Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Tangkal Wabah Covid-19 Secara Niskala

Begini Penjelasan Wakil Ketua PHDI Bali soal Nasi Wong-wongan

01 April 2020, 18: 35: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

Begini Penjelasan Wakil Ketua PHDI Bali soal Nasi Wong-wongan

Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika (ISTIMEWA)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Upaya mencegah wabah akibat Covid-19 tidak hanya dilakukan secara sekala, tetapi juga secara niskala. Terkait hal itu, beredar surat Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali yang ditujukan kepada Bendesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali agar diteruskan ke masing-masing desa adat se-Bali. Dalam surat tersebut ditulis tentang pelaksanaan upacara di Pura Tri Khayangan Desa Adat dan krama dari hari Kamis (2/4) sampai Selasa (7/4).

Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika menjelaskan, pelaksanaan upacara itu merupakan tafsiran yang dilakukan, terutama pemikiran yang positif. “Sudah berbagai hal dilakukan selama ini untuk menanggulangi Covid19. Mulai dari Pamlepeh Jagat, termasuk Sad Kertih Sadana di enam tempat. Dari sekian pelaksanaan upacara itu, kembali muncul pemikiran untuk menjaga dan memutus peredaran Covid-19 ini. Kemarin kan pemerintah yang melakukan, dan sekarang juga harus dilaksanakan oleh masing-masing umat,” jelasnya, Selasa (1/4).

Menurutnya, tujuan dari menghaturkan banten pejati di masing-masing sanggah kemulan dan menghaturkan nasi wong-wongan di lebuh, memiliki makna tertentu. Dikatakannya, nyuh gadang biasanya digunakan saat menghaturkan durmanggala (penetralisir secara niskala), sedangkan bungkak nyuh gading untuk prayascita (pembersihan niskala).

“Sekarang kepada siapa memohon?. Di masing-masing rumah ada kemulan taksu, di sana menghaturkan pejati dengan bungkak nyuh gadang untuk menghilangkan kadurmangalan. Pada saat Sasih Kanem, mara bahaya datang ke jagat Bali. Bhutakala akan memangsa manusia.  Maka di sana akan terjadi dialog orang yang akan dimangsa itu bisa digantikan dengan nasi wong- wongan dengan warnanya masing-masing,” paparnya.

Sesuai surat edaran tersebut, Kamis (2/4) setiap rumah menghaturkan banten pejati dilengkapi bungkak nyuh gadang atau bungkak nyuh gading. Sedangkan di lebuh pekarangan menghaturkan nasi wong-wongan, ulam bawang jahe dan uyah, beralaskan muncuk daun pisang dengan ketentuan, bagian kepala  nasi wong-wongan berwarna putih, tangan kanan warna merah, tangan kiri warna kuning, badan manca warna dan kaki warna hitam .

“Nasi wong-wongan itu dihaturkan di lebuh angkul-angkul, sedangkan di kemulan taksu menghaturkan pejati. Di lebuh fungsinya menyetop agar bhuta yang hendak menyakiti pemilik rumah tidak masuk dan kita berlindung kepada Betara Hyang Guru dengan sarana pejati tersebut. Hyang Guru simbol Siwa, Siwa suami dari Bhatari Durga. Sedangkan bhuta yang hendak memangsa itu adalah anak buah dari Siwa. Jadi klop di sini,” tandasnya.

Sedangkan untuk mantranya, pria asli dari Jembrana tersebut menyampaikan sebagai berikut (ini adalah versi pribadi Pinandita Ketut Pasek Swastika yang kebetulan sebagai Wakil Ketua PHDI Bali, Red) :

Untuk Pejati yang dihaturkan di pemerajan atau di Bhatara Hyang Guru mantranya. “Ong Pakulun Ratu Bhetara Hyang Guru (Kamulan)  tiyang .....(nama yang nganteb) ngaturang canang sebit sari, minakadi ajengan lan kejangkepin dening canang sari, pinake bhakti tiyang lan keluarga. Melarapan antuk manah suci nirmala, tiyang lan keluarga nunas kerahayuan lan kerahajengan tur luput saking trimala pancamala lan dasamala rawuhing kaberebehan jagat sekadi mangkin minàkadi pandemi Covid-19 virus korona lan kacuntakan sanē tyosan. Akidik aturang manusañta nanging akēh pinunasnia, astungkara pakulun micayang manut ring pinunas lan pengaptin tiyang lan keluarga sami. Antuk paswēcan pakulun, tiyang lan keluarga ngaturang suksma ning manah. Om Sidhir Astu Tad Asthu Nama Swaha.

Om Tryam Bhakam Ya Jamahe, Sugandhim Pasti Wardhana, Urwarrukham Siwa Bandanat, Mriryor Muksya  Mammritham.

Om Sarwa Lara Wighna, Sarwa Klesa,  Sarwa Rogha Winasa Ya Namah Swaha

Om Anugrah Manohara, Dewadhatta nugraha, Arcanam sarwa pujanam, Namo namah nugrahakham.

Om Dewa Dewi maha siddhi,  Yadnya Nirmala, Atmakham Laksmi, Siddhisca Dirgahayu, Nirwighna suka wredischa.

Om Ksama Swamam Maha Dewa Sampurna Ya Nama Swaha.

Sedangkan mantra untuk di lebuh, yaitu menghaturkan wong-wongan sebagai berikut :

Ih... Ta kite Sang Bhuta Kala (di Lebuh) manusañta angaturaken badi wong -wongan pinaka larapan bhakti manusañta. Enak ta kite amuktyaken, asing kurang asing luput haywa ta kite silik-ugik, uwēhin manusañta kerahayuan kedirgayusan. Abih manusañta lemah peteng selid sanje ring darat ring toyo ring udara. Ebek danuh ebek segara bhaktanmu. Dohakena manusañta saking kaberebehan jagat sekadi mangkin.  Pomo pomo pomo (sambil ayabang lan metaluh arak-tuak-berem).

Dikonfirmasi terpisah, Bendesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet membenarkan surat edaran tersebut.  “Inggih, memang benar dan sudah dilaksanakan oleh semua Desa Adat dan seluruh krama Hindu Bali,” tandasnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news