Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Sejarah Ogoh-ogohh (2) di Pagan Kelod, Euforia Berujung Sengketa

24 Maret 2020, 08: 28: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sejarah Ogoh-ogohh (2) di Pagan Kelod, Euforia Berujung Sengketa

MAHAYANA : Ogoh-ogoh berjudul Mahayana, karya ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod yang salah satu hiasannya (makhota/asesoris) terbuat dari kayu jati belanda, dipajang di sisi utara kawasan Jalan Hayam Wuruk. (ISTIMEWA)

Share this      

Mendapat respons pemerintah, ogoh-ogoh makin marak. Namun sayang, kemarakan itu menimbulkan fanatisme berlebihan, hingga berujung petaka. Tersinggung dengan ulah segelintir orang, perkelahian antar banjar pun tak terelakkan hingga membuat para seniman ogoh-ogoh Banjar Pagan Kelod, Denpasar, terlupakan. Berikut seperti dikisahkan wartawan Bali Express (Jawa Pos Group), I NYOMAN SUARNA, dengan gaya bertutur.

SETELAH beberapa kali perayaan Nyepi, ogoh-ogoh pun makin marak memenuhi sudut-sudut kota dan desa. Tidak hanya di Denpasar, termasuk juga di kabupaten lainnya. Makin banyaknya ogoh-ogoh, membuat persaingan makin ketat. Setelah tiga kali meraih juara terbaik, Pagan Kelod sebagai perintis ogoh-ogoh di Desa Sumerta Kauh perlahan mulai tergeser. Sekaa Teruna Banjar Kelandis yang masih satu desa adat dan desa dinas dengan Banjar Pagan Kelod, mulai mengambil alih posisi. Ogoh-ogoh Celuluk yang dirancang memakai gerakan, meski secara manual dengan menggunakan tali, menggeser nominasi Sekaa Teruna Banjar Pagan Kelod. Tahun berikutnya juga demikian. Bahkan Banjar Pagan Kelod nyaris terlempar sebagai kandidat juara.

Rasa jengah untuk persaingan yang bersifat positif, akhirnya ST Pagan Kelod menimba ilmu ogoh-ogoh kepada Drs. Wayan Candra (almarhum), dari Banjar Lantang Bejuh, Sesetan (Gazes). Kebetulan juga tali silaturahmi antara ST Banjar Pagan Kelod dan Drs. Wayan Candra sudah terjalin sejak lama karena sebagai undagi (tukang) memperbaiki barong landung, sesuhunan di Pura Pangeran Tangkas Kori Agung, Banjar Pagan Kelod. Apalagi Wayan Candra yang terkenal sebagai tukang barong ini, meraih juara terbaik se-Bali dalam lomba ogoh-ogoh serangkaian Pesta Kesenian Bali.

Wayan Candra mengajarkan kepada Sekaa Teruna Banjar Pagan Kelod untuk membuat ogoh-ogoh secara praktis, cepat, dan hemat. Dia menurunkan teknik pebuatan ogoh-ogoh berbahan keranjang dan guwungan siap (sangkar ayam) yang dapat dibeli di pasar. Teknik itu pun dieksekusi para pemuda. Mereka memotong-motong guwungan menjadi ukuran lebih kecil, kemudian dijalin menjadi bentuk tangan, kaki dan badan. Masing-masing bagian ini dibuat terpisah. Setelah rancangan rangka terbuat dari kayu terbentuk, barulah bagian-bagian tangan, kaki dan badan dijalin di rangka kayu hingga menjadi kesatuan utuh dalam bentuk kerangka. Sementara bagian kepala dibuat terpisah.

Keterampilan para pemuda menganyam bulu yang didapat saat pengerjaan barong sesuhunan di Pura Pangeran Tangkas Kori Agung merupakan modal untuk mewujudkan ogoh-ogoh yang diarahkan Wayan Candra. Para pemuda memanfaatkan ijuk yang disulam sedemikian rupa untuk dijadikan bulu ogoh-ogoh. Tidak butuh waktu lama, ogoh-ogoh yang diberi judul Dwaraphala itu pun terwujud beberapa hari menjelang Nyepi. Saat itu, Banjar Pagan Kelod menjadi salah satu barometer ogoh-ogoh di Denpasar, khususnya di Denpasar Timur. Tak pelak, banjar ini banyak dikunjungi orang sebagai pembanding ogoh-ogoh lainnya. Dalam proses penilaian ogoh-ogoh tahun 1990, predikat juara satu kembali diraih.

