Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Tri Hita Korona

Oleh: Made Adnyana Ole

04 April 2020, 06: 21: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tri Hita Korona

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

PERTAMA, demi menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, baiklah sesekali manusia tak berupacara dengan megah penuh manusia, agar Tuhan dapat ruang lebih luas dan manusia bisa merasakan-Nya dengan leluasa. Kedua, agar harmonis sesama manusia, kadang baik juga duduk jauh-jauh. Rindu dan cinta bisa terasa lebih lekat dan kental. Dan, ketiga, agar manusia dan alam sama-sama bahagia, manusia bisa dijauhkan dari alam. Alam biar saja bebas, manusia cukup di kamar saja. Nah, istilah untuk tiga jenis hubungan bahagia itu namanya mungkin bukan Tri Hita Karana, mungkin bisa disebut Tri Hita Korona.

Logika aneh itu muncul dalam pikiran saya beberapa hari lalu pada masa-masa social distancing, tinggal di rumah saja, akibat virus korona sedang bergerilya hampir di seluruh dunia. Saat terpkasa keluar rumah  untuk menarik uang di ATM untuk kemudian beli beras, kopi dan gula. Sebelum masuk anjungan, saya bertemu seseorang. Saya tak begitu kenal orang itu, tapi sepertinya dia kenal saya sebagai wartawan. Pertanyaannya retorik, “Wah, wartawan sekarang banyak berita ya?!”

Saya hanya tersenyum dan menjawab sekenanya bahwa saya sudah tak liputan ke lapangan lagi, dan lebih sering berada di rumah. Ia lalu menyodorkan tangan untuk bersalaman, tapi saya menolaknya. Saya hanya mengangguk dan terseyum-senyum.  Mungkin merasa tersinggung, atau memang hendak mengajak diskusi, ia lantas nyerocos.

 “Ini bahaya. Bersalaman saja kita tak berani, ya?” katanya. Saya tetap tersenyum sembari mengingat-ingat dengan keras, siapa sih orang ini? Wajahnya memang familiar, tapi saya benar-benar tak ingat, apakah ia pejabat yang pernah saya wawancarai, atau jangan-jangan pernah jadi tetangga saya di salah rumah yang pernah saya kontrak. Dilihat dari lipatan wajah, usianya sebaya dengan saya. Jenggotnya tipis, putih juga seperti jenggot saya. Tapi wajahnya jauh lebih bersih dan lebih halus dari wajah saya.  

Ia bicara terus, padahal, sesuai protokol pencegahan virus korona, saya harus jaga jarak dengan orang lain. Tiba-tiba ia bicara Tri Hita Karana yang dihubung-hubungkan dengan virus korona. Waduh, saya sama sekali tak siap mendengarnya. Kata dia, akibat korona, Tri Hita Karana jadi macet. “Bagaimana bisa harmonis dengan Tuhan jika pujawali di Pura sepi jampi, bahkan sejumlah upacara penting dibatalkan dengan hanya menghaturkan upacara guru piduka. Harmonis antarmanusia? Mana bisa, jika sehari-hari harus jaga jarak, bahkan tak bisa ngobrol dengan tetangga sebelah. Apalagi harmonis dengan alam. Tidak bisa. Karena harus di rumah saja, kita jadi makin jauh dari alam,” katanya.

Kutipan kalimat di atas saya susun kembali dengan lebih rapi. Kata-kata asli yang keluar dari bibir orang itu sungguh kangin-kauh, penuh nada cemas dan sedikit rasa marah. Dan saya tak tergoda untuk diskusi. Saya memilih urung tarik uang dan starter motor. Pulang. Di rumah, usai dimarahi istri karena pulang tak bawa apa-apa, saya berpikir kembali tentang orang itu. Saya pikir, orang itu cemas berlebihan. Dan saya maklum semaklum-maklumnya. Dengan logika berpikir yang polos semacam itu, dia memang pantas cemas. Dia mungkin takut hubungannya dengan Tuhan akan terganggu, karena sebagai umat beragama dan warga desa adat yang militan, tak bisa lagi melaksanakan upacara besar, wibuh dan semarak.  Pujawali dikecilkan, peserta upacara dibatasi.

