnya,” pungkasnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia