Rabu, 20 Jan 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Kebun Strawbery Sepi, Pemilik Banting Stir Jualan Bakso Balung

05 Juni 2020, 16: 00: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kebun Strawbery Sepi, Pemilik Banting Stir Jualan Bakso Balung

BANTING STIR: Yock saat melayani penikmat Bakso Balung yang berkunjung di warung makannya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Banting stir di tengah mewabahnya pandemic Covid-19 bukanlah hal yang baru. Seperti yang dilakukan Gede Adi Mustika. Pemilik Wiwanda Agrowisata yang berlokasi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada memilih berjualan bakso babi demi menyambung hidup lantaran sepinya pengunjung ke kebun strawberi organiknya. Seperti apa?

 

I PUTU MARDIKA, Singaraja

CORONA memang membuat sendi perekonomian ambyar. Namun hidup haruslah tetap berjalan. Prinsip itulah yang diterapkan Gede Adi Mustika alias Yock. Usaha Agrowisata dengan konsep strawberry picking bagi pengunjung yang dirintisnya sejak 2013 lalu benar-benar lumpuh. Bagaimana tidak, sejak 15 Maret lalu, kebun strawberrynya sepi pengunjung.

Dalam kebun tersebut, pengunjung bisa memetik strawberry sembari berselfie ria dan makan buah cinta itu di lokasi sepuasnya. Bahkan, pengunjung sudah dapat free jus strawbey yang segar dan manis.

Yock menceritakan, saat situasi normal, dalam sehari jumlah wisatawan asing maupun domestic yang berkunjung ke kebun strawberry organic berkisar 50-100 orang. Tiket masuk ke kebun itu dibanderol per orang Rp 25 ribu.

Bahkan, sejak beberapa bulan lalu, tiketnya dinaikkan menjadi Rp 50 ribu. Sebab, di kebun itu ia  tambah sejumlah wahana seperti tempat berselfie yang instagramable. Namun, setelah Corona mewabah, tingkat kunjungan pun anjlok hingga titik nadir.

“Sepi sekali sejak 15 Maret lalu. Sama sekali tidak ada tamu yang datang. Akhirnya kebunnya off beroperasi. Sejumlah karyawan juga terpaksa dirumahkan sementara,” ujar Yock, Jumat (5/6) siang.

Tak ingin berlama-lama terpuruk dalam ketidakpastian, Yock pun mencoba peruntungan baru. Ia membuka warung bakso babi balung. Lokasinya persis di depan pintu masuk menuju kebun strawberrynya.

Ada tiga varian bakso yang ia jual. Ada bakso babi yang dibanderol Rp 10 ribu, bakso beranak Rp 15 ribu dan bakso campur dibanderol Rp 20 ribu. Dalam sehari, Yock bisa menghabiskan 6-10 kg daging babi lengkap dengan balungnya.

Penjualannya pun trendnya meningkat. Dalam sehari Yock yang mempekerjakan 3 orang karyawan mampu menjual hampir 30-50 mangkuk bakso beragam jenis. Bahkan, dalam hitungan tiga minggu, Yock berhasil membukukan omset hingga Rp 10 juta.

“Sudah hampir satu bulan berjualan. Memang pembelinya masih orang sekitar. Ada juga pelanggan yang kebetulan lewat, mereka istrirahat, beli bakso. Ya astungkara, animo masyarakat masih sangat tinggi” terang pria yang juga sebagai Kepala Satgas Gotong Royong Desa Adat Pancasari ini.

Yock menambahkan, selama kebunnya off menerima kunjungan, ia memilih melakukan renovasi di areal kebun. Seperti meremajakan 45 ribu pohon strawberynya agar tetap produktif setelah pandemic Corona mereda.

Selain itu, usaha bersama yang dirintis bersama masyarakat di Desa Pancasari yang bergerak di bidang kuliner ikan mujair juga terpaksa tutup sementara. Pasalnya belum ada aktifitas yang dibuka di tepi danau buyan.

“Kami juga punya kelompok usaha bersama dengan sejumlah masyarakat di tepi Danau Buyan. Tetapi itu juga tutup karena memang sepi,” pungkasnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news