Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Lagi, Gunung Agung Berpayung Awan

Pertanda Baik untuk Bali, Tapi Berbahaya Bagi Penerbangan

22 Mei 2020, 18: 42: 42 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pertanda Baik untuk Bali, Tapi Berbahaya Bagi Penerbangan

BERPAYUNG AWAN : Bentukan awan Lenticularis menyelimuti puncak Gunung Agung, Karangasem, Bali, sejak pagi, Jumat (22/5). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Fenomena menakjubkan tersaji kembali di puncak Gunung Agung, Karangasem, Jumat (22/5). Adanya kumpulan awan tebal mirip seperti payung menutupi sekeliling puncak Giri Tohlangkir, sebutan lain Gunung Agung, dinilai sebagai pertanda baik bagi masyarakat Bali. Benarkah?

Bendesa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Jro Mangku Widiartha pernah mendengar penuturan para tetua tentang fenomena awan yang disebut awan Lenticularis itu. Menurut kepercayaan masyarakat, fenomena Lenticularis merupakan tanda bahwa masyarakat bakal mendapat anugerah atau perlindungan.

"Jika fenomena ini dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat Bali, jelas kita terlindungi. Bagaimana Ida Bhatara yang berstana di puncak Giri Tohlangkir seakan melindungi. Payung ibarat melindungi dari panas dan hujan, kita mendapat anugerah-Nya," ucap Widiartha kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Menurutnya, segala sesuatu apapun, hendaknya selalu dinilai dengan pikiran positif. Terkait fenomena serupa, Widiartha menuturkan awan Lenticularis pernah muncul 19 Maret 2009, saat upacara Agung Panca Balikrama di Pura Agung Besakih berlangsung. "Saat itu, kami percaya, apapun yang terjadi akan baik buat masyarakat," tegasnya.

Awan Lenticularis muncul sejak pagi dan berlangsung beberapa jam. Bahkan sesuai rilis pos pengamatan Gunung Agung, awan payung masih teramati hingga pukul 11.47 Wita. Menurut Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Imam Faturahman, awan Lenticularis merupakan pertanda adanya gelombang gunung. Awan ini mulai terbentuk ketika arus angin yang mengalir sejajar, mendapat hambatan dari objek tertentu seperti pegunungan. 

Akibat hambatan tersebut, arus udara bergerak naik secara vertikal menuju puncak awan. Jika udara naik tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung.

"Saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti. Inilah mengapa awan Lenticularis terlihat diam karena awan mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin di puncak gunung, kemudian menghilang di sisi turunnya angin," jelas Imam ketika dihubungi media ini di Denpasar.

Imam menyebut, suhu awan tersebut mencapai 0 -1 derajat celcius. Meski begitu, keberadaan awan itu tidak berdampak buruk bagi masyarakat sekitar lingkaran gunung. Hanya saja, awan ini akan sangat berbahaya bagi para pendaki. "Gelombang gunung ini juga dapat menyebabkan terbentuknya turbulensi yang berbahaya bagi penerbangan," pungkas Imam.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news