Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Dirumahkan, Garap Kuliner Kakul, Olah Menjadi Lima Jenis Menu Lezat

02 Juni 2020, 13: 51: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dirumahkan, Garap Kuliner Kakul, Olah Menjadi Lima Jenis Menu Lezat

MASAK KAKUL : Wiwin Fitria Dewi saat mengolah kakul untuk pesanan. Bersama suami, Wiwin membuka usaha kuliner dadakan. (KRISNA PRADIPTA/BALI EXPRESS)

Share this      

Banyaknya pekerja hotel yang dirumahkan akibat pandemi Covid-19, tentu membuat kehilangan pemasukan rutin tiap bulannya. Seperti yang dirasakan pasangan suami istri yang tinggal di Kuta Utara ini, dimana mereka kompak membuka usaha kuliner dadakan berupa olahan kakul (keong sawah). 

DEWA KRISNA PRADIPTA, Badung

MEREKA adalah I Putu Ngurah Riski Raditya dan Luh Putu Wiwin Fitriya Dewi. Pasangan muda yang dikaruniai seorang putri ini, tak malu dalam membuka usaha kuliner kecil-kecilan itu, ya tujuannya supaya ada pemasukan agar dapur di rumahnya tetap mengebul. 

"Bisa dikatakan baru berjalan sebulan lebih. Saya dan istri kan bekerja di hotel dulu, ya karena pandemi ini, terpaksa dirumahkan. Daripada berdiam diri, kenapa tidak coba buka usaha saja. Kakul inilah yang akhirnya kami pilih," terang Riski Raditya diamini sang istri saat Bali Express (Jawa Pos Grup) menyambangi kediamannya di Dalung Permai, Senin (1/6).

Pemilihan kakul menjadi usaha kulinernya karena diakui masih belum terlalu banyak yang menggarap usaha serupa. Selain itu, dirinya terbersit dengan cerita orang tua mereka bahwa kakul pernah menjadi santapan pokok sehari-hari masyarakat di era tahun 70-80-an. 

Lebih lanjut, bahan yang ia dapatkan memang tidak dicari langsung ke sawah, melainkan membeli di pasar. Namun, harganya terbilang mahal. Satu kilo saja dengan cangkang yang sudah terpisah, seharga Rp 40 ribu. "Biasanya beli 2 kilo untuk sekali pembelian," sambung Wiwin Fitria menimpali. 

Untuk olahan kakul yang ia buat ada sate kakul bumbu plecing, sate kakul bumbu kacang, sate bumbu asam manis, tumis kakul suna cekuh dan kakul menyatnyat. Rata – rata respon konsumen menyebut enak. "Bersyukur responnya cukup positif. Ada saja yang pesan, bahkan sampai berkali-kali. Tapi, sistemnya itu pre-order, kalau ada yang pesan, baru dibuatkan. Untuk pemasarannya, lebih banyak lewat media sosial dan dititipkan di warung-warung," ucap Riski seraya menambahkan, harga satu porsi berkisar antara Rp 10-12 ribu. 

Hanya saja, disinggung mengenai kelanjutan bisnis dadakannya ini, Risky dan Wiwin kompak menyebut akan melihat situasi ke depan. Pasalnya, keduanya mengaku prioritas utamanya adalah melanjutkan profesinya yang dulu. "Ya liat saja nanti, kalau memang bisa balik lagi ke profesi yang lama, mungkin bisnis ini saya hibahkan ke saudara saya atau saudaranya istri," tandas Riski.

(bx/dip/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news