Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Menguasai Hawa Nafsu

Oleh: Hakim D. Saputra

22 Mei 2020, 20: 55: 46 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Esai Lebaran

Hakim D. Saputra (Agung Bayu)

Share this      

Hari Raya Idul Fitri. Benarkah kita kembali suci, terbebas dari dosa-dosa, ibarat bayi baru lahir? Sebagian mungkin beranggapan demikian. Namun, anggapan tentang makna Idul Fitri ini adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan. Memaknai Idul Fitri tentu harus merujuk pada nash-nash Alquran dan Hadits.

Rasulullah Salallahualaihiwasallam bersabda, “Hari mulai berpuasa adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari Fitri adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Albani)

Dikutip dari penjelasan Ustad Wira Bachrun (alumni Darul Hadits Yaman), disebutkan oleh Al Allamah Ibnu Abidin dalam Raddul Mukhtar (2/165), "Hari raya disebut sebagai ‘Ied karena di hari-hari tersebut Allah menganugerahkan berbagai jenis kebaikan pada setiap tahunnya. Di antaranya adalah kebolehan untuk makan setelah sebelumnya dilarang (di bulan Ramadan) dan juga disyariatkannya zakat fithri.."

Jadi fitri artinya kembali makan setelah sebelumnya berpuasa. Tidak ada kaitannya dengan suci dari dosa. Di sisi lain, tidak ada yang bisa memastikan usai Ramadan kita 'kembali ke fitrah' kita, suci kembali dari dosa. Jadi ada perbedaan makna mendasar. Yakni kata ‘fitri’ dan ‘fitrah.’

Darimana kita bisa memastikan amalan kita di bulan Ramadan diterima dan dosa-dosa kita diampuni Allah? Allah ta’ala berfirman,

 “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (An-Najm: 32)

Maksudnya yang mengetahui diterima atau tidaknya amalan kita adalah Allah ta’ala sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Ibnu Katsir. Yakni segala sesuatu mengenai hal ini dikembalikan kepada Allah azza wajalla. Dialah yang lebih mengetahui hakikat semua perkara dan hal-hal yang rumit.

Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Mungkin paling berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tak bisa salat id di lapangan atau masjid. Tak bisa silaturahim. Dan yang menyedihkan, tak bisa mudik bagi yang di perantauan. Namun, haruskah kita bersedih karena semua hal itu?

Sedih sewajarnya, ya tidak mengapa. Dan memang wajar. Namun, seharusnya kita lebih bersedih karena Ramadan telah pergi. Tanpa amal yang maksimal. Dengan hawa nafsu yang masih menguasai diri kita. Bukankah kita yang seharusnya mampu menguasai hawa nafsu?

Kita selama ini selalu bahagia menyambut Ramadan dan Idul Fitri. Namun, karena apa kita bahagia? Apakah karena selalu ada masakan spesial untuk berbuka puasa?

Apakah perasaan kita saat Idul Fitri, senang karena bisa mudik? Senang karena memakai pakaian baru? Senang karena ingar-bingar suasananya? Senang karena bertemu banyak orang? Jika rasa senang kita karena semua hal itu, jangan-jangan perasaan kita itu tidak ada nilai ibadahnya.

Setiap lebaran, semua umat muslim pasti merasa senang. Entah selama Ramadan dia puasa atau tidak. Bahkan, ironisnya, yang tahun-tahun lalu kerap terjadi, kriminalitas seperti pencurian, perampokan, kerap meningkat jelang lebaran. Rupanya ini memang berkorelasi dengan perayaan lebaran. Beberapa pelaku yang tertangkap dan diinterogasi mengaku nekat berbuat kriminal demi kebutuhan lebaran. Jadi, apakah kebahagiaan kita saat lebaran hanya sebatas kebahagiaan mereka yang berbuat kriminal tersebut? Bukan bahagia yang bernilai ibadah. Hanya bahagia yang berlandaskan hawa nafsu. 

Pandemi Covid-19, di tengah suasana Ramadan dan Lebaran, sesungguhnya adalah cobaan bagi kita. Selama Ramadan, umat muslim dituntut menghadirkan kualitas ibadah sama dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Padahal, semangat kita kebanyakan justru berkurang, karena tidak bisa lagi tarawih berjamaah di masjid, atau buka bersama dengan banyak orang.

Ramadan dan Lebaran di tengah pandemi, bisa jadi, menjadi ujian, siapa yang benar-benar mampu menguasai hawa nafsunya. Siapa yang beribadah memang murni ikhlas karena Allah. Beribadah atas dasar ilmu. Bukan atas dasar nafsu.

Islam mengatur sedemikian detail segala hal dan kondisi. Termasuk tata cara beribadah ketika wabah melanda suatu negeri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Dalam hadits lain, Rasulullah juga bersabda, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” 

Jadi, dari hadits-hadis tersebut, imbauan agar tidak salat Id di masjid dan lapangan, tentu memiliki dasar kuat. Sebagaimana imbauan agar sementara tidak salat berjamaah di masjid hingga wabah benar-benar hilang. Termasuk mematuhi anjuran tidak berkumpul dengan banyak orang atau bersilaturahim dari rumah ke rumah, sementara waktu. Bisa jadi, keikhlasan kita, mematuhi semua ketentuan tersebut, bernilai ibadah tinggi dan mendapat ganjaran pahala besar dari Allah.

Semoga kita benar-benar bisa menjalankan ibadah karena ikhlas sesuai tuntutan syariat, bukan karena hawa nafsu. Selamat Idul Fitri. Taqabbalallahuminna wa minkum. Maaf lahir batin. (*)

*Wartawan Bali Express (Jawa Pos Group)

(bx/aim/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news