Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Laboratorium Sanglah Segera Tes Sampel PDP Korona

24 Maret 2020, 18: 56: 18 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Laboratorium Sanglah Segera Tes Sampel PDP Korona

Ilustrasi Laboratorium (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Laboratorium Rumah Sakit Sanglah direncanakan sudah mulai bisa memeriksa sampel pasien dalam pengawasan (PDP) kasus infeksi Korona (Covid-19). Pasalnya, peralatan dan bahan kimia yang diperlukan untuk kepentingan itu telah siap.

Bahkan, uji coba laboratorium itu sudah dilakukan. Ini seperti yang disampaikan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra, saat menyampaikan pembaruan kasus Covid-19 serta kebijakan Pemprov Bali dalam pencegahan dan penanggulangannya.

"Kemarin malam, Senin (23/3), bisa dipastikan reagen (cairan yang dipakai untuk mengetahui reaksi kimia) sudah tiba di RS Sanglah. Hari ini sedang dilakukan uji coba," jelas Dewa Indra, Selasa sore (24/3).

Dia menyebutkan, pihak laboratorium dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana juga sudah memastikan bahwa mulai Kamis (26/3) atau sehari setelah Nyepi, laboratorium untuk memeriksa sampel PDP itu sudah bisa digunakan.

"Sehingga sampel PDP di seluruh rumah sakit rujukan (di Bali) sudah bisa dikirimkan untuk diperiksa di Laboratorium RS Sanglah," imbuhnya.

Disinggung mengenai rapid test atau tes cepat untuk memastikan apakah tubuh seseorang terjangkit virus Korona (Covid-19), Dewa Indra menegaskan sampai saat ini pihaknya masih menunggu kedatangan alatnya.

Dia menyebutkan, Pemprov Bali telah melakukan pembelian alat tersebut. Dan diperkirakan baru tiba di Bali pada 28 Maret 2020. "Mudah-mudahan tidak melenceng dari jadwal," tukas Sekda Provinsi Bali ini.

Di samping itu, dia menyebutkan bahwa Gubernur Bali bersama gubernur dari provinsi lainnya telah melakukan video conference dengan Presiden dan sejumlah menteri.

"Sudah ditegaskan bahwa Pemerintah Pusat telah mengadakan alat rapid test dan akan mendistribusikannya ke Bali. Bali salah satu daerah yang akan mendapatkan bantuan itu," imbuhnya.

Siapa atau apa kriteria orang yang ikut rapid test? Dia menegaskan, tes cepat ini tidak untuk seluruh masyarakat. Artinya, tes ini hanya diberlakukan bagi mereka yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP). Atau mereka yang pernah melakukan kontak dekat dengan pasien positif Covid-19. 

"Saya ulangi, kontak dekat dengan pasien positif. Kenapa, karena mereka yang berpeluang mengalami transmisi. Ini jumlahnya tentu banyak. Tapi sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebagian dari mereka sudah ada yang diambil sampelnya untuk diperiksa ke laboratorium. Nanti kalau ada lagi ODP, mereka ini yang diprioritaskan," tukasnya.

Kemudian, sambung dia, tes cepat ini juga diberlakukan untuk para pekerja imigran yang menjalani karantina. Mereka juga tergolong ODP. Terlebih mereka yang dalam kepulangannya ke Bali berangkat dari sepuluh negara terjangkit seperti yang ditetapkan Pemerintah Pusat. Atau, dalam perjalanannya sempat melintas di sepuluh negara tersebut.

"Kemudian (pekerja migran) yang menjalani karantina. Untuk mereka, kami harus segera tes. Kalau negatif, maka mereka bisa pulang. Karena sampai hari ini kondisinya sehat. Kalau sehat tidak perlu karantina sampai 14 hari," sebutnya seraya menambahkan sampai Selasa sore jumlah pekerja migran yang diwajibkan menjalani karantina sebanyak 30 orang.

Dan yang tidak kalah pentingnya, sambung Dewa Indra, tes cepat ini akan dilakukan kepada petugas medis, paramedis, serta staf yang terkait dalam penanganan PDP di seluruh rumah sakit rujukan Covid-19.

"Mereka perlu dites. Untuk meyakinkan apakah mereka tidak terinfeksi. Sehingga mereka bisa tenang melaksanakan tugasnya. Lalu bagaimana dengan PDP. Tentu, PDP mengikuti tes uji laboratorium. Karena tes laboratorium ini memiliki presisi yang tinggi," tegasnya.

Diakuinya, tes cepat tidak bisa dilakukan sekali. Namun untuk mereka yang sehat, tentu hasil tes cepat ini sudah bisa dipakai untuk mengambil kesimpulan. Apakah orang itu terpapar atau bersih dari virus yang mengakibatkan Covid-19.

"Misalkan yang dikarantina. Bahwa nanti diperlukan tes lagi, kan bisa dilakukan ketika mereka ada di rumah. Karena mereka masih berstatus sebagai ODP (sampai 14 hari). Bukan hanya tes. Kesehatannya juga dipantau petugas Diskes (di daerah mereka). Mereka yang mengikut karantina mandiri itu. Tiap saat dihubungi petugas untuk menanyakan kondisinya. Kalau demam diminta ke rumah sakit," tegasnya.

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news