Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Sejarah Ogoh-ogoh (1) di Pagan Kelod, Tanpa Tattwa, hanya Perlawanan

23 Maret 2020, 15: 02: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sejarah Ogoh-ogoh (1) di Pagan Kelod, Tanpa Tattwa, hanya Perlawanan

BURISRAWA : Salah satu ogoh-ogoh dengan judul Burisrawa, garapan Sekaa Teruna Banjar Pagan Kelod. Tahun 1988, Sekaa Teruna Banjar Pagan Kelod meraih juara kedua ogoh-ogoh di Denpasar (foto kanan). (ISTIMEWA)

Share this      

Ogoh-ogoh terlahir di Denpasar, tetapi filisofi dan sejarah kelahiran ogoh-ogoh tidak banyak diungkap, dari mana awalnya. Sejarah ogoh-ogoh di Banjar Pagan Kelod, Desa Sumerta Kauh, Kecamatan Denpasar Timur, mungkin dapat  menjadi titik terang untuk merunut kelahiran patung raksasa yang kini menjadi polemic dalam perayaan Nyepi Tahun Caka 1942. Berikut seperti dikisahkan wartawan Bali Express (Jawa Pos Group), I NYOMAN SUARNA, dengan gaya bertutur.

KEBETULAN saya dilahirkan dan besar di Banjar Pagan Kelod, jadi saya masih ingat perjalanan ogoh-ogoh yang pertama kali dibuat di tempat saya. Saat itu, saya sudah duduk kelas dua SMP Dwijendra Denpasar, sekitar tahun 1979. Saya sudah diikutsertakan dalam setiap kegiatan pemuda banjar, mulai perkumpulan tenis meja, drama gong, termasuk juga pembuatan ogoh-ogoh. Oleh para senior, saat pembuatan ogoh-ogoh, saya dipercaya sebagai tukang tulis para donator yang hendak menyumbang.

Sejarah Ogoh-ogoh di Pagan Kelod, Tanpa Tattwa, hanya Perlawanan (Moch. Iqbal Kurniawan)

Sebenarnya ogoh-ogoh yang lahir di Banjar Pagan Kelod, tidak didasari pada filosofi atau sastra, tetapi hanya sekadar euphoria karena sebuah larangan yang diberlakukan oleh Desa Adat Pagan yang mewilayahi banjar saya saat itu. Pun nama ogoh-ogoh yang dilekatkan terhadap patung raksasa terbuat dari berbagai bahan tersebut, sontak muncul begitu saja. Kami menyebutnya ogoh-ogoh karena melihat benda ini terlihat tergopoh-gopoh saat digoyang atau di-ogah-ogah. Mungkin penilaiannya dari sisi rasa atau perasaan bahasa yang digunakan terhadap benda tersebut, yang oleh budayawan I Gede Anom Ranuara menyebut bahwa huruf vocal ‘O’ memiliki nuasan besar seperti sosok patung berwujud besar. Namun jika ditelusuri dalam Kamus Bahasa Bali yang terbit sebelum tahun 1980-an, kata ogoh-ogoh tersebut tak akan ditemui. Sebagai produk yang lahir tahun tersebut, sudah barang tentu ogoh-ogoh tidak ada dalam tatwa agama. Namun dia terlahir sebagai sebuah budaya baru yang menyertai perayaan Nyepi.    

Ogoh-ogoh di Banjar Pagan Kelod pertama kali dibuat tahun 1979. Kisahnya berawal dari larangan pawai obor oleh desa adat sekitar tiga sampai empat tahunan sebelum 1979. Saat saya masih duduk di bangku SD. Kami tidak diizinkan berkeliling desa untuk melaksanakan upacara mabuu-buu sembari membawa obor. Alasannya karena pawai obor kerap menimbulkan konflik di beberapa desa. Ironisnya, beberapa banjar dari desa tetangga, seperti Desa Adat Sumerta tetap melintas di jalan kawasan banjar kami. Banjar Bengkel dan Banjar Lebah yang masih termasuk banjar pekantian dengan Banjar Pagan Kelod, kerap mengajak kami untuk ikut pawai. Namun karena larangan yang diberlakukan Desa Adat Pagan, kami tak berani mendobrak. Hingga akhirnya pada sebuah pawai obor rangkaian pangerupukan, sekitar 1978, kedua banjar tersebut, kembali melintas di kawasan kami.

Saat itu, Banjar Lebah mengusung sebuah benda, mirip seperti lelakut atau orang-orangan di sawah yang diarak dalam pawai obor. Secarik kain yang diisi kepala (belum berwujud ogoh-ogoh) tersebut, menjadi inspirasi dari kami untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan desa adat, bahwa dalam perayaan Nyepi tahun berikutnya, kami akan melakukan pawai.

Seiring perjalanan waktu, perayaan Nyepi tahun 1979 pun tiba. Kami membahas rencana untuk melakukan pawai obor dalam sebuah obrolan tidak resmi di balai banjar, bukan melalui forum resmi rapat sekaa teruna. Para senior-senior saya, seperti Wayan Mandra, Ketut Marka (almarhum), Kadek Ruda, Nyoman Citra, Kadek Sugamia dan lainnya, sangat antusias mewujudkan keinginan tersebut. Hingga akhirnya kami sepakat untuk meminta sumbangan kepada para donator di lingkungan banjar kami untuk mengeksekusi ide tersebut.

