Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Cegah Covid-19, Tak Mekemit, Pancasari Tetap Melasti, tapi Terbatas

23 Maret 2020, 16: 22: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Cegah Covid-19, Tak Mekemit, Pancasari Tetap Melasti, tapi Terbatas

TERBTAS: Krama Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada saat melaksanakan upacara melasti, Minggu (22/3) siang. (ISTIMEWA)

Share this      

SUKASADA, BALI EXPRESS - Acara melasti tetap dilaksanakan Krama Desa Adat Pancasari, kecamatan Sukasada pada Minggu (22/3). Namun, melasti kali ini tidak melibatkan banyak orang seperti tahun sebelumnya. Ini merujuk dari instruksi pemerintah pusat untuk melakukan social distancing guna mencegah penularan Covid-19.

Anjuran pembatasan kegiatan yang melibatkan orang banyak benar-benar dilaksanakan oleh Krama Desa Adat Pancasari. Buktinya, melasti kali, yang diijinkan untuk ikut hanya Pinandita, Pemangku Desa, Prajuru Desa dan Sarati Banten.

Melasti melibatkan delapan banjar adat yang ada. Upacara melasti diawali dari Pura Desa Pancasari, sekira pukul 11.00 Wita siang. Selanjutnya Krama bersama-sama menuju Pura Ulun Danu Buyan. Biasanya, krama menuju Pura Ulun Danu Buyan, dilakukan dengan berjalan kaki.

Namun, kali ini dilakukan dengan mengendarai mobil dan sepeda motor. Upaya ini diharapkan dapat mempersempit ruang untuk kontak dengan orang banyak. Acara kali ini diikuti tak lebih dari seratus orang. Bila dibandingkan tahun sebelumnya, melasti selalu diikuti oleh ribuan krama.

“Melasti kali ini memang hanya diikuti sekitar seratus krama saja. mereka dari delapan banjar. Agar mengindari kerumunan, kami sengaja menggunakan kendaraan untuk melasti. Kalau tahun sebelumny biasanya sih jalan kaki yang ikut ribuan,” ungkap Bendesa Desa Adat Pancasari, I Gusti Ngurah Agung Darma Wirata.

Selain tak melibatkan banyak orang, melasti kali ini juga tidak ngemitang (menginapkan, Red) Ida Sesuhunan di Pura Ulun Danu. Namun hanya ngelanus (dituntaskan, Red) dalam sehari. Seluruh tirta yang dimohonkan akan dibagikan oleh juru arah ke masing-masing merajan keluarga.

“Disini, kalau melasti, biasanya isi ngemitang ida sasuhunan di Pura Ulun Danu. Ssoknya baru kembali ke Pura Desa dan Ke merajan masing-masing keluarga. Tahun ini, tidak dilaksanakan pekemitan di Pura Ulun Danu, ngelanus dalam sehari,” imbuhnya.

Menariknya, dalam melasti kali ini, prajuru juga menyemprotkan cairan disinfektan di seluruh tempat suci. Penyemprotan bahkan dilakukan sebelum dan sesudah upacara melasti. “Kami melakukan pencegahan, sehingga memberikan rasa aman bagi seluruh krama yang hadir saat melasti,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news