Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Ketika Orang Kampung Dilarang Pulang Kampung

Oleh: Made Adnyana Ole

23 Mei 2020, 08: 12: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ketika Orang Kampung Dilarang Pulang Kampung

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

ORANG yang paling susah dilarang pulang kampung, antara lain mungkin saja orang Bali. Tentu, karena sebagian besar orang Bali adalah orang kampung. Jika mereka dilarang pulang kampung, ke mana mereka harus pulang? Meski misalnya mereka puluhan tahun tinggal di kota, bahkan sudah punya tanah dan rumah sendiri, mereka akan tetap merasa jadi bagian dari kampung, tak terpisahkan. Maka, jika mereka dilarang pulang kampung, sungguh inguh, resah dan gelisahlah mereka.

Urusan pulang kampung di Bali bukan sekadar urusan kangen-kangenan dengan keluarga. Pulang kampung lebih banyak banyak punya hubungan dengan upacara adat atau upacara agama. Saat Galungan, atau saat musim pujawali, berbondong-bondong orang Bali pulang kampung. Tujuannya apa? Ya, ngayah dan sembahyang. Jika pun masih punya kesempatan untuk main kartu cekian, itu dianggap hiburan saja, sekadar hiburan sesama teman dari kota yang bertemu di kampung, yang sesungguhnya sama-sama orang kampung juga.   

Untuk urusan sembahyang, orang Bali memang merasa lebih sreg dan lebih klop jika sembahyang di Pura milik desa adat di kampung. Pura ada di mana-mana. Dan Bali bolehlah dianggap sebagai Pulau Seribu Pura. Tapi kalau urusan sembahyang, orang Bali tetap sembahyang di kampung. Ada seseorang yang rumahnya dikelilingi Pura di kota, tapi saat Galungan atau Kuningan, ia bersama keluarganya tetap sembahyang di kampung. Itulah salah satu alasan kenapa saya menganggap orang Bali sebagian besar orang kampung.

Banyak orang Bali tinggal di kota, pindah domisili secara administratif. KTP-nya pun atas nama kota. Tapi tak ada istilah pindah domisili untuk desa adat. Kalau pun misalnya ada, saya jamin tak akan banyak yang memilih pindah desa adat. Status desa adat mereka tetap di kampung, sejauh apa pun jarak kampung mereka dari kota. Karena itulah mereka tetap punya niat besar dan tujuan mulia untuk pulang kampung. Jika tak pulang kampung, mereka merasa berdosa, mereka merasa tak punya asal-usul. Dan bisa dibayangkan betapa resah orang Bali jika ia tak tahu asal-usul.

Saya tak tahu apakah terdapat aturan yang membolehkan orang sesukanya pindah desa adat, misalnya dari desa adat di kampung ke desa adat di kota. Yang jelas tak banyak saya dengar orang mengurus surat-surat untuk pindah desa adat. Jika pun misalnya dibolehkan orang pindah desa adat tanpa banyak syarat yang memberatkan, saya yakin tidak banyak juga orang yang memilih untuk pindah desa adat. Sebabnya, ya itu tadi, orang harus punya desa adat di kampung, agar selalu punya alasan untuk pulang kampung. Jadi, kampung, di Bali, adalah desa adat. Jadi, bolehlah dikatakan, orang Bali yang tinggal di kota, tidaklah iklas menjadi orang kota.

Pengertian orang kampung, terutama di Bali, bagi saya, bukanlah orang yang kolot, sebagaimana pengertian kata kampung yang berarti kolot dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Suatu kali, saat saya bekerja di sebuah stasiun siaran radio swasta, saya melakukan survei untuk mengetahui orang-orang seperti apa yang mendengar siaran radio kami. Hasil survei itu sungguh mengejutkan. Orang yang berpenghasilan di atas Rp 20 juta sebulan, yang sebagain besar pengusaha dan pejabat penting di perusahaan-perusahaan besar, seperti hotel, restoran, BUMN, atau perusahaan swata, ternyata  lebih banyak mendengarkan program acara berbahasa Bali yang memutar lagu-lagu Bali. Bahkan sebagian besar dari mereka menyukai siaran acara makakawin atau matembang, atau magaguritan. Mereka hampir semuanya tinggal di kota.

Artinya, setidaknya dari hasil survei itu, saya punya kesimpulan; orang-orang kampung di Bali adalah kelompok orang menengah ke atas, baik secara ekonomi dan status sosial. Mereka itulah orang-orang kampung yang tinggal di kota. Mereka adalah orang-orang yang juga selalu rajin pulang kampung.  Maka itu, jika stasiun radio mengadakan acara jumpa fans untuk program acara berbahasa Bali, sangat ramailah orang yang datang. Kendaraan mereka sebagian adalah mobil dengan merk terkenal. Tapi, yang unik, jiwa kampung mereka masih tetap kental. Mereka tetap menggunakan Bahasa Bali dan pakaian mereka adat, meski kemeja dan kain yang dipakainya tetap berkualitas dengan harga mahal.

Nah, orang-orang kampung dengan kelas ekonomi yang tinggi semacam itu, jika dilarang pulang kampung mungkin merasa nyeri di dada dan sakit di hati. Mereka pastilah pusing tujuh keliling karena tak sempat turut ngayah atau sembahyang di Pura di kampung yang mereka cintai bertahun-tahun. Kalau terlalu lama tak pulang kampung, bisa-bisa jiwa mereka kosong. Rumah besar miliknya di kota seakan-akan tak punya makna. Kekayaan sudah tak ada artinya lagi, Kampung, adalah tempat mereka memberi nilai dan mendapatkan nilai bagi apa yang mereka kerjakan dan mereka capai selama ini. 

Namun, dengar-dengar, pada musim pandemi Covid-19 ini, orang-orang kampung yang kaya-kaya itu tidaklah terlalu sakit hati jika harus dilarang pulang kampung. Jika mereka ngotot pulang kampung, justru akan muncul rasa curiga. Odalan sudah disederhanakan, pujawai hanya boleh diikuti 25 orang, kegiatan adat dikurangi, upacara pernikahan tak diizinkan besar-besaran, bahkan ngaben pun dilarang. Jadi, untuk apa lagi pulang kampung?

Tapi, saya, orang kampung yang tinggal di kota dan bukanlah orang dari kelas ekonomi menegah ke atas, justru sungguh-sungguh sangat ingin pulang kampung. Urusannya bukan lagi upacara adat atau agama, melainkan urusan ekonomi. Saya ingin meminta sembako dari ayah saya di kampung. Karena betapa sakit hati saya, sehari-hari harus tetap membeli beras, padahal ayah di kampung masih setia memproduksi beras. Lebih sakit hati lagi, saya harus membeli sayur di pasar, seikat harganya seribu, padahal kebun sayur milik ayah saya dibabat habis dan diolah kembali menjadi pupuk. Gara-garanya, tak ada yang beli. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news