Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Politik
icon featured
Politik

Kariyasa: Saatnya Bali Kejar Kualitas, Bukan Kuantitas

22 Mei 2020, 10: 11: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kariyasa: Saatnya Bali Kejar Kualitas, Bukan Kuantitas

Ketut Kariyasa Adnyana, Anggota Komisi IX DPR RI (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Wacana reopening Bali sedang menggaung sejak beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, saat ini penerbangan menuju ke Bali juga sudah mulai dibuka kembali. Meskipun secara ketentuan, mereka yang datang ke Bali melalui jalur udara wajib menyerahkan hasil uji swab yang negatif Covid-19.

Terkait itu, anggota Komisi IX DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana menilai, inilah saatnya Bali melakukan pembenahan secara total. Khususnya yang selama ini ke arah eksploitasi alam. “Tempat-tempat yang selama ini jadi wilayah resapan, daerah hulu, banyak dialihfungsikan. Selain itu, sebagian besar pemilik hotel kebanyakan orang luar. Harusnya, inilah momentum bagi warga Bali menjadi tuannya di daerahnya sendiri,” ujar Kariyasa Adnyana, Kamis kemarin (21/5).

Dia pun mereview pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster, beberapa waktu lalu. Yang mempertanyakan keberadaan para penikmat keuntungan besar dari sektor pariwisata di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Bali.

“Belum lagi banyak hotel yang mungkin tidak melaporkan kebijakannya untuk mem-PHK-kan karyawannya, karena takut bayar pesangon. Yang perlu dipahami, momentum ini harus dipahami bukan sebagai Bali antiinvestasi. Investasi dari luar memang perlu. Tapi kalau terlalu banyak, juga akan mendatangkan masalah belakangannya. Seperti sekarang ini,” imbuh politisi asal Buleleng ini.

Yang perlu menjadi perhatian utama dari reopening Bali, khususnya dari sektor pariwisata, adalah kualitas bukan kuantitas. Sebab, menurutnya, selama ini pariwisata di Bali terlalu gencar mengejar kuantitas atau jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya.

“Sehingga di tengah jalan banyak problem yang bermunculan. Bahkan menjurus ke masalah sosial,” tukasnya.

Menyoal kebijakan pemerintah pusat mengenai New Normal yang menurut rencana akan dimulai awal Juni 2020 mendatang, Kariyasa juga menekankan soal penyelenggaraan kepariwisataan yang mulai menerapkan standar kesehatan.

“Pengalaman pandemi Covid-19 ini tentu mengharuskan standar kesehatan menjadi skala prioritas untuk menjaga kualitas pariwisata. Kalau ke negara lain, Australia atau Eropa, memasukan produk seperti ukiran atau makanan, itu tidak boleh. Seharusnya di Bali juga begitu. Kalau mau eksis, ya harus ketat juga,” ujarnya.

“Termasuk di pelabuhan juga harus menerapkan standar pengamanan yang ketat juga,” sebutnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news