Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Soal Ogoh-Ogoh, Pemuda Sebut Bupati Tak Sejalur dengan Gubernur

19 Maret 2020, 18: 16: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Soal Ogoh-Ogoh, Pemuda Sebut Bupati Tak Sejalur dengan Gubernur

RAPAT : Suasana paska rapat terkait pawai ogoh-ogoh di Kantor Camat Sukawati, Kamis (19/3). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sehari paska Keputusan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Gianyar melarang pawai ogoh-ogoh di seluruh Gianyar, Kamis (19/3) kembali digelar rapat koordinasi di masing-masing kantor camat. Menyikapi kebijakan Bupati Made Mahayastra, perwakilan pemuda menyebutkan kebijakan itu tidak sejalur dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Sekaa Teruna Teruni, Banjar Gede, Desa Batuan, Sukawati, Dewa Dwi Putrayana, mengaku kecewa atas hasil rapat yang dipimpin oleh Camat Sukawati tersebut. “Yang kami khawatirkan, antusias masyarakat melihat-lihat ogoh-ogoh keluar kota. Karena di Denpasar, Tabanan, dan kabupaten lain tetap mengarak ogoh-ogoh,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku apabila ingin memutus inkubasi Covid 19, justru memindahkan keramaian dari Gianyar ke kota lain. Ia pun bingung dengan keputusan para kepala daerah di Bali. “Keputusan pelarangan pengarakan ogoh-ogoh tidak sinkron dari Gubernur dan Bupati Gianyar. Kalau se-Bali tidak ada ogoh-ogoh, kami tidak khawatir. Kalau Gianyar saja disayangkan, karena tidak sinkron antar bupati dan gubernur,” ungkapnya.

Disinggung dengan ogoh-ogoh yang sudah jadi, pemuda di desanya sudah mengeluarkan dana Rp 7 juta. “Yang sudah jadi, bisa dipakai tahun depan. Atau bisa dijual tahun depan. Habis dana Rp 7 juta. Saat ini tentu kami kecewa, karena sudah buat dengan  waktu, tenaga, dan biaya,” paparnya.

Sedangkan Wakil Bendesa Semampan, Desa Kemenuh, Sukawati, Ketut Darsana menyatakan keputusan mengenai pembatasan Melasti sedikit membingungkan. Dari pemerintah menganjurkan Ngubeng (Upacara jarak jauh). “Kalaupun Ngubeng (tidak ke pantai), atau di pura, tetap saja menghadirkan banyak masa. Itu bisa 10 ribu masyarakat hadir sembahyang saat Melasti,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news