Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Teman Sayur Rangkul Petani, Edukasi Pembeli di Tengah Pandemic

05 Juni 2020, 17: 37: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Teman Sayur Rangkul Petani, Edukasi Pembeli di Tengah Pandemic

TEMAN SAYUR: Memanen cabai hijau bersama petani (ANGGARA MAHENDRA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Ditengah pandemic corona saat ini, banyak masyarakat dibuat galau. Banyak sektor yang terdampak akibat mewabahnya virus corona. Yang paling terpukul adalah sektor pariwisata. Tidak saja itu industri lainnya juga turut tiarap. Tak terkecuali petani.

Walaupun mereka mampu bertahan dan menghasilkan hasil panen yang banyak, para petani sering kebingungan kemana mereka harus membawa hasil panennya. Biasanya sebelum corona menyerang, para petani tidak pernah segalau sekarang untuk menjual hasil panen.

Walaupun harganya murah,mereka masih tetap bisa menjual karena sudah ada agen-agen tertentu yang diajak kerjasama untuk mendistriusikan hasil panen. Baik di wilayah Bali maupun di luar Bali. Kini beberapa toko, hotel dan restoran yang dulu membutuhkan sayur banyak sudah tutup. Akses ke luar Bali pun susah. Bahkan dilarang.

Untuk membantu petani dalam memasarkan hasil panen terutama sayur kebutuhan dapur, Teman Sayur hadir untuk merangkul mereka. Teman sayur merupakan sebuah brand yang dibuat oleh sepasang kekasih. Sebut saja Anggara Mahendra dan Kristina Komalasari. Mereka berdua kompak menjadikan sebuah keisengan sebagai bisnis dengan merangkul para petani. Teman Sayur ini berbasis online dengan sistem preorder.

Ketika dikonfirmasi via telepon Selasa (2/6) dengan senang hati ia menceritakan tentang Teman Sayur. Ia pun menjelaskan bagaimana Teman Sayur itu berkembang. “Nama teman sayur sendiri bermula dari seringnya ketemuan dengan pemesan sayur yang ternyata banyak teman-teman lama dan mendapat teman baru. Karena sayur jadi berteman, akhirnya jadi teman sayur. Begitu pula dengan petaninya sendiri. Sistem pra-pesan sayur dibuat daftarnya lalu disebar via instagram dan media daring lainnya. Biasanya beberapa hari sebelumnya. Lalu di petani akan dipanen sesuai pesanan yang kami kirim di hari yang ditentukan lewat jasa kurir,” kata dia.

Cara yang dilakukan sejoli ini cukup unik. Mereka lagsung mendatangi petani untuk mendapatkan sayur segar. Hal ini juga untuk memotong alur pendistribusian yang panjang dan menghindari harga yang tinggi. Bila melalui beberapa agen atau pengepul, sayur yang sampai ke tangan konsumen harganya bisa sangat mahal dan kualitas sayurnya juga pasti kurang. Selain mendatangi petani secara langsung, mereka juga memberikan edukasi kepada calon pembeli tentang sayur-sayur yang mereka jual. Lewat akun instagram Teman Sayur, setiap postingan yang diunggah selalu dilengkapi dengan ulasan singkat sebagai upaya edukasi kepada pembeli.

Jadi para calon pembeli menjadi tau apa yang akan mereka makan. Selain itu, calon pembeli dan pembeli tau darimana sayur yang mereka beli. “Teman sayur berusaha memberikan harga yang lebih pantas kepada petani dan memotong jalur distribusi. Gerakan kecil yang dimulai dari kebun keluarga sendiri. Selain itu teman sayur menyajikan cerita dan visual tentang pertanian dan produk sayur yang dijual agar calon pelanggan atau pelanggan juga memahami darimana sayur yang mereka dapat dan dengan ini diharapkan lebih berkembangnya apresiasi pada petani. Sehingga profesi petani menjadi lebih keren,” jelas Anggara.