Mempertahankan gelar juara cukup menyita pikiran para pemuda. Sukses dengan ogoh-ogoh berjudul Dwaraphala, pada saat perayaan Nyepi tahun 1991, ST Banjar Pagan Kelod kembali berharap mempertahankan gelar juara satu. Jauh-jauh hari sebelum Nyepi, mereka kembali merancang ogoh-ogoh. Kalau sebelumnya mereka sukses membuat ogoh-ogoh berbulu hitam terbuat dari ijuk, kali ini mereka merancang ogoh-ogoh berbulu putih. Salah satu tokoh dalam pewayangan yang menjadi insprirasi mereka adalah Burisrawa. Tokoh tersebut diwujudkan dalam bentuk raksasa berbulu putih, berkepala kuda tetapi bertanduk.

Karena sudah menguasai teknik seperti yang diajarkan Wayan Candra, ogoh-ogoh tersebut dengan mudah dibuat. Namun beberapa hari menjelang penilaian, sengaja ogoh-ogoh itu tidak diselesaikan. Hal ini membuat para penggemar ogoh-ogoh yang hendak melihat karya ST Banjar Pagan Kelod bertanya-tanya, apakah banjar ini membuat ogoh-ogoh atau tidak. Namun sehari menjelang penilaian, ogoh-ogoh berbulu putih dengan judul Burisrawa sudah dipajang di banjar.

Banyak para seniman memuji garapan ogoh-ogoh ini, yang disebutnya jauh melampaui ogoh-ogoh yang lain. Dari bentuk tubuh dan agem, kata salah seorang seniman tari dari Banjar Kedaton, Sumerta, sangat pas. Terlebih, dari jumlah nilai yang diberikan para juri,  sudah dipastikan meraih juara satu. Hanya saja, masih menunggu hasil pawai. Kalau pawai berjalan tertib dan aman, ogoh-ogoh Burisrawa sudah pasti juara satu.

Namun, pujian ini rupanya memunculkan fanatisme dan euphoria berlebihan. Alih-alih menyelamatkan ogoh-ogoh agar berjalan lancar, godaan pun datang. Saat hendak diarak menuju Patung Catur Muka sebagai titik sentral ogoh-ogoh di Denpasar, tiba-tiba seseorang menerobos barisan ogoh-ogoh dari arah berlawanan dengan mengendarai sepeda motor. Padahal jalur tersebut sudah ditutup dari arah berlawanan. Tak terima dengan ulah oknum tersebut, para pemuda emosi lalu menghajar orang tersebut. Tak sampai di situ, teman pelaku yang mencoba melakukan pembelaan juga menjadi bulan-bulanan massa hingga masuk rumah sakit. Perkelahian ini memicu konflik lebih besar karena ada pembelaan dari pihak pemuda banjar korban. Akhirnya tiga banjar berseteru, yang membuat ogoh-ogoh ST Banjar Pagan kelod terkena diskualifikasi. Dan sejak kejadian itu larangan untuk membuat ogoh-ogoh dan mengikuti pawai kembali diberlakukan oleh Desa Sumerta Kauh dan Desa Adat Pagan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Kegiatan lomba dan pawai ogoh-ogoh di Desa Sumerta Kauh pun vakum. Sementara sekaa teruna lainnya makin melejit dengan berbagai inovasi. Generasi pun berganti, dan ketika kran lomba ogoh-ogoh kembali dibuka untuk Desa Sumerta Kauh, taksu ogoh-ogoh makin menjauh sehingga generasi Sekaa Teruna Banjar Pagan Kelod berikutnya tidak mampu mengimbangi  ogoh-ogoh lainnya. Namun dalam rangkaian Nyepi Caka 1942, barulah gelar juara kembali disandang. ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod berhasil meraih peringkat tiga ogoh-ogoh terbaik di Denpasar Timur. Sayangnya, saat euphoria hendak kembali dinyalakan, wabah Korona menghantam negeri ini. Sehingga atraksi ogoh-ogoh yang dikemas dalam lomba oleh Desa Sumerta Kauh pun batal digelar. Kini, ogoh-ogoh berjudul Mahayana ini hanya menjadi pajangan di sisi utara  Jalan Hayam Wuruk di tengah larangan untuk berkumpul agar tidak tertular virus Korona. (habis)

(bx/man/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news