Sabtu, 30 May 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Mulat Sarira Satu Abad Pariwisata Budaya Bali

06 April 2020, 16: 32: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mulat Sarira Satu Abad Pariwisata Budaya Bali

PARIWISATA: Kawasan pariwisata di Bali, termasuk Ubud, selalu meriah dijejali wisatawan. Kini, adanya wabah Covid-19 langsung mengubah dunia dengan segala hiruk pikuknya menjadi senyap. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Mewabahnya virus Korona dianggap sebagai peringatan, juga momen untuk berbenah bagi umat manusia, terutama di Bali dengan segala dimensi kehidupan sekala dan niskala.

Mewabahnya virus Korona atau Covid-19, banyak hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran manusia yang ada di bumi ini. Mulai menyadari bahwa bumi butuh perhatian lebih, menyadari bahwa bumi juga rusak akibat keserakahan manusianya. Sehingga selama pandemi Korona ini, semestinya sebagai penghuni bumi manfaatkan untuk mulat sarira (introspeksi diri). Hal itu diungkapkan  Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof  Wayan Windia kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.


Dengan adanya virus Korona, lanjutnya, menyebabkan umat manusia harus mulat sarira. Termasuk umat manusia yang bergerak di sektor parwisata. “Mulat sarira adalah renungan ke dalam hati (nurani). Suatu contoh jalan kehidupan yang diajarkan kepada kita, khususnya umat Hindu. Seperti halnya  dalam proses peringatan perayaan Tahun Caka (Nyepi). Bahwa dalam Nyepi, kita selalu diminta untuk sunya dan mulat sarira,” jelas Prof Windia.


Pria asal Sukawati, Gianyar ini, juga menyampaikan pada tahun ini (2020), pariwisata Bali sudah berumur 100 tahun. Dalam beberapa terakhir ini sistem dan konsep pariwisata Bali disebut sebagai Pariwisata Budaya. “Apakah tidak sebaiknya pariwisata (Budaya) Bali perlu melakukan mulat sarira juga, setelah satu abad perjalanannya,” tanya pria yang juga serius mempertahankan Subak di Bali ini. 


Disinggung soal ukuran yang menjadikan orang di Bali mulat sarira, Prof Windia mengatakan
ukurannya adalah dimensi-dimensi dari kebudayaan itu. "Pertama adalah dimensi nilai-nilai. Harus kita renungkan apakah nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Bali masih eksis implementasinya," tanyanya. Kedua adalah dimensi sosial. "Harus kita renungkan, apakah interaksi sosial masyarakat Bali sudah berubah," katanya.  Dan, yang ketiga, lanjutnya, adalah dimensi artefak (kebendaan). Harus direnungkan, apakah aspek sekala (teritori) alam semesta Bali sudah membahayakan.


Prof Windia juga mengaku sudah banyak orang yang kecewa tentang situasi sosio-kultural (soskul) masyarakat Bali. Dikatakannya memang tidak bisa menginginkan kondisi soskul yang sama dengan era yang lalu. Karena kebudayaan terus mengalami proses transfomasi. Tetapi, kalau transformasi soskul itu sudah melanggar hukum, melanggar moral, dan melanggar etika, maka kondisi itu harus diwaspadai dan diantisipasi.


Pria yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra tersebut, juga mengatakan,  tentu transformasi soskul itu memang betul diakibatkan oleh perkembangan pariwisata.  Sehingga pasti ada trade-off antara perkembangan sosial budaya dalam masyarakat. Hanya saja saat ini yang diperlukan, masih adakah kepekaan pengambil keputusan di Bali. Untuk proses introspeksi, renungan, kontemplasi, atau mulat sarira 100 tahun pariwisata (budaya) Bali ke depan. “Dalam tradisi Bali, kita mengenal konsep masa lalu (atita), masa sekarang (wartamana), dan anagata (masa depan). Kita tidak bisa membentuk masa depan yang kondusif, tanpa memahami dan mulat sarira pada masa lalu kita. Kalau kita sekarang mampu melihat masa lalu kebudayaan Bali, maka kita bisa merancang kebijakan masa depan kehidupan kebudayaan kita,” paparnya.


Disampaikan juga banyak orang yang mengatakan bahwa Bali tidak memiliki kekayaan apapun, kecuali kebudayaannya. “Hal itu diwacanakan oleh pucuk pimpinan di Bali, hingga masyarakat yang ngobrol di balai-balai banjar di Bali. Tetapi, kita tidak pernah merancang untuk duduk bersama dengan semua stakeholders. Untuk apa ? Untuk merancang eksistensi kebudayaan kita satu abad ke depan,” tegasnya.


Prof Windia mengaku kebudayaan Bali telah mampu menumbuhkan ekonomi Bali melalui sektor pariwisata. Tetapi sektor pariwisata tidak boleh rakus. Sektor pariwisata dikendalikan oleh kaum kapitalis. Kaum kapitalis konsepnya hanya menginginkan profit, efesiensi, dan produktivitas. Jika ketiga elemen itu tidak tercapai dengan mudah saja mereka kabur. Kalau ketiga elemen itu tercapai, maka lingkungan alam akan menjadi korban.


“Oleh karenanya, aktivitas kaum kapitalis yang mengelola sektor pariwisata di Bali harus dikendalikan. Dengan demikian aktivitasnya akan sesuai dengan daya dukung alam Pulau Bali,"paparnya.


Pemerintah harus merancang dalam rencana detail tata ruang, tentang apa yang boleh dan apa yang tak  boleh dilakukan. "Juga merancang tentang di mana boleh dan di mana tidak boleh melakukan apa,” terangnya.


Diungkapkannya seperti halnya Subak dengan lahan sawahnya adalah sebuah artefak yang sangat mendukung kebudayaan Bali.  Bahkan, itu merupakan salah stau tujuan wisatawan datang ke Bali. Dikatakannya, kalau subak dan sawah di Bali habis, jangan harap kebudayaan Bali bisa tetap kokoh. “Desa adat yang kini sangat disayangi oleh pemerintah (dengan pemberian bansos yang melimpah), tidak ada ada apa-apanya, kalau subak di Bali habis. Kemudian pasti akan dilanjutkan dengan kebudayaan Bali yang lumpuh,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news