Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Orang Mampu tapi Tetap Terima Sumbangan, Halangi Keberuntungan

18 Mei 2020, 14: 25: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Orang Mampu tapi Tetap Terima Sumbangan, Halangi Keberuntungan

PEDULI: Peduli dengan sesama yang tumbuh sejak dini dari generasi muda, gerakan yang perlu didukung berbagai pihak. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dana Punia atau bersedekah membantu sesama, wajib dilakukan. Namun, tak jarang pemberian sumbangan  itu bisa salah sasaran karena disengaja maupun tidak disengaja. Di lain pihak, kecendrungan umat masih berkutat madana punia lebih banyak untuk urusan pembangunan fisik.

Saat pandemik Covid-19, jadi momen bagus untuk berbagi dengan sesama. Mengutamakan untuk memberikan bantuan makanan atau kebutuhan pokok  bagi yang membutuhkan, karena ekonominya terpuruk adalah langkah mulia. Dalam keseharian,  umumnya masyarakat memberikan punia pada orang kurang mampu.

Ada  juga orang lain atau golongan lain yang berhak menerima punia atau diberikan bantuan dengan tulus ikhlas dan suci ini. Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa mengatakan,
ada beberapa golongan yang juga berhak menerima dana punia, yakni Brahmacari atau orang yang masih menempuh pendidikan, kemudian adalah golongan yang sudah mulai melepaskan keterikatan akan duniawi, seperti orang yang menjalankan Wanaprastha dan Sanyasin.
“Selain ketiganya, juga ada orang yang kurang mampu yang berhak menerima dana punia yang disebabkan oleh keadaan mereka,” tambah Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Dkatakannya, dalam Manawadharmasastra IV.32 disevutkan : Caktitopacamanebhyo data-wyam grha medhina samwaibhagasca bhutebhyah kartawyonuparodhatah. Maksudnya, seroang kepala keluarga harus memberi makan sesuai kemampuannya kepada meraka yang tidak menanak nasi sendiri (pelajar dan pertapa) dan kepada semua makhluk. Meskipun begitu, lanjutnya, seseorang pun hendaknya ketika membagi makanan pada orang lain tersebut jangan sampai menganggu kepentingannya sendiri.


Dikatakan sulinggih dari Griya Agung batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Badung ini,  jika termasuk golongan mampu, pendapatan seseroang itu bisa dibagi tiga. Sepertiga untuk kebutuhan panca yadnya, biaya hidup, dan ditabung. “Soal pembagian pendapatan ada di Saracamuscaya sloka 262, dimana intinya bahwa pendapatan bagian pertama untuk kebajikan atau kebenaran, kedua untuk memenuhi kebutuhan hidup, rekreasi, jalan-jalan, dan bagian ketiga bisa ditabung, juga bisa untuk kelangsungan usaha,” paparnya.


Namun diakuinya, pada masa sekarang karena ajaran agama pada praktiknya di lapangan sekarang tidak sesuai teori, hasilnya pun tidak semua seperti  sesuai di ajaran agama.
Walau dalam Hindu aturan baku presentase dalam berdana punia dari pendapatan yang dihasilkan tidak ada, namun bagi  Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, terdapat ajaran dalam Hindu yang cocok kaitannya dengan dana punia berkaitan dengan penghasilan. "Ada tiga ajaran bagus buat pedoman cara berdana punia, yakni Asteya, Tapa, dan Santosa.  Asteya artinya tidak mengambil lebih dari yang diperlukan. Tapa adalah hidup sederhana, dan Santosa berarti selalu puas dengan apapun yang ada,” beber Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa.


Dari tiga ajaran itu, beliau menganalogikan bahwa jika seseorang memiliki penghasilan 7 dan kebutuhan 5,  maka sisanya yang dua bisa didanapuniakan untuk  yang membutuhkan. "Sebaliknya, jika mempunyai pendapatan 2, namun kebutuhan seseorang itu 5, maka dia tidak masalah untuk tidak melakukan dana punia. Selain itu,  orang itupun berhak mendapat bantuan atau sumbangan dari orang lain," ujarnya. Tak disanggahnya, kerap ada kasus justru orang mampu menerima sumbangan atau dana punia, sementara yang mestinya dapat, malah tidak dapat.


"Berdana punia kepada orang yang mampu  adalah kesia-siaan bagi si pemberi. Sedangkan bagi orang mampu yang menerima, mereka   termasuk golongan pengemis,” ungkapnya.


Jika menyangkut dosa ataupun tidak, seorang yang mampu ketika menerima sumbangan tidak ada dosanya. Namun, Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa menggarisbawahi, bahwa ketika orang menunjukkan keserakahan dan ketidakjujuran pada dirinya sendiri serta pada Ida Sang Hyang Widhi akan perilakunya itu, sesungguhnya dia akan mendapat karmanya nanti. “Perilaku menerima sumbangan, padahal sudah kaya, akan menghalangi dirinya pada keberuntungan. Ketika kelahiran pada masa berikutnya mungkin dia tidak seberuntung pada masa sekarang.


Tidak hanya itu, diapun bisa lahir dalam wujud yang bukan manusia lagi pada kelahiran berikutnya,” imbuh pria yang sudah menjadi sulinggih sejak 2008 tersebut.


Tidak hanya kasus orang kaya menerima dana punia. Kasus orang sengaja pura-pura cacat untuk mengemis, juga sangat tidak baik dilakukan. "Sebagai manusia mestinya dalam kelahiran ini memperbaiki diri. Berupaya mandiri, sehingga bisa menolong orang lain, dan bukan melakukan hal sebaliknya,” ucapnya.


Jika seseorang justru sengaja melakukan hal kurang baik, maka itulah kehidupan dia sebenarnya. Kelak sesuai pikirannya yang sengaja memiskinkan diri untuk bisa mengemis, maka ia kelak akan hidup miskin. “Saya bisa bilang begitu, karena seperti itu yang ada di pikirannya. Maka akan terjadilah sesuai yang ia pikirkan,” ungkapnya.


Dikatakannya,  sebagai umat Hindu dalam hidup sebenarnya yang utama adalah agar bisa menolong, bukan ditolong. "Seperti kata pepatah, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Namun, posisi ditolong akan menjadi mulia jika memang saat itu betul-betul membutuhkan,” tutup Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa. 

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news