Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Memahami Ritus Menanam Padi Petani bagi Warga Bali

20 Mei 2020, 14: 00: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Memahami Ritus Menanam Padi Petani bagi Warga Bali

SIMPAN: Nini dan gabah disimpan di Lumbung beras. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Ritus atau proses penanaman  padi bagi warga Bali adalah sesuatu yang sakral sesuai dengan warisan pada pendahulu,  seperti diterapkan petani di Tabanan. Tidak sembarangan dilakukan. Bahkan harus menentukan hari baik serta banten khusus.

Kabupaten Tabanan memang dinobatkan sebagai Lumbung Berasnya Bali. Hektaran sawah terbentang di kabupaten yang terkenal dengan destinasi wisata Tanah Lot. Salah satu petani di Desa Sangging, Kerambitan, Tabanan, Dewa Nyoman Cakra Kamawijaya, 74 saat ditemui di Balu Express (Jawa Pos Group ) di kediamannya kemarin, menjelaskan, prisesi menanam padi di desanya diawali dengan proses  Nuasanin. Artinya, tahap paling awal yakni menanam bibit padi ke petak sawah. Bagi sebagain warga Bali, penanaman pertama merujuk dari Panca Wara.
"Misalnya hari Senin, Uripnya 10. Jadi, bibit padi pertama yang ditanam sebanyak 10 tanduran. Terserah besoknya dilanjutkan, atau seluruh petak ditandur (ditanam). Tergantung petani itu sendiri," ucap Dewa Nyoman Cakra Kamawijaya.

Kemudian, tahapan kedua adalah Ngerainin. Dalam proses ini, ada upacara yang dilakukan setelah padi ditanam berjarak satu bulan kalender Bali dari penanaman pertama. Lalu, nunas tirta di Sri Medandan di merajan rumah masing-masing untuk menyempurnakan Ngerainin padi tersebut. "Ngerainin ini terus dilakukan sampai 1,5 bulan kalender Bali," tambahnya.


Tepat di udia padi 1,5 bulan kalender tersebut, kemudian ada proses yang namanya Miseh atau padi yang baru tumbuh dengan bulir warna hijau. Proses ini sama seperti upacara orang hamil warga Bali, layaknya upacara Magedong-gedongan. Hanya saja, proses ini ditujukan kepada bulir padi.


Banten yang disiapkan dalam upacara Miseh ini seperti Jerimpen Pangambean dan Lumbung. "Tujuannya supaya nanti saat padi sudah siap panen, hasilnya bagus," jelasnya.

Usai Miseh, dilanjutkan ke proses namanya Mabiukukung, dimana padi sudah berwarna kuning keemasan. Di tahap ini, padi tinggal siap panen dan memasuki proses terakhir. Dalam tahap Mabiukukung ini, disertakan upacara juga dengan banten yang bervariasi.


Upacara terakhir adalah Nyangket, setelah menunggu selama tiga bulan kalender Bali. Proses ini diakui cukup lama. Padi yang siap panen tersebut dipotong sebanyak 66 batang dan dibagi menjadi dua bagian, masing-masing berjumlah 33 batang.


Setiap bagian yang berjumlah 33 batang itu, diikat dengan kubal dan tali duk dan dihiasi oleh jejaitan bernama Parerai dengan simbol lanang (laki-laki) dan istri (perempuan) yang bernama Nini. Dua buah Nini itu kemudian dihias sendiri oleh masing-masing petani, dengan ditambahkan bunga. Kemudian, Nini ini digantung di Sanggah yang berada di sawah dan diupacarai. Setelah upacara selesai, barulah padi dipanen.   Gabah selanjutnya  dibawa pulang bersama Nini, kemudian dinaikkan ke Lumbung atau Jineng. Setelah berada di dalam Lumbung, Nini selanjutnya diupacarai. Proses ini terus menerus dilakukan dalam masa menanam maupun memanen.


Selain soal  menanam hingga memanen, dalam proses menjaga padi, tak ayal mengalami kendala, seperti serangan hama. Diakui Dewa Nyoman Cakra, ada penyakit padi seperti mati muncuk (mati di ujung) padi. Bila hal itu terjadi, sarana yang disiapkan berupa Nasi Barak, Tri Ketuka yang terdiri dari bawang merah, bawang putih dan jangu. Ada juga kemiri.
Adapun mantra yang diucapkan dalam proses ini adalah

"Om culer u'ujoh tanko geruda putih. Didi mantranku". Kendala lainnya yang terjadi seperti daun padi yang hancur. Sarana yang dibutuhkan untuk mengatasinya adalah sepeh atau bahan-bahan yang dikunyah layaknya orang nginang.


Mantra yang diucapkan "Pakulun sira paduka ihi halata mati candang mati i ratnamengali, alungguh ring papusuhan. Dewa ring dalem. Astandane tahiwikujangut, alungguh ring windu Pepet". 


"Semuanya ada di sastra dan sudah menjadi resep oleh orang-orang zaman dahulu. Karena dahulu belum ada obat kimia seperti sekarang," tandasnya.

(bx/dip/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news