Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Jangankan Manusia, Dewa pun Bisa Menderita, Maka Jangan Putus Asa

22 Mei 2020, 11: 41: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jangankan Manusia, Dewa pun Bisa Menderita, Maka Jangan Putus Asa

Prof Dr I Wayan Suka Yasa, MSi. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Berbagai masalah kehidupan muncul, efek dari wabah virus Korona yang mengharuskan 'diam di rumah' cukup lama. Rasa putus asa bisa jadi mencuat lantaran kehilangan pekerjaan, keluarga yang sakit, dan memikirkan biaya untuk makan, juga pendidikan keluarga.

Wabah Covid-19 alias virus Korona memang membuat tatanan kehidupan seakan mulai dari nol, karena dunia yang tertimpa masalah. Psikologis manusia terguncang, bahkan tak sedikit yang akhirnya merasa putus harapan atau putus asa.

Dalam ajaran Hindu, putus asa dinamai Kleda yang tertuang dalam Dasa Mala. Sifat putus asa bisa menimbulkan kemalasan dan akhirnya membawa ke hal-hal yang lebih buruk.

Menurut Prof Dr I Wayan Suka Yasa, MSi, rasa putus asa yang dirasakan manusia timbul akibat cara berpikir yang pendek,  bukan karena lingkungan maupun orang lain. “Hidup ini kan ditentukan cara berpikir kita. Kalau berpikir pendek jadinya seseorang  bisa merasa menderita. Timbul rasa putus asa dan akhirnya bisa melakukan kesalahan fatal,” terang Direktur Pasca Sarjana  Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) awal pekan ini.

Kalau berpikir positif, lanjut pria 60 tahun ini, maka  seseorang  akan selalu bersyukur karena dilahirkan menjadi manusia. Bersyukur menjadi manusia dalam kelahiran di dunia ini diungkap dalam Saracamuscaya Sloka 4. Dijelaskannya,  dalam Sloka 4 ditegaskan bahwa menjadi manusia adalah kelahiran yang utama. Karena hanya menjadi manusia sajalah kebajikan dapat dilakukan, dan hanya dengan melakukan kebajikan, maka kesengsaraan dapat dibenahi.

“Marilah selalu berpikir positif. Dengan adanya pandemi Covid-19, dengan pikiran positif akan membuat umat Hindu bisa melakukan tapa bratanya dengan baik," urai dosen  Sastra Hindu dan Tattwa ini.

Dijelaskan bahwa tapa brata yang dimaksud bukanlah bertapa seperti dibayangan kita, melainkan mau diam di rumah dan tahan  menghadapi pandemi ini sampai berakhir nanti. “Suka duka adalah siklus tiada akhir sepanjang zaman ini. Sekarang dukanya hidup muncul dengan adanya wabah Korona. Kita patuhi imbauan pemerintah agar tidak jadi korban. Bahkan kita harus berpuasa karena pandemi ini. Sebelumnya kita bisa makan enak dan bersenang-senang, kini harus semuanya diirit, ternasuk urusan makan ,” tambah Wayan Suka Yasa.


Semua hal ini terjadi, diakuinya  membuat orang akan terkejut, apalagi manusia seakan buntu menghadapi masalahnya, sehingga muncul putus asa.

Akhirnya bisa melakukan tindakan buruk, seperti melakukan tindakan kriminal hingga bunuh diri.
“Putus asa dan ikutan tindakan buruk lainnya muncul karena lemahnya iman dalam diri. Jika iman seseorang  kuat, saat pikiran buntu akan memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan,” papar pria kelahiran  1959 tersebut.

Jadi, agar tidak timbul pikiran pendek, perlu selalu mendekatkan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehingga ketika menemukan jalan buntu dalam setiap masalah, pikiran pendek tidak timbul untuk melakukan hal negatif.


Jika terbiasa memiliki pikiran yang positif, lanjutnya, maka ketika keadaan seperti pandemi Covid-19 ini seseorang akan melakukan bakti pada Tuhan. “Ini keyakinan ya, jika kita yakin pada Yang Kuasa, maka beliau akan memberikan petunjuk bagaimana cara keluar dari masalah ini,” tegasnya.


Wayan Suka Yasa menjelaskan, ada tiga kunci dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini agar tidak sampai putus asa. Tiga kunci itu adalah doa, usaha, dan bersyukur. Berdoa, mendekatkan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melakukan bakti penuh keyakinan. Selanjutnya dengan pikiran yang tenang, seseorang bisa mulai mengambil langkah atasi masalah, termasuk berusaha agar bisa bertahan. Selanjutnya adalah bersyukur dengan apa yang ada dan didapatkan.

"Jika kita bersyukur, maka tidak akan mengeluh atau putus asa. Makanya bersyukur juga menjadi kunci dalam menghadapi pandemi ini. Di masa pandemi ini, manusia sebenarnya dipaksa untuk introspeksi diri," terangnya.


Sebagai umat Hindu, lanjut Wayan Suka Yasa,   bukan hanya manusia saja yang bisa mengalami ujian berat seperti Covid-19 ini. Dewa yang ada di kahyangan pun mengalami hal yang sama.

Dikatakannya, dalam kitab umat Hindu ada kisah para dewa harus menderita akibat serangan para raksasa.  “Bukan hanya manusia saja, dewa pun bisa menderita. Mereka pernah kalah berperang dengan raksasa,” ungkapnya.


Dewa yang kalah lantas mundur dan  memohon bantuan Tuhan melalui dewa tertinggi, Tri Murti. Walau yang meminta dewa, para Dewa Tri Murti tidak serta merta membantu. Akhirnya jalan yang dipilih para dewa adalah melakukan tapa brata, sehingga bisa mendapat bantuan dan  berkah Dewa Tri Murti.


“Dewa di kahyangan bisa kalah karena lalai. Saat raksasa melakukan tapa brata, para dewa tidak melakukannya. Raksasa mendapat berkah dan menggunakan berkah itu memperluas kekuasaanya dengan menyerang para dewa,” bebernya.


Dari petistiwa tersebut  para dewa introspeksi diri, dan melakukan tapa brata juga untuk mengalahkan raksasa.

Membandingkan kisah itu, lanjutnya, maka kasus Covid-19 itu layaknya asura atau raksasa. Saat mereka menang, manusia mundur ke pertapaanya dan mendekatkan diri dengan bakti pada Tuhan sebagai jalan untuk menemukan jalan keluar permasalahan yang dihadapi.

Wayan Suka Yasa menyarankan, jika ada sahabat atau anggota keluarga yang mulai terlihat menemui jalan buntu lantaran pandemi ini, bantu untuk meningkatkan keyakinannya pada Tuhan, bahwa ia bisa melewati masa krisis ini.

“Lakukan semua dengan keyakinan, berkonsentrasi ke dalam diri sendiri. Sebab apa pun yang kita lakukan adalah karena keyakinan," terang pemangku di Pura Mahawidya Mandira UNHI Denpasar ini.


Dipaparkannya, soal keyakinan juga dijelaskan dalam Bhagawadgita sloka 17.3 yang  intinya bagaimana seseorang itu ditentukan oleh keyakinannya sendiri. "Bagaimana cara ia berpikir, maka begitulah hasil yang ia akan peroleh,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news