Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

ST Peteluan Bakar Ogoh-ogoh Bukan Protes, tapi Ikuti Imbauan Bupati

20 Maret 2020, 11: 41: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

ST Peteluan Bakar Ogoh-ogoh Bukan Protes, tapi Ikuti  Imbauan Bupati

DISEPAKATI: Sekaa Teruna Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar saat membongkar ogoh-ogoh sesuai kesepakatan, Kamis malam (19/3). (ISTIMEWA)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Bupati Gianyar, Made Mahayastra dalam upaya pencegahan penyebaran virus korona tidak main-mian. Pasalnya secara tegas ia memberikan himbauan agar pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan demi keselamatan masyarakatnya dari virus yang mematikan tersebut. Sedangkan dengan salah satu Sekaa Teruna di Gianyar yang membakar ogoh-ogohnya, itu dikatakan hasil kesepakatan para sekaa teruna.

“Sudah tegas, peserta yang hadir (pemuda,Red) tidak boleh melakukan arak-arakan ogoh-ogoh,” jelas Mahayastra, Jumat (20/3)

Disinggung dengan pembakaran ogoh-ogoh yang dilakukan oleh Sekaa Teruna Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, ( Kecewa dengan Larangan, STT Peteluan, Temesi Pilih Bakar Dua Ogoh-Ogoh ) ia menyampaikan hal itu tidaklah sebgai bentuk protes terhadap kebijakannya. “Iya, kan ogoh-ogoh mereka agar tidak diarak saat Pengerupukan makanya lebih dulu dibakar. Itu Peteluan adalah basis saya, hampir semua masyarakat saya kenal,” terang pria asal Payangan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mahayastra juga menyampaikan dasar yang digunakan sebagai peniadaan pengarakan ogoh-ogoh telah sesuai surat edaran bersama dari Gubernur Bali, Majelis Desa Adat, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali. Yang tertanggal (17/3), khusus di Gianyar, Mahayastra menggunakan dasar poin enam, dan sub a. Tertulis pengarakan ogoh-ogoh bukan rangkaian Hari Suci Nyepi, sehinga tidak wajib dilaksanakan. Oleh karena itu pengarakan ogoh-ogoh sebaiknya tidak dilaksanakan. “Itu poin satu (poin b, Red) kita pakai di Gianyar,” imbuhnya.

Disinggung dengan polemik di kalangan pemuda, dengan pelarangan pengarakan tersebut ia menyampaikan tidak ada yang protes. Bahkan saat ditanya apakah tidak mempengaruhi suara nanti jika akan menjadikan “AMAN” dua periode, khususnya suara di kalangan pemuda?. Disampaikan tidak ada hubungannya dengan hal tersebut. “Tidak ada hubungannya dengan itu,” tandas Mahayastra.

Sedangkan Perbekel Desa Temesi, Nyoman Separta menjelaskan terkait Sekaa Terunanya yang membakar ogoh-ogoh itu merupakan hasil rapat di Banjar Peteluan. Selanjutnya pemuda di Banjar Peteluan, Desa Temesi dengan kesadaran dan kesepakatan mereka memilih membakar ogoh-ogoh yang sudah rampung dikerjakan agar tidak hanya dapat dilihat saja tanpa diarak.

“Itu dibakar secara sukarela oleh pemuda sesuai hasil rapat, agar tidak lama hanya bisa dilihat makanya dibakar. Sekali lagi itu hasil kesepakatan dan sukarela,” imbuhnya sembari mengaku merasa tidak enak dengan Bupati Gianyar dengan berita pembakaran ogoh-ogoh tersebut.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news