Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
OBITUARI

Jro Ramia; Veteran yang Ahli Perbaiki Posisi Janin Itu Berpulang

15 Maret 2020, 21: 40: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jro Ramia; Veteran yang Ahli Perbaiki Posisi Janin Itu Berpulang

Jro I Nyoman Ramia (ISTIMEWA)

Share this      

Indonesia kehilangan satu lagi tokoh veteran. Ia adalah I Nyoman Ramia. Kakek kelahiran 1927 ini berpulang, Minggu (15/3). Sosoknya tak akan bisa dilupakan oleh keluarga, terlebih orang-orang yang pernah ditolongnya. Sebab, Ramia bukan sekadar veteran pejuang semasa pendudukan Jepang. Melainkan seorang tukang pijit tradisional khusus kandungan, yang kini mulai langka. Seperti apa kisahnya?

SURPA ADISASTRA, Mangupura

NAMA Jro Nyoman Ramia, tak asing di masyarakat Banjar Sedahan, Mengwi, Badung, Bali. Ia adalah veteran pejuang zaman pendudukan Negeri Matahari Terbit. Salah satu petugas logistik. Mengirim persenjataan ke Desa Carangsari, Petang. Namun di masa kemerdekaan, ia lebih diingat dengan sosoknya sebagai 'penyembuh'. Banyak orang yang ditolongnya. Terutama yang bermasalah dengan perut. Ibu hamil yang mengalami masalah posisi janin, hingga membantu melahirkan.

"Dulu, kakek bisa ke tempat jauh jika ada yang membutuhkan pertolongan. Seperti ke Tabanan, naik sepeda," tutur salah satu cucu almarhum, I Gede Dwipayana.

Dwipayana sejak kecil sudah terbiasa melihat sang kakek melakukan pengobatan. Meski tak mendampingi kesehariannya, ia tak jarang memperhatikan Ramia ketika melayani pasien. "Beliau membantu yang melahirkan. Selain itu memperbaiki posisi janin, jika tak sesuai," kata Kelian Dinas Banjar Sedahan ini.

Ramia konon sudah belajar teknik meminat sejak muda. Bahkan menjelang wafat, ia masih menekuni profesi tersebut. "Kalau tidak salah, beliau mulai memijat sejak umur 21, setelah menikah. Menjelang beliau berpulang, juga masih tetap melayani pasien," ujarnya.

Tak hanya orang luar, Ramia menjadi andalan keluarga. Bila ada anggota keluarga yang sakit, ia meluangkan waktu untuk mengobati.  "Seperti saya sempat mengeluh sakit perut, Beliau langsung memijit," kata pria 41 tahun ini.

Sayangnya, meski ahli dalam teknik pijat area perut, Ramia di masa tua justru terserang hernia. Sempat direncanakan operasi, namun khawatir dengan usianya yang senja. Kurang tujuh tahun mencapai seabad. Akhirnya, seminggu belakangan kondisinya drop. Perlahan kesadarannya menurun. Bahkan mulai tak mau makam. Takdir tak dapat ditentang, salah satu putra 'Gumi Keris' ini pun kembali ke pangkuan Hyang Kuasa. "Meninggal sekitar pukul 08.30," imbuhnya.

Soal pesan, Dwipayana mengaku tak sempat mendengar. Lantaran sedang tirtha yatra ke Pulau Menjangan. Ia pun berangkat, Sabtu (14/3). Namun istrinya sempat bermimpi. "Tak ada firasat apa-apa. Tapi istri saya sempat bermimpi, saya dihadang anjing hitam agar tak berangkat tirtha yatra," katanya.

Almarhum berputra lima dan berputri dua orang. Ada puluhan cucu. Bahkan sejumlah buyut atau cicit. Adapun upacara pangabenan suami almarhumah Ni Ketut Satra ini akan digelar Selasa (17/3). Tempatnya di Setra Dalem Gulingan Gede. Sebagai veteran, juga akan digelar penghormatan terakhir ala militer.  "Rencananya ada (upacara militer, Red). Tadi kami sudah berkoordinasi," tandas Dwipayana. (*)

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news