Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Jelang Idul Fitri, Nastar masih Jadi Primadona

22 Mei 2020, 10: 29: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jelang Idul Fitri, Nastar masih Jadi Primadona

LARIS: Salah seorang pelaku usaha kue lebaran di Denpasar menunjukkan beragam jenis kue kering. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lebaran sebentar lagi. Hari raya besar yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Momen berkumpul bersama keluarga selalu menjadi hal yang paling istimewa ketika lebaran telah tiba. Jika ditengok, saat lebaran jarang rasanya umat muslim tidak menyediakan aneka kue kering diatas meja tamu. Mulai dari nastar, biskuit, sagu keju, dan masih banyak lagi. Momen inilah yang dimanfaatkan oleh Sinta Winata. Sinta mulai mengolah kue kering untuk kebutuhan lebaran sejak 2 tahun lalu. Berawal dari coba-coba, akhirnya ia pun meneruskannya menjadipeluang uasaha.

Saat menjelang lebaran, Sinta pun kebanjiran order. Berbagai jenis kue kering ia buat seperti nastar, sagu keju, putri salju, choco chips dan yang lainnya. “Yang paling favorit dan banyak dicari adalah nastar dan sagu kejunya. Itu primadona kalau lagi lebaran. Pasti ada aja yang order dua jenis kue ini. Kalau yang lainnya ada, cuma tidak sebanyak dua jenis ini. Dalam sehari saya bisa buat 8 toples khusus untuk nastar aja. Kalau yang lain-lain gak bisa,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di kawasan Gang Ikan Mas, Jalan Raya Sesetan Denpasar Selatan.

Sinta menceritakan, pemasaran untuk kue-kue buatannya itu dilakukan via online. Saat lebaran, orderannya pun menumpuk. Lain halnya tahun ini saat dilanda pandemi, orderan kue kering berkurang. Jika sebelumnya ia mampu menjual lebih dari 100 boks dengan harga yang sama, namun tahun ini ia hanya memproduksi 70 boks. “Kalau tahun lalu sampai lebih dari 100, sekarang cuma 70 aja. Kalau harga per boks itu Rp 100 ribu,” ujarnya.

Sinta pun mengaku, pembuatan kue ini khusus untuk hari raya lebaran setiap tahunnya. Selain di hari raya Idul Fitri, kue-kue kering juga diproduksi saat Hari Natal. Namun produksinya tidak sebanyak hari lebaran. “Kalau hari biasa saya gak buat. Saya usaha yang lain, jualan siomay. Buatnya pas lebaran aja, tapi Natal juga buat dan gak sebanyak pas lebaran. Pokoknya kalau sudah lebaran pasti buatnya banyak, karena yang pesen juga ramai dari hari raya lainnya,” kata dia.

Ia pun mengakui dalam proses pembuatan kue tak jarang terkendala bahan yang terkadang susah untuk dicari dan tidak sesuai kebutuhan. “Kalau kendala yang sulit banget gitu gak ada sih ya. Cuma ada beberapa aja kadang gak sesuai kebutuhan, seperti butter di toko-toko adanya dengan porsi yang besar, sedangkan saya  butuhnya yang kecil. Harga juga kadang naik turun kan, kadang mahal, kadang sedang. Tapi saya berani jamin untuk produk kue saya. Ada harga ada kualitas,” ungkat wanita berambut pendek ini.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news