Jumat, 29 May 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Ketua Satgas Sesalkan Penolakan BPPTD Jadi Lokasi Karantina

02 April 2020, 20: 33: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ketua Satgas Sesalkan Penolakan BPPTD Jadi Lokasi Karantina

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra, akhirnya angkat bicara soal adanya penolakan warga terkait penetapan Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPTD) Bali di Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan sebagai lokasi karantina para pekerja migran Indonesia asal Bali.

Secara tegas dia menyesalkan adanya penolakan terkait penetapan balai tersebut sebagai lokasi karantina bagi para pekerja migran tersebut. Dia sendiri mengaku sudah mendapatkan informasi perihal penolakan tersebut.

“Saya sangat menyesalkan sikap masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri (pekerja migran Indonesia),” tukas Dewa Indra usai memberikan keterangan terkait pekembangan kasus dan update kebijakan mengenai pencegahan dan penanggulangan Covid-19, Kamis (2/4).

Kendati demikian, sambungnya, dia juga tidak bisa menyalahkan masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan tersebut. Dia memandang, ini terjadi karena masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik. “Belum mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai Covid-19 ini,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa para pekerja migran Indonesia yang dikarantina itu merupakan anak-anak Bali. Mereka mesti bekerja keluar negeri karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang belum memadai di Bali.

“Mereka itu orang-orang ulet, pekerja tangguh, mereka merupakan pahlawan devisa. Penopang ekonomi keluarga. Mereka itu orang-orang yang berani mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi Bali dengan bekerja keluar negeri,” tegasnya.

Harusnya, sambung dia, dalam situasi musibah seperti ini, mereka juga harus diterima dengan baik. Mereka mesti pulang karena situasi yang tidak memungkinkan untuk bekerja. “Mereka itu kehilangan pekerjaan. Kehilangan penghasilan. Mereka bukan penyakit. Bukan pembawa penyakit. Tapi saya tidak juga menyalahkan masyarakat. Saya ada di posisi netral, bahwa masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik dan utuh mengenai Covid-19 ini,” imbuhnya.

Selaku Ketua Satgas, dirinya kembali menegaskan bahwa media penularan virus Korona yang menyebabkan Covid-19 bukan udara. Namun droplet atau cairan tubuh yang keluar dari pasien dan mengenai orang-orang yang berada dalam jarak dekat dengan penderitanya. “Orang yang kena itu tidak pakai masker. Tidak cuci tangan. Berada dalam jarak yang sangat dekat,” imbuhnya.

Selain itu, dia juga menegaskan, hasil rapid test terhadap para pekerja migran, baik yang dilakukan di bandara maupun di tempat karantina hampir sebagian besar negatif.

“Karantina itu bukan tempat orang sakit. Orang sakit itu dirawat di rumah sakit. Yang sakit dibawa ke rumah sakit. Karantina itu tempat untuk menampung sementara sambil menunggu tes. Mereka yang datang itu semuanya sudah membawa sertifikat kesehatan, dinyatakan negatif. Karena kami juga ingin meyakinkan bahwa mereka betul-betul sehat dan harus menjaga Bali, maka kami lakukan tes ulang. Meskipun dari segi regulasi itu tidak diatur,” ujarnya menggarisbawahi.

Selain itu, dia menegaskan bahwa tempat karantina tersebut juga mendapatkan pengawasan dari aparat TNI/Polri. Karena itu, bila memang takut, sebaiknya tidak masuk ke dalam areal karantina. “Kalau takut, bagaimana dengan petugas kami di dalamnya. Kalau memang menyebar melalui udara, petugas kami yang akan kena. Bukan masyarakat yang ada di luar. Kalau takut dan khawatir, jangan masuk (lokasi karantina). Tetapi tidak bijak juga melakukan penolakan.  Ini musibah. Tidak baik kalau mau selamat sendiri. Harus selamat bersama-sama,” pungkasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news