Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kekuatan Pikiran Tingkatkan Imun Tubuh

20 Mei 2020, 13: 52: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kekuatan Pikiran Tingkatkan Imun Tubuh

PRANAYAMA: Instruktur Yoga I Gusti Made Widya Sena lakukan Pranayama, Nadi Sodhana Pranayama. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dampak negatif pandemi virus Korona sangat dirasakan di semua bidang kehidupan. Pondasi ekonomi sosial masyarakat yang selama ini telah dibangun dengan berbagai  perjuangan dan pengorbanan jadi luluhlantak. Kecemasan, bahkan ketakutan turut menghantui.

Kondisi yang tak menguntungkan  ini berjalan beriringan dengan keadaan fisik dan psikis masyarakat yang hingga kini masih diliputi kompilasi rasa cemas, ketakutan. Juga trauma yang mendalam untuk sekadar menghirup udara bebas di luar rumah.

Menurut Instruktur Yoga I Gusti Made Widya Sena S Ag MFil H, kecemasan, ketakutan, dan trauma yang mendalam dari kondisi pandemi virus Korona seperti saat ini adalah bentuk refleksi dari berbagai gelombang pikiran (vrtti) yang terus berkembang dalam setiap kepala manusia semasa hidupnya.

Selama seseorang hidup, lanjut dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini, maka pikirannya akan tetap terus hidup. Seperti yang tersurat pada Sutra Patanjali Bab Samadhi Pada Sutra 2 : Yogaś citta vṛtti nirodhaḥ (Samadhi Pada. 2), bahwa Yoga adalah penghentian atau pengendalian citta vrtti atau perubahan-perubahan yang terjadi pada benih-benih pikiran dan perasaan.


Hal ini dikarenakan pikiran akan merefleksi semua obyek yang dirasakan melalui panca inderanya. Mulai dari indera peraba, penglihatan, penciuman, perasa, hingga pendengaran. Mata akan memberikan informasi dari apa saja yang dilihatnya, hidung akan memberikan informasi dari bau apapun yang diciumnya, kulit akan memberikan informasi dari apa saja yang disentuh olehnya, lidah akan menyampaikan informasi pada apa saja yang dikonsumsinya, dan telinga akan memberikan informasi kepada otak dari apa yang didengarnya.


Dikatakan Widya Sena, tubuh fisik ibarat sebuah kereta. Agar siap untuk berjalan, maka kereta harus terus dirawat keadaannya hingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Layaknya sebuah kereta, setiap tubuh manusia juga harus dirawat, karena tubuh adalah simbol tempat suci, sebagai  pusat dari seluruh aktivitas di dunia ini, baik itu aktivitas fisik, psikis, dan spritual. "Tubuh fisik adalah tempat suci, tempat dimana Tuhan itu bersemayam. Maka dari itu, tubuh manusia harus dijaga kebersihan dan kesuciannya," terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin di Denpasar.


Semua itu ditegaskan dalam Katha Upanishad 3.3-4 disebutkan : Mengetahui bahwa atman sebagai penumpang kereta, tubuh fisik ini sebagai keretanya, buddhi atau intelektual sebagai kusirnya, dan pikiran sebagai tali kekangnya.


Para indria adalah kuda-kuda yang menarik kereta. Obyek rasa, sentuhan dan lainnya adalah jalannya. Dengan demikian, atman menggunakan indria dan tubuh fisik sebagai sarana untuk menikmati kesenangan duniawi.


Menurut Widya Sena, sloka tersebut menguraikan bahwa tubuh jasmani manusia layaknya sebuah kereta kuda di dunia ini,  atman (jiwa manusia) sebagai penumpang kereta, kebajikan sebagai kusirnya, dan pikiran sebagai tali kekangnya. Kuda yang menarik kereta adalah simbol dari refleksi seluruh panca indera, yakni mata, hidung, telinga, kulit dan lidah pada obyek di sekelilingnya. "Sebuah kereta tidak akan pernah sampai ke tujuan, tanpa adanya kuda sebagai alat penggerak. Kuda akan kehilangan kesadarannya dan berlari tanpa arah, jika dalam kereta tersebut tidak memiliki kusir. Dan, atman akan menikmati kehidupan ini dengan bantuan kusir sebagai simbol kebajikan yang menuntun atman agar terhindar dari ikatan duniawi," beber pria kelahiran 18 April 1983 ini.


Dijelaskan Wudya Sena, fungsi pikiran sebagai tali kekang adalah sebagai simbol media penghubung antara kusir dan kuda, antara kebajikan dengan kelima panca indera di dalam tubuh. "Tali kekang memiliki fungsi untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari atman kepada indera melalui kebajikan dan kecerdasan. Sehingga nantinya atman tidak terjebak dalam ilusi obyek di sekitarnya," urainya.
Lantas, apa kaitannya dengan pandemi Covid-19?


Ditegaskan Widya Sena, Covid19 adalah salah satu virus yang dapat direfleksikan oleh panca indera kepada tubuh manusia. Walaupun tidak dapat dilihat dengan kasat mata, namun virus ini dapat dirasakan dengan perubahan yang terjadi pada tubuh seseorang yang terkena dampaknya secara langsung. Ini menandakan bahwa virus tersebut dapat diterima dengan mudah melalui tubuh yang sehat, sekalipun tanpa disadari oleh pikiran seseorang.