Selain itu, ditengah pandemic ini Anggara dan Kristina selalu menyemangati para petani yang mereka kunjungi. Para petani pun merasa sagat termotivasi dengan kehadiran mereka. Disamping itu, tak jarang juga mereka bergabung bersama petani, turut memetik sayuran dikebun. Sejauh ini, mengunjungi kebun-kebun yang kebanyakan berlokasi di Buleleng merupakan kesenangan tersendiri bagi pasangan ini. Walau saat ini sedang booming-boomingnya wabah corona, Anggara dan Kristina tidak menyerah. Mereka tidak diam. Mereka tetap mendatangi petani dan ikut berkegiatan di kebun. Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Kami menganggap berkegiatan dengan Teman Sayur seperti jalan-jalan, mendapat teman, liburan dan belajar di jalanan dari teman lama atau teman baru yang ditemui. Jadi tidak mengganggap kendala seperti masalah. Walau sedang ada virus, kami berupaya bagaimana agar para petani ini bisa tetap produktif. Meski corona sedang mewabah, bukan berarti semua harus terhenti,” kata lelaki yang kerap disapa Ang ini.

Kesibukan menjual sayur memang menjadi yang utama. Tapi selain itu dalam menjajaki petani mereka pun berusaha belajar serta memahami aktivitas yang dilakukan petani. “Banyak mendapat teman dan ilmu baru. Contohnya bagaimana cara merawat tanaman, cara mengatasi hama dengan pestisida nabati, cara memperlakukan tanaman. Mereka yang kami datangi cukup welcome. Menerima kami dengan senang hati. Kami pun berusaha bagaimana agar terjalin hubungan yang baik, bukan sekedar petani dan penjual tapi bagaimana bisa menjadi teman,”ucap Ang.

Penjual sayur seperti Aggara dan Kristina ini memang sedikit berbeda dari penjual sayur pada umumnya. Mereka bukan penjual sayur biasa. Bukan pula kaleng-kaleng kalau kata ABG jaman sekarang.

Dari setiap perjalanan yang dilakukan mereka selalu mengabadikan moment. Mereka juga menarik minat pembeli lewat ulasan-ulasan singkat yang mudah dipahami dengan konten yang mengedukasi. Selama wabah corona memang mereka lebih banyak berdiam diri di rumah. Akan tetapi aktivitas Teman Sayur di Instagram terus berjalan. Sistem pra-pesan yang dilakukan tetap berjalan. Sekali lagi ini untuk membantu membangkitkan lagi pertanian yang sempat dipandang sebelah mata. Kini pariwisata yang diagug-agungkan sedang tertidur. Dan pertanian yang dulu boleh dikatakan kurang dilirik kini kembali merangkak. Seluruh lapisan kini bergantung pada pertanian, karena dari hasil pertanian bisa memenuhi kebutuhan dapur. Jika itu terpenuhi maka sudah pasti bisa bertahan hidup. Seperti itulah prinsip Teman Sayur. Konsep yang benar-benar unik dan menginspirasi. Tidak banyak orang yang mampu melakukan hal tersebut. Namun pasangan muda ini secara konsisten mampu melakukan hal tersebut.

Ang pun membeberkan, sesungguhnya Teman Sayur ini sudah ada dari tahun 2008 lalu. Sayur-sayur yang dipasarkan lebih banyak diambil dari wilayah Asah Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Sayuran dari wilayah puncak itu memang terkenal good quality. Saat ini Teman Sayur berusaha menjaga kualitas dari sayur yang mereka jual.

Apalagi ditengah pandemic ini, banyak orang yang membutuhkan sayur segar untuk menambah asupan gizi mereka agar daya tahan tubuh terjaga. Melalui Teman Sayur, tidak saja para petani yang terbantu dalam proses penjualannya. Para ojek online pun diuntungkan karena pemesanannya dilakukan dengan sistem online. Yang paling penting, calon pembeli juga merasa terbantu dari segi pengetahuan bahan makanan yang akan mereka konsumsi. Jadi mereka pun tidak ragu untuk membeli produk sayur langsung dari petani lewat pemasaran yang dilakukan Teman Sayur.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news