Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kecewa dengan Larangan, STT Peteluan, Temesi Pilih Bakar Dua Ogoh-Ogoh

19 Maret 2020, 21: 37: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kecewa dengan Larangan, STT Peteluan, Temesi Pilih Bakar Dua Ogoh-Ogoh

DIBAKAR: Ogoh-ogoh STT Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar saat dibakar, Kamis (19/3). (ISTIMEWA)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Sekaa Teruna Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar memilih membakar ogoh-ogohnya yang sudah rampung, Kamis (19/3). Mereka kecewa lantaran adanya arahan terkait peniadaan pengarakan ogoh-ogoh saat Pengrupukan sesuai hasil rapat koordinasi yang dilakukan oleh Bupati Gianyar.

Kelihan Adat Banjar Peteluan, Desa Temesi, Pande Ketut Subakti menjelaskan pemudanya memang sengaja membakar ogoh-ogoh karena merasa kecewa dengan imbauan yang dikeluarkan oleh Bupati Gianyar. Supaya tidak terus dilihat oleh sekaa terunanya, tanpa diizinkan mengarak, sehingga mereka memilih membakar ogoh-ogoh yang sudah rampung 90 persen tersebut.

"Dengan imbauan hasil rapat kemarin di Polres, ogoh-ogoh tidak boleh diarak. Selanjutnya kami mengadakan rapat di desa adat. Menghasilkan tidak diadakannya pengarakan ogoh-ogoh tahun ini karena sesuai himbauan tersebut," jelasnya saat dikonfirmasi.

Lanjut Pande Subakti, "Mereka (pemuda, Red) kecewa dari hasil rapat. Kekecewaannya dilampiaskan dengan membakar ogoh-ogoh. Supaya tidak setiap hari hanya bisa melihat ogoh-ogohnya. Kesimpulan mereka sekalian dibakar saja agar tidak ada yang dilihat. Dua ogoh-ogoh dibakar, satu yang besar dan satunya ukuran kecil," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Pande Subakti menambahkan saat Tawur Sasih Tilem Kesanga nanti pihaknya akan cukup melakukan pecaruan saja. "Nanti pas tawur kesanga tidak ada ogoh-ogoh, sepakat hanya mecaru saja di perempatan," tandasnya.

Sedangkan hasil rapat koordinasi di Polres Gianyar pada Rabu (18/3), Bupati Mahayastra menegaskan tahun ini pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan sebagai upaya pencegahan virus korona. Ogoh-ogoh yang terlanjur dibuat atau sudah selesai dibuat tetap diupacarai dan dihadirkan di catus pata wilayah masing-masing.

"Saya harap semua masyarakat dapat mentaati ketentuan dalam surat edaran tersebut dan untuk pengarakan ogoh-ogoh tahun ini ditiadakan cukup diupacarai saja," tandasnya.

PENJELASAN DARI BUPATI GIANYAR MADE AGUS MAHAYASTRA DAN PERBEKEL TEMESI, NYOMAN SEPARTA 

Penjelasan ini diberikan Jumat, 20 Maret 2020

ST Peteluan Bakar Ogoh-ogoh Bukan Protes, tapi Ikuti  Imbauan Bupati

GIANYAR, BALI EXPRESS – Bupati Gianyar, Made Mahayastra dalam upaya pencegahan penyebaran virus korona tidak main-mian. Pasalnya secara tegas ia memberikan himbauan agar pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan demi keselamatan masyarakatnya dari virus yang mematikan tersebut. Sedangkan dengan salah satu Sekaa Teruna di Gianyar yang membakar ogoh-ogohnya, itu dikatakan hasil kesepakatan para sekaa teruna.

“Sudah tegas, peserta yang hadir (pemuda, Red) tidak boleh melakukan arak-arakan ogoh-ogoh,” jelas Mahayastra, Jumat (20/3)

Disinggung dengan pembakaran ogoh-ogoh yang dilakukan oleh Sekaa Teruna Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, ia menyampaikan hal itu tidaklah sebgai bentuk protes terhadap kebijakannya. “Iya, kan ogoh-ogoh mereka agar tidak diarak saat Pengerupukan makanya lebih dulu dibakar. Itu Peteluan adalah basis saya, hampir semua masyarakat saya kenal,” terang pria asal Payangan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mahayastra juga menyampaikan dasar yang digunakan sebagai peniadaan pengarakan ogoh-ogoh telah sesuai surat edaran bersama dari Gubernur Bali, Majelis Desa Adat, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali. Yang tertanggal (17/3), khusus di Gianyar, Mahayastra menggunakan dasar poin enam, dan sub a. Tertulis pengarakan ogoh-ogoh bukan rangkaian Hari Suci Nyepi, sehinga tidak wajib dilaksanakan. Oleh karena itu pengarakan ogoh-ogoh sebaiknya tidak dilaksanakan. “Itu poin satu (poin b, Red) kita pakai di Gianyar,” imbuhnya.

Disinggung dengan polemik di kalangan pemuda, dengan pelarangan pengarakan tersebut ia menyampaikan tidak ada yang protes. Bahkan saat ditanya apakah tidak mempengaruhi suara nanti jika akan menjadikan “AMAN” dua periode, khususnya suara di kalangan pemuda?. Disampaikan tidak ada hubungannya dengan hal tersebut. “Tidak ada hubungannya dengan itu,” tandas Mahayastra.

Sedangkan Perbekel Desa Temesi, Nyoman Separta menjelaskan terkait Sekaa Terunanya yang membakar ogoh-ogoh itu merupakan hasil rapat di Banjar Peteluan. Selanjutnya pemuda di Banjar Peteluan, Desa Temesi dengan kesadaran dan kesepakatan mereka memilih membakar ogoh-ogoh yang sudah rampung dikerjakan agar tidak hanya dapat dilihat saja tanpa diarak.

“Itu dibakar secara sukarela oleh pemuda sesuai hasil rapat, agar tidak lama hanya bisa dilihat makanya dibakar. Sekali lagi itu hasil kesepakatan dan sukarela,” imbuhnya sembari mengaku merasa tidak enak dengan Bupati Gianyar dengan berita pembakaran ogoh-ogoh tersebut.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news