Untuk urusan keharmonisan dengan sesama manusia, mungkin ia takut puik juga dengan manusia sesama warga adat. Tentu, karena tak ada lagi acara-acara adat yang heboh. Bagaimana bisa heboh, acara pernikahan saja tak ada resepsinya. Tak ada acara ngelawar ramai-ramai, tak ada joged bumbung dan gelak tawa, tak ada acara minum-minum, apalagi musik hingar-bingar di antara gelak tawa undangan dan senyum manis pasangan pengantin baru. Warga adat lebih banyak di rumah, pasangan pengantin cukup upacara metanjung sambuk, hanya berdua, dengan disaksikan ayah-ibu dan sedikit misan-mindon. Dengan demikian, hubungan atarwarga tak akan harmonis lagi.  Bicara soal hubungan manusia dengan alam, orang itu mungkin cemas juga dengan alam lingkungan, gunung, sungai, dan laut. Siapa yang mengurus alam jika manusia tetap berada di rumah?

Dipikir-pikir, benar juga ya. Tapi, jika dipikir lagi dengan kening lebih berkerut, mungkin ada yang salah dari cara kita berpikir tentang keharmonisan, tentang hubungan baik, dan tentang hidup berdampingan. Bagaimana kalau kita pikir ulang lagi dengan logika terbalik. Tri Hita Karana yang diartikan sebagai tiga hal yang menyebabkan manusia bahagia, yakni hubungan harmonis dengan Tuhan, manusia dan lingkungan, kita renungkan kembali dengan lebih seksama pada hari-hari di mana hampir semua manuisa di dunia sedang berkutat menanggulangi virus korona. 

Logika terbalik ini mungkin bisa disebut dengan Tri Hita Korona. Sesuatu yang membuat kita tetap bahagia pada saat virus korona mewabah. Misalnya, untuk mewujudkan hubungan harmonis dengan sesama manusia mungkin sesekali memang harus diwujudkan dengan cara menghindari manusia. Di rumah kita bisa merenung, siapa-siapa saja dulu pernah kita ajak berhubungan baik, kita ajak guyub, termasuk kita ajak sekongkol untuk tujuan tertentu. Setelah korona mereda, mungkin kita bisa kita hindari mana manusia yang dulu memberi kita pengaruh buruk, mana manusia yang hubungannya kita rawat terus karena selalu memberi inspirasi untuk hidup.

Soal alam, mungkin bisa dipikir ulang. Benarkan kita sudah memelihara alam pada saat kita dekat dengan alam. Benarkah menanam sejuta pohon maka otomatis hutan akan hijau kembali seperti sediakala. Kita sering merasa jumawa bahwa kitalah yang merawat alam dan lingkungan, padahal tanpa sadar, kita masuk untuk merusak. Maka, tinggal di rumah, mungkin salah cara ampuh bagi alam untuk bebas mengatur dirinya, memperbaiki dirinya, dan menumbuhkan biji-biji secara alami.

Tentang Tuhan, di rumah, kita tetap bahagia karena setiap pagi kita masih tetap bisa menghaturkan banten saiban, yang artinya kita tetap bisa memasak makanan untuk keluarga di rumah. Itu adalah kebahagian dan rasa syukur yang paling syukur. Dulu mungkin banyak yang lupa menghaturkan saiban, misalnya karena setiap hari pesan makanan lewat online, sementara kompor tetap kering. Kini, saat berada di rumah, memasak dan membanten saiban bisa terasa sebagai ritual mendekatkan kita pada Tuhan, Sang Pencipta Makanan.  Untuk apa jor-joran ke Pura besar, bersama keluarga besar, dengan mobil mewah dan bekal yang wah, jika di rumah kita selalu bertengkar tentang siapa yang harus membanten saat kajeng kliwon?. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news