"Tubuh fisik merupakan manifestasi dari pikiran yang bekerja jauh lebih halus dan seringkali tanpa kita sadari," terangnya. Pikiran memiliki energi yang sangat besar dalam diri manusia yang mempunyai kemampuan untuk melakukan berbagai fungsi, seperti fungsi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, dan melakukan evaluasi terhadap obyek apapun yang dirasakannya melalui panca indera.


Selain itu, fungsi pikiran lainnya adalah kekuatannya dalam menyehatkan tubuh fisik dan psikis manusia.
"Manusia memiliki dua pikiran, yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar," kata Widya Sena.

Pikiran sadar hanya aktif dan bekerja saat tubuh seseorang dalam keadaan sadar atau terjaga. Saat tubuh segar, penuh dengan energi dan semangat, maka pikiran sadar  akan berfungsi dengan normal. Namun, saat seseorang mulai lelah, tubuh kehilangan semangat dan emosi sedang bergejolak, maka pada saat itu pikiran sadar akan terganggu. Sedangkan pikiran bawah sadar bertanggung jawab untuk memengaruhi dan menentukan hampir semua keputusan, tindakan, emosi, dan perilaku.

"Sebenarnya kita hampir sepenuhnya dibawah pengaruh dan kendali pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar seseorang tidak akan pernah berhenti bekerja selama 24 jam sehari, sekalipun saat kita tidur. Pikiran bawah sadar akan tetap sadar dan menjalankan berbagai fungsinya," ujarnya.


Pengaruh dari hubungan pikiran dan tubuh sebenarnya sangat mudah dirasakan. Stres yang dialami seseorang akan mengakibatkan beragam gejala, seperti sulit berpikir yang jernih, sulit untuk fokus, kehilangan rasa humor, tidak kreatif, mudah lupa, sulit mengambil keputusan,  dan selalu khawatir.
"Saat kita khawatir atau cemas mengenai sesuatu, maka kepala kita akan terasa sakit, perut menjadi tidak nyaman dan tekanan darah kita selalu bergerak tak menentu, naik-turun," urainya.
Emosi seperti cemas dan rasa takut akan menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur, gangguan pada usus besar, nyeri pada area perut, diare dan juga banyak penyakit lainnya.

Pikiran dan tubuh saling memengaruhi antara satu dengan lainnya. "Emosi yang dirasakan pada pikiran pada akhirnya akan menentukan seperti apa kita akan bertindak nantinya melalui tubuh fisik," papar Widya Sena. Emosi tertentu mengakibatkan pelepasan hormon tertentu di tubuh fisik yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada tubuh seseorang. Berbagai emosi, seperti depresi dapat meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung pada tubuh seseorang.

"Stres dapat menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari sakit maag hingga penyakit jantung. Sedangkan bila pikiran kita merasa bahagia, maka tubuh kita pun akan mengikuti kebahagiaan yang dirasakan oleh  pikiran. Tubuh fisik akan terasa lebih ringan, penuh energi, tubuh berada dalam kondisi yang sehat dan nyaman serta selalu bersemangat melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Hal ini dikarenakan tubuh lebih kuat berkat sistem kekebalan yang bekerja secara optimal," katanya. Dijelaskan Widya Sena, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imun tubuh,  menjaga agar pikiran selalu berada dalam kondisi yang bahagia, penuh  kedamaian dan ketenangan dengan melakukan Doa (mantra), Yoga, Pranayama (pengaturan napas), dan meditasi.

Yoga yang dipraktikkan, lanjutnya, dapat menghilangkan kebosanan dan mengharmoniskan seluruh fungsi tubuh agar dapat berfungsi normal kembali. Praktik mantra dan pranayama dapat mengolah energi yang terdapat di dalam tubuh, sehingga pikiran menjadi lebih tenang dan terfokus pada satu tujuan. Selain itu, fungsi Pranayama juga dapat membantu seseorang untuk melepaskan beban hidupnya secara psikis yang mungkin sulit untuk dibagikan kepada orang lain.


Setelah tubuh jasmani dikuatkan dengan praktik Yoga, pikiran dimurnikan dengan melakukan Mantra dan Pranayama, jalan selanjutnya adalah praktik Meditasi sebagai jalan penerimaan diri. "Meditasi tidak hanya mengajarkan seseorang menjadi pribadi yang lebih terbuka dan pasrah kepada Tuhan, namun juga melampaui itu semua. Jalan meditasi adalah jalan bagi seseorang untuk membangun kembali hubungan dengan Tuhan yang mendiami tubuhnya sendiri, di dalam keretanya sendiri. Sehingga pada akhirnya memeroleh kesadaran diri, bahwa diri kita adalah bagian dari esensi Tuhan yang penuh dengan kebahagiaan," urainya.


Dipaparkan Widya Sena, dengan mempraktikkan Mantra, Yoga, Pranayama, dan Meditasi akan menghasilkan pikiran yang berada dalam kondisi yang bahagia, dan kondisi pikiran ini sangat diperlukan, apalagi saat pandemi Korona seperti sekarang ini. Semuanya untuk mengurangi dan menghilangkan segala bentuk stres, trauma dan depresi yang disebabkan karena pikiran yang tidak bahagia. "Pikiran yang bahagia adalah suplemen dalam meningkatkan imun tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh dari berbagai penyakit, baik yang berasal dari dalam maupun luar tubuh. Selain itu,  juga bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan dan membangun hubungan kembali dengan Tuhan yang berada di dalam tubuh," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news