Sabtu, 30 May 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Cegah Korona, Aktivitas Warga Desa Adat Gelgel Dibatasi Lewat Pararem

06 April 2020, 18: 39: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cegah Korona, Aktivitas Warga Desa Adat Gelgel Dibatasi Lewat Pararem

KARYA : Warga Desa Adat Gelgel saat pelaksanaan sebuah upacara. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Desa Adat Gelgel, Klungkung mulai memberlakukan aturan ketat bagi warganya. Hal ini seiring meningkatnya virus Korona. Diatur dalam pararem, desa adat yang terdiri dari tiga desa dinas itu (Desa Dinas Gelgel, Tojan dan Kamasan) membatasi aktivitas warganya.

Bendesa Adat Gelgel I Putu Gede Arimbawa menegaskan, warga Gelgel dilarang keluar rumah mulai pukul 20.00-06.00. Dilarang menerima tamu. Terkecuali ada keperluan mendesak. Misalnya orang sakit, melahirkan, petugas kesehatan dan lainnya. Semua tempat usaha harus tutup pukul 20.00. Sedangkan untuk siang harinya masih boleh beraktivitas. Namun tetap memperhatikan imbauan pemerintah sebagai upaya mencegah penularan virus Korona. “Pararem ini intinya biar orang itu jenek di rumah,” tegas Arimbawa, Senin (6/4).

Dikatakannya, kegiatan upacara panca yadnya masih tetap bisa dilakukan krama Gelgel dengan memperhatikan imbauan pemerintah. Kegiatannya diatur, memperhatikan pembatasan waktu dan jumlah yang hadir. “Pemerintah sifatnya imbauan. Cuma di desa adat dibuatkan pararem sifatnya memaksa, karena ada sanksi,” tegas Arimbawa.

Pararem itu pun mulai berlaku Senin (6/4). Namun tetap ada tahapan sosilisasi selama sepekan. Kalau ada warga yang melanggar, masih ditoleransi, diberikan pemahaman. Tidak langsung diberikan sanksi. Bila setelah sepekan diberlakukan, masih ada melanggar akan diberikan teguran. Setelah diberikan teguran, krama tersebut tetap melanggar, maka dikenakan sanksi berupa ngaturang banten pejati, sesari Rp 100 ribu. Jika masih tetap melanggar, dikenakan sanksi ngaturang guru piduka dan denda Rp 500 ribu.  Dalam tahap sosialisasi ini, ada petugas khusus menyampaikan pararem, keliling desa menggunakan pengeras suara. Selain itu, masing-masing warga diberikan surat berisi tentang maksud pararem itu. “Tidak ada menutup jalan. Kami ikuti program pemerintah biar tidak terjadi tumpeng tindih atau berlawanan. Kami hanya menguatkan dalam bentuk pararem,” tandas Arimbawa.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news