Sabtu, 30 May 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ini Sikap Para Tokoh Spritual Soal Suara Kulkul di Puri Klungkung (1)

Tradisi yang Ada Cocok untuk Menangkal Virus

28 Maret 2020, 07: 54: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Sikap Para Tokoh Spritual Soal Suara Kulkul di Puri Klungkung (1)

LAKUKAN TRADISI: Made Dwija Nurjaya, penekun spiritual yang juga instruktur yoga dan meditasi Sadharsan Kriya Art of Living. Tradisi yang ada cocok dilaksanakan usai Kulkul Masuara (foto kanan). (ISTIMEWA)

Share this      

Kulkul Pajenengan di Puri Klungkung dikabarkan mesuara (besuara), Rabu (25/3) bertepatan dengan hari raya Nyepi. Ada yang mengatakan bunyi kulkul yang konon terbuat dari kayu selegui ini terdengar pada pukul 03.00 pagi hari.

I NYOMAN SUARNA, Denpasar

TAK pelak, seperti kejadian sebelumnya, suara kulkul yang diyakini sebagai wangsit ini, disikapi masyarakat Bali dengan rangkaian ritual. Ada yang memasang pandan berduri diisi tanda tapak dara dari pamor (kapur sirih) dan diikat benang tridatu.  Sarana sebagai penolak bala ini dipasang di pintu gerbang rumah berikut bawang merah, bawang putih dan cabe yang ditusuk dengan lidi.

Langkah yang dilakukan masyarakat Bali ini, menurut tokoh spiritual Made Dwija Nurjaya, sangat tepat. Alasannya, setiap bencana pasti ada hubungannya dengan alam yaitu alam nyata tempat hidup manusia dan alam sunyata. Menyikapi hal itu, kerap dilakukan berbagai cara yakni memakai bahan-bahan yang masuk akal secara ilmiah tetapi  memiliki pengaruh langsung terhadap alam sunyata. Apalagi disertai dengan doa atau mantra, yang menunjukkan keseriusan manusia terhadap  apa yang diharapkan. Namun, kata instruktur meditasi dan yoga Sadarsan Kriya ini, upaya itu tidak cukup dilakukan hanya dengan doa atau mantra.

“Jika ada yang menganggap cukup hanya dengan doa, sebaiknya diabaikan karena orang seperti itu gak punya modal. Ibarat berbisnis, bagaimana menjalankan usaha tanpa disertai modal,” ujarnya. Artinya, tandasnya, kedua hal itu, baik ritual dengan sesaji dan mantra atau doa, harus berjalan beriringan.

Baginya, upaya yang dilakukan masyarakat Bali menyikapi suara Kulkul Pajenengan Puri Klungkung dengan memakai sarana pandan, pamor, benang tridatu, disertai bawang merah, bawang putih dan cabai, merupakan langkap tepat untuk memerangi wabah virus Korona. Sebab, secara ilmiah bahan-bahan tersebut memiliki kandungan disinfektan yang dapat menetralisir virus dan bakteri. Pandan berduri, secara magis, diyakini sebagai senjata penolak bala.  Tabia atau cabai adalah simbol agni. Bawang merah dan bawang putih, termasuk juga mesui adalah pentrelisir virus di samping juga untuk memperlancar pernapasan. Jadi sangat pas untuk menangkal serangan yang salah satu sasarannya adalah menghambat saluran pernapasan dan menginfeksi paru-paru.

Soal kegunaan bahan-bahan ini, terang instruktur Art of Living ini, secara implisit diterangkan oleh leluhur orang Bali dalam sebuah lagu berjudul Bibi Anu. Baginya, lagu tersebut memiliki banyak arti, baik dari segi medis, sosial maupun supranatural, sehingga cocok untuk kondisi saat ini. Bawang berfungsi sebagai perangkap virus atau bakteri, kemudian kesuna (bawang putih), cabai, mesui, pandan, benang tridatu menyelesaikan secara sekala maupun niskala. Secara  sekala virus dilemahkan oleh bawang putih yang memiliki zat antioksidan, kemudian cabai dan mesui sebagai kekuatan Dewa Brahma yang bersifat panas akan membakar virus, bakteri dan wisia. Pandan berfungsi sebagai tameng untuk menangkal kekuatan black magic. Selanjutnya benang tridatu sebagai niasa kekuatan tiga dewa (brahma, wisnu, Siwa) berfungsi mengembalikan ke asalnya.

Jadi, menurut pemilik usaha dupa Ayur ini, suara Kulkul Pajenengan Puri Klungkung harus disikapi dengan baik. Berdasarkan sejarah, Klungkung adalah pusat kerajaan Bali zaman dulu. Kalaupun saat ini sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia, secara niskala Klungkung masih menjadi pemerintahan. Menurut keyakinannya, di situ berstana Ida Bhatara Dalem Waturenggong berserta Danghyang Dwijendra sebagai penasihat kerajaan. Keduanya adalah manusia enlighten atau orang yang sudah selesai dengan dirinya. Tidak lagi berpikir tentang keduniawian. Dan ke depan, Bali mestinya memiliki kualitas pemimpin seperti ini, baik di pemerintahan maupun spiritual.

Jadi, harap Made Dwija, tradisi yang hidup hingga saat ini sebaiknya tetap dilakoni. Pemasangan pandan berduri di depan pintu gerbang, sebaiknya tetap dilakukan, meski nanti pendemi virus Covid-19 terungkap sebagai rekayasa manusia karena konspirasi ekonomi maupun politik. Sebab, tradisi yang masih hidup dan masih dijalani jauh lebih kuat dari dasar sastra yang hanya tulisan. Di samping itu, terungkapnya fakta ilmiah dari bahan-bahan yang digunakan sebagai disinfektan dan sterilisasi, merupakan bukti kejeniusan leluhur bangsa kita.

Namun jangan lupa, menjaga keheningan, ketenangan, social distancing hingga physical distancing juga perlu dilakukan, dalam upaya mencegah makin meluasnya penebaran virus. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? . Karena itu, menurutnya, perayaan Nyepi merupakan moment yang sangat tepat. “Menjaga keheningan itu perlu, malah keheningan ini perlu dirayakan. Untuk setiap perayaan yang berwujud kemeriahan, mesti ada pendalaman. Dan keheningan itu membantu upaya pendalaman tersebut,” pungkasnya. (bersambung)

(bx/man/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news