Sabtu, 30 May 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Bila Sang Hyang Penyalin Ngelawang

Percikkan Tirta ke Pemukiman, Yakini Tangkal Gerubug

05 April 2020, 07: 28: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Percikkan Tirta ke Pemukiman, Yakini Tangkal Gerubug

NGELAWANG: Krama Banjar Adat Giri Loka, Dusun Lalanglinggah, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada saat ngelawang ngiringang Ida Taksu Sang Hyang Penyalin keliling dusun untuk memercikkan tirta mencegah gerubug. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Upaya sekala dan niskala dilakukan Krama Banjar Adat Giri Loka, Dusun Lalanglinggah, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada untuk menangkal penyebaran virus Corona. Dari sisi skala, warga bersama pemerintah desa melakukan penyemprotan disinfektan secara kontinyu. Jalur niskala pun tak ketinggalan. Krama adat ngelawang keliling dusun dengan ngiringang Sang Hyang Penyalin sembari memercikkan tirta ke pemukiman warga. Seperti apa?

I PUTU MARDIKA, Sukasada

SUASANA sepi terlihat di seputaran Desa Pancasari pada Sabtu (4/4) sore. Seluruh toko dan tempat rest area yang jadi tempat favorit pengendara untuk rehat sejenak saat melintas juga terlihat lengang. Wajar saja, mereka sedang menaati Surat Edaran Bupati Buleleng dan Gubernur Bali terkait tanggap darurat wabah Covid-19.

Tepat di pintu perbatasan Buleleng-Tabanan, belasan krama Banjar Adat Giri Loka berkumpul di Pura Melanting yang berada di areal Bale Banjar Giri Loka. Belasan krama tersebut rupanya hendak nyolahang tari Sang Hyang dengan cara ngelawang di dusun Lalanglinggah.

Sebelum ngelawang dimulai, dua buah Sang Hyang Penyalin (rotan) sebagai symbol dari widyadara dan widyadari itu dibuatkan upacara mapiuning yang dipimpin jro mangku pura setempat. Begitu selesai sembahyang, dua penyalin sakral berusia puluhan tahun itupun segera mesolah.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi, krama yang hadir tersebut kompak menyanyikan kekidungan khusus yang sangat disakralkan ditujukan kepada Sang Hyang Penyalin. Setelah nadi (dirangsungki kekuatan, Red) maka kedua penyalin lanang-wadon tersebut mulai bergerak-gerak sembari memercikkan tirta, dengan diiringi suara gemercing gongseng dari pangkal rotan yang telah dipasang.

Mulailah krama yang ngiringang Sang Hyang Penyalin berjalan menyusuri kawasan permukiman dusun Lalanglinggah ketika matahari mulai terbenam. Bahkan sang Hyang Penyalin masuk ke dalam gang-gang sempit. Warga pun sudah siap dengan penyanggra yang berisi  canang sari lengkap berisi beras, jinah (uang, Red), ganjaran putih kuning di pintu gerbang pekarangan rumah.

Selanjutnya tirta yang diberikan Sang Hyang Penyalin kemudian dipercikkan ke seluruh areal rumah dan sanggah kemulan. “Beras dan jinah (uang, Red) diambil sekeha neglawang sebagai haturan. Kemudian tirtanya kita percikkan ke areal rumah dan merajan dan ditunas,” ujar salah seorang warga, Wayan Murtini, 56.

Dikatakan Murtini ngelawang Sang Hyang Penyalin bukan hanya kali ini saja ia saksikan. Tetapi juga saat Tilem Sasih Kaenem. “Mungkin karena sekarang ada gerubug akibat Virus Corona, makanya Ida medal ngelawang, agar dinetralisir,” imbuh Murtini.

Sementara itu Kelian Sekeha Sang Hyang Penyalin Puspa Mandala Giri, Gede Adi Mustika menjelaskan, ngaturang ayah ngiring Ida Taksu mesolah ngelawang Sang Hyang Penyalin dilakukan mengingat terjadi wabah Covid-19 sehingga menyebabkan jagat kabrebehan atau gerubug agung. Adi pun bersama prajuru adat merasa terketuk hatinya untuk nyolahang Sang Hyang Penyalin dengan harapan wabah Corona segera musnah.

Selain banten penyangra di rumah-rumah, setiap pertigaan atau perempatan yang dilewati Sang Hyang Penyalin sebagai perlintasan wajib juga ada segehan  mancawarna.“Kami merasa terketuk hatinya untuk ngiringang Ida Hyang Taksu. Kebetulan hari ini juga Tumpek Krulut dan ada pujawali di Pura Taksu. Sehingga sangat tepat untuk melakukan ngelawang,” ujar Adi didampingi Kadus Lalanglinggah, Kadek Arik Arditha.

Tradisi ngelawang saat terjadi kabrebehan agung sebut Adi dilakukan berdasarkan Lontar Nityakala.  Terlebih, tarian ini diyakini sudah ada sejak jaman pra Hindu dan wajib dipentaskan saat Sasih Kenem yang juga bertujuan untuk menyomia bhuta kala.

“Selain ditarikan secara incidental ketika ada gerubug agung, tarian ini dipersembahkan untuk Dewa-Dewi dan nyomia para Bhuta Kala, khususnya saat Tilem Kenem, Tilem Kesanga baik di Catus Pata. Artinya dilaksanakan saat pecaruan untuk menetralisir Kala agar tidak mengganggu manusia. Ya tujuanya untuk menolak bala,” imbuhnya.

Menurutnya, para penari tidak hanya berasal dari anggota sekeha. Adi menyebut, para pengiring dari penyalin ini boleh dari siapa saja. Tetapi syaratnya harus berjodoh. “Kalau tidak mejodo, maka rotannya tidak akan bergerak,” imbuhnya.

Kedua penyalin itu sebut Adi Mustika memang rutin diganti. Namun harus tetap melalui prosesi sakral. Mulai dari proses nunas rotannya di hutan, wajib menggunakan upacara. Waktu penggantiannya pun tidak boleh sembarangan, yakni bertetpatan dengan Soma Kliwon Pemacekan Agung.

Sementara itu, Kelian Dusun Lalanglinggah, Kadek Arik Arditha mengaku sudah rutin melakukan penyemprotan disinfektan di wilayahnya. Penyemprotan disinfektan melibatkan sejumlah relawan di desa setempat. Arik pun optimis jika sudah dilakukan secara skala niskala maka pandemic Covid-19 bisa musnah.

“Selain dari sisi niskala, kami juga perkuat antisipasi dengan kegiatan sekala berupa penyemprotan disinfektan di wilayah Dusun Lalanglinggah. Kita tahu bersama wabah ini terjadi hampir di seluruh negara,” pungkas Arik.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news