Kadek Ruda, salah seorang seniman pembuat wadah (bale-balean) didaulat mengarsiteki pembuatan patung yang kemudian kami berinama ogoh-ogoh, karena kebetulan dia jebolan Sekolah Seni Rupa Indonesia Denpasar.

Kami mencari kayu bekas sisa bangunan, kertas bekas pembungkus semen, dan koran bekas yang didapat dari warga. Kemudian mencari jerami (somi) di sawah kawasan Carik Demak (milik Puri Satriya, Denpasar) Jalan Jayagiri, sebagai bahan pembuatan ogoh-ogoh. Sementara uang dari para donator digunakan untuk membeli kanji untuk lem, paku dan cat. Tak lupa juga, sisanya dipakai untuk membuat lawar penyu yang saat itu masih legal.

Dua minggu menjelang hari Pangerupukan, kami bergotong royong membuat sebuah patung raksasa. Kala itu kami mencontoh salah satu patung pahlawan yang dipajang di Lapangan Puputan Badung (I Gusti Ngurah Made Agung), membawa tombak dan keris. Selain itu, kami membuat sebuah patung babi yang akan kami gunakan untuk ngarap seperti ngarap lembu.

Proses pembuatan tidak hanya melibatkan para pemuda dan anak-anak menjelang remaja, tetapi juga para orangtua. Sebagai perbandingan, kami mendatangi kawasan Desa Sesetan yang kala itu memiliki tradisi pawai obor dengan tema tertentu. Menurut cerita yang saya simak dari perbandingan tersebut, masing-masing banjar di Desa Sesetan dan sekitarnya mengambil sebuah tema berisi tatanan upacara, mulai upacara bayi baru lahir, menek kelih, potong gigi, pernikahan, hingga pengabenan.

Inilah yang membuat kami makin membulatkan tekad untuk melakukan pawai obor sambil mengusung ogoh-ogoh. Satu lagi yang menginspirasi kami untuk membuat ogoh-ogoh adalah prosesi pengabenan Ida Cokorda Pemecutan  yang disertai sebuah patung pembawa babi guling sebagai pelengkap upacara.

Perjalanan ogoh-ogoh tidaklah berjalan mulus. Menjelang pangerupukan, beberapa pengurus Desa Adat Pagan mendatangi kami ke balai banjar. Mereka meminta kami untuk tidak melaksanakan pawai termasuk melarang ogoh-ogoh. Namun dalam kondisi sedikit memanas, Wayan Madra beserta pemuda lainnya, memberikan jaminan bahwa siap melawan siapa saja yang membendung pawai. Wayan Mandra, adalah salah seorang tokoh pemuda yang cukup disegani, seperti pemimpin ormas saat ini. Akhirnya pihak Desa Adat pun menyerah, tidak berani lagi melarang.

Tiba saat yang ditunggu-tunggu yaitu hari Pangerupukan. Usai membuat lawar penyu dan acara makan di balai banjar, kentongan pun ditabuh bertalu-talu. Semua pemuda dan pemudi menuju balai banjar, membentuk sebuah barisan untuk mengusung ogoh-ogoh. Pertama kali, kami menuju arah selatan menuju Jalan Hayam Wuruk untuk menjemput pemuda Banjar Bengkel, tetapi tidak ketemu. Kemudian kami melanjutkan ke Jalan Nusa Indah (Art Centre) arah utara menuju Jalan Supratman, Banjar Tainsiat, ke selatan Jalan Veteran. Saat itu saya dipercaya sebagai pemain kendang gamelan bleganjur.

Suara gamelan yang keras dan beringas, membuat kami tak kenal lelah mengusung dua patung berkeliling kota Denpasar.  Tak satu pun, selain kami, terlihat membawa patung raksasa mengelilingi rute yang sekarang dikenal dengan nama rute Puputan, jalur elit pawai ogoh-ogoh di Denpasar yang kerap mengundang kemacetan dan antusias penonton.

Tidak berhenti sampai di situ. Setelah kembali ke banjar Pagan Kelod, kami masih mengarak patung itu mondar-mandir di kawasan kami, sebagai wujud protes terhadap kebijakan Desa Adat. Hingga akhirnya menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 pagi, kami kembali mengusung patung jerami tersebut ke Pantai Sanur, diiringi gamelan baleganjur untuk dibakar. Tak ada rasa lelah meski kami harus begadang semalam suntuk dan berjalan sejauh itu. Yang ada adalah kepuasan batin kami dapat menyalurkan inspirasi kami, kembali melaksanakan pawai obor hingga pagi menjelang Nyepi tiba.

Tahun berikutnya 1980, ogoh-ogoh mulai bermunculan. Kami pun mendapat respon positif dari desa, setidaknya mendapat pengawalan pecalang dan prajuru desa. Dan sejak saat itu, tiap tahun ogoh-ogoh makin ramai, hingga akhirnya direspon oleh pemerintah, dengan menggelar lomba tingkat kecamatan.  Lomba pertama dan kedua kami meraih juara satu di Kecamatan Denpasar timur. Tahun 1988, karena persaingan makin ketat, kami berada di urutan kedua. (bersambung)      

(bx/man/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news