Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Makna dan Urutan Mabuwu-buwu untuk Netralisasi Pekarangan Rumah

24 Maret 2020, 08: 51: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Makna dan Urutan Mabuwu-buwu untuk Netralisasi Pekarangan Rumah

NASI CACAH: Nasi Cacah persembahan untuk Bhutakala, sebelum disomya agar alam jadi seimbang. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Mabuwu-buwu merupakan bagian ritual yang dilaksanakan di tiap rumah saat Tilem Kasanga yang jatuh, Selasa (24/3). Didahului dengan malaba atau macaru. Diharapkan, energi negatif di pekarangan rumah menjadi netral, sehingga penghuni rumah bisa hidup tenang dan nyaman.

Menurut Guru Nabe Jro Budiarsa, tata cara Mabuwu-buwu menurut tattwa Kanda Empat, dilakukan pada senja hari setelah ritual laba untuk Sang Panca Maha Butha. Sang Panca Maha Bhuta dikendalikan oleh Sang Kala Raja dengan urip 41. Ini berasal dari urip Panca Aksara Sa, Ba, Ta, A, I ditambah sastra Ang. Perinciannya, 5+9+7+4+8  =  33+8  = 41.


Dalam ritualnya, semua kekuatan Detya yang menggangu kehidupan umat manusia dan segala bentuk Dhurga yang membuat hawa panas di pekarangan rumah diundang. Seluruh kekuatan Detya dan Dhurga ini diberi persembahan di halaman rumah,  lalu dibawa ke lebuh atau pintu masuk pekarangan.


Dikatakan tokoh spiritual asal Banjar Tegak Gede, Yeh Embang, Jembrana ini, Dhurga berasal dari kata dhur yang artinya api panas, dan ga yang berarti perwujudan. "Maka, segala perwujudan panas dikeluarkan dari halaman rumah dan dikumpulkan di luar rumah, dikendalikan oleh Sang Kala Raja," ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) belum lama ini di Jembrana.


Di merajan juga, lanjutnya, dipersembahkan laba kepada Sang Butha Nawa Sanga yang dikendalikan oleh Sang Kala Bela. Disini melahirkan urip dari Sa Ba Ta A I Na Ma Si  Wa Ya dan sastra Ah untuk Sang Kala Bela. Maka ketemu urip 5+9+7+4+8+8+3+1+6+8 = 59 + 8  = 67. "Setelah selesai malaba, maka laba tersebut dibawa ke lebuh dipertemukan dengan laba yang di halaman rumah. "Di situ bertemu Sang Kala Raja dan Sang Kala Bela, Sang Panca Maha Butha dan Sang Butha Nawa Sanga, dan bertemu juga urip 41 dengan urip 67 sehingga menjadi 108," papar pinisepuh Pasraman Sastra Kencana ini.


Nah, di lebuh dibuatkan nasi cacah 108 dengan susunan paling bawah 8 tanding, di atasnya 33 tanding, di atasnya lagi 67 tanding, dan paling atas 8 tanding. Susunan ini simbol sastra. Jika diurut dari atas, maka aksara Ah, di bawahnya Sa Ba Ta A I  Na Ma Si Wa Ya , di bawahnya lagi Sa Ba Ta A I, dan paling bawah adalah Ang. "Dari susunan sastra tersebut, akan terjadi perkawinan kekuatan Sang Kala Bela dengan Sang Kala Raja. Dengan doa yang benar, bisa mengundang berbagai kekuatan Bhutakala apapun, karena semua terkendali oleh Sang Kala Raja dan Sang Kala Bela," jelasnya.


Usai ritual di rumah ini, kekuatan Sang Panca Maha Butha dan Sang Panca Dhurga telah ditempatkan di depan masing-masing rumah warga. Kekuatan ini kemudian dijemput oleh Sanghyang Ayu Mas Rangda untuk disomya di pempatan agung atau catuspata. "Di catuspata tersebut kemudian Sang Butha Nawa Sanga bersama Sang Kala Bela disomya dan disudha oleh Ratu Gede Sakti atau barong," lanjut Jro Budiarsa.


Beberapa waktu belakangan, penjemputan kekuatan di depan masing-masing rumah itu disimbolkan dengan Ogoh-ogoh yang mengelilingi desa.  "Seluruh kekuatan Panca Maha Butha dan Butha Nawa Sanga masuk ke badan atau raga dari Ogoh-ogoh, sehingga Ogoh-ogoh berubah menjadi sangat berat," katanya.


Setelah berkeliling, Ogoh-ogoh pun ditempatkan di catuspata untuk diberi ritual.
"Setelah semua kumpul di pempatan dapat Caru Manca Sata lalu disomya ke segala arah sesuai konsep sifat dan kedudukannya," jelasnya lagi.


Sementara itu, setelah Ratu Ayu Mas Rangda dan Ratu Gede Sakti dalam wujud barong kembali ke catuspata, maka di setiap rumah melakukan pembersihan dan penetralisasian rumah serta pekarangan. Biasanya menggunakan berbagai alat, seperti api danyuh (api daun kelapa kering), sapu lidi, kulkul (kentongan),  mesui, dan keplug-keplugan, berkeliling rumah. "Membawa keplug-keplugan simbol dari membangkitkan, kulkul simbol dari memanggil, api simbol dari membakar, sapu simbol dari membersihkan, dan mesui simbol dari mengharumkan dan mengusir pengaruh gaib negatif," jelas pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti ini.


Di samping itu, imbuhnya, akan lebih baik lagi mencipratkan Tirta Prayascitta atau menebar beras kuning yang dipuja dengan Panca Sudha Panca Amerta. "Semua dilakukan searah jarum jam," kata Jro Budiarsa.


Usai ritual ini, malamnya, semua hening dan tenang. Sebab, semua simbol-simbol negatif telah dilebur. Termasuk Ogoh-ogoh dan sejenisnya telah dibakar. Hyang Ratu Ayu Mas Rangda bersama Ratu Gede Sakti kembali ke stana menerima upakara payogan suci atau mayoga nyuciang jagat agar esok harinya, saat pinanggal apisan, Hari Raya Nyepi, benar-benar hening dan suci.


Dengan demikian,  lanjutnya, dapat disimpulkan, seluruh kekuatan Panca Detya, Panca Dhurga, Bhuta Nawa Sanga telah pergi dan disomya dari rumah, maka rumah akan kosong, lalu menjadi sepi. Seluruh kawasan sepi, pemurnian lanjut penyucian terjadi. "Alam bekerja sesuai siklusnya, tanpa pengaruh manusia dan manusia dituntut melakukan Catur Brata Panyepian dengan tujuan memberikan alam berputar sesuai siklus angin, api, sinar, air, dan bumi dimurnikan," tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news