Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Dulu Tanaman Liar, Kini Kula-kula Dikembangkan di Desa Belatungan

23 Februari 2020, 19: 59: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dulu Tanaman Liar, Kini Kula-kula Dikembangkan di Desa Belatungan

BUDIDAYA : Salah seorang petani desa Belatungan saat menunjukan tanaman porang atau kula-kula yang ditanam di kebun kopi. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Dahulu kala tanaman porang atau Kula-kula tak begitu dilirik, namun kini tanaman ini memiliki peluang yang cukup besar untuk diekspor. Atas peluang tersebut, sejak akhir tahun 2019 lalu, sejumlah petani di Desa Belatungan Kecamatan Pupuan, Tabanan, mulai mengembangkan tanaman tersebut.

Kini hampir setiap petani mulai mencoba membudidayakan puluhan bahkan ratusan tanaman Porang di kebun mereka masing-masing. Total ada puluhan ribu tanaman yang ditanam oleh petani di Desa Belatungan. Tanaman itu juga dikenal dengan sebutan tanaman Kula-kula.

Menurut I Wayan Sudiada, salah seorang petani asal Banjar Dajan Ceking, Desa Belatungan, selama ini tanamam kula-kula dianggap tanaman liar karena banyak tumbuh di hutan-hutan atau kebun kopi milik penduduk. Bahkan dianggap sebagai makanan ular.

Kata dia tanaman Porang atau Kula-kula memiliji daun yang lebar, memiliki ujung runcing dan berwana hijau muda dengan batang halus dan berwarna belang-belang hijau putih. Pada setiap pertemuan cabang Kula-Kula terdapat  bubil warna coklat yang nantinya menjadi  bibit porang. “Kula-Kula ini punya umbi, tapi tidak bisa dikonsumsi langsung karena harus diolah terlebih dulu kalau tidak akan gatal-gatal," ujarnya Minggu (23/2).

Ditambahkannya jika tanaman kula-kula mulai dikembangkan oleh masyarakat Desa Belatungan karena umbinya mulai ada yang membeli. Untuk harga jualnya sendiri di tingkat petani mencapai Rp6.000 per kilogramnya. “Waktu itu kami masih mengambil dari tanaman kula-kula yang tumbuh liar. Kalah sekarang petani di banjar kami mulai banyak yang mencoba membudidayakan kula-kula atau porang ini,” imbuhnya.

Melalui media internet masyakarat Desa Belatungan pun gencar mencari informasi tentang tanaman porang tersebut. Saat ini mereka mulai mengetahui umbi porang banyak dicari untuk di ekspor ke beberapa negara seperti Tiongkok, Australia dan Vietnam. Bahkan permintaan ekspor umbi porang mencapai belasan ribu ton. “Informasinya umbi kula-kula (porang) diolah menjadi bahan baku kosmetik dan bahan pangan,” tuturnya.

Dari sana lah masyarakat Desa Belatungan menjadi tertarik dan mulai membudidayakan tanaman itu secara luas dengan sistem pertanian tumpang sari di bawah tanaman kopi. Sejauh ini warga saling berbagi bibit dan sebagian masih menanam dengan skala kecil-kecilan. "Kalau dari awal tanam, porang ini baru bisa dipanen pada usia tiga tahun dan selanjutnya anakan akan tumbuh sendiri dan bisa panen setiap tahun," pungkasnya.

Sementara itu berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian mencatat, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 Miliar. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor, yakni Jepang, Tiongkok, Vietnam, dan Australia. Dengan demikian para petani di Belatungan pun tertarik untuk membudidayakan tanaman tersebut.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia