Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Miris Tiga Anak di Denpasar

Ayah Meninggal, Ibu Pamit Beli Bunga, Malah Pulang “Rumah Bajang”

11 Juni 2020, 12: 34: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ayah Meninggal, Ibu Pamit Beli Bunga, Malah Pulang “Rumah Bajang”

MIRIS: Masih kecil mereka merasakan hidup pahit. Ayahnya meninggal, ibunya malah pergi. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin demikian ungkapan yang pas untuk menggambarkan nasib tiga anask bersaudara yang tinggal di Jalan Patih Nambi, Banjar Tulang Ampiang, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Denpasar, Bali.

NI LUH DIAN SURYANTINI, Denpasar

KETIGA bocah tersebut yakni Gede Suardika, 9, yang kini baru menginjak kelas 4 SD di SDN 6 Ubung. Sementara anak kedua, Kadek Sugiadnyana, 6, yang baru akan masuk SD dan anak terakhir Komang Budi Swari yang baru berumur 6 bulan. Mereka kini diasuh kakek dan nenek serta pamannya paska ditinggal kedua orangtuanya.

Masih kecil mereka merasakan hidup pahit. Ayahnya meninggal, ibunya malah pergi (Dian Suryantini)

Diketahui sang ayah telah meninggal 9 bulan lalu karena serangan jantung. Sementara sang ibu meninggalkan buah hatinya pulang ke rumah asalnya (mulih bajang) di Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali.

Diduga sang ibu memilih pergi pulang ke kampung halaman karena didera himpitan ekonomi dan tidak lagi mampu menghidupi anak-anaknya sepeninggal sang suami. Kini ketiga anak itu hidup diasuh oleh sang kakek Ketut Parta, 70 dan nenek Luh Ngebek, 66 yang sudah berusia renta serta seorang paman Ketut Artawa, 31 yang tulus memberikan kasih sayangnya.

Saat dikunjungi ke rumahnya, ketiga bocah ini tengah bermain di halaman rumah bedeng yang ia tempati saat ini. Sementara si bungsu yang baru berusia 6 bulan nampak digendong oleh sang paman sambil meminum sebotol susu.

Keluarga yang berasal dari Desa Sudaji Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng, ini hanya tinggal dalam sepetak rumah bedeng. Nampak dinding dari rumah tersebut terbuat dari triplek dengan kondisi yang usang dan rapuh. Nampak juga beberapa lubang pada dinding rumah. Atapnya pun terbuat dari triplek. Tak dapat dibayangkan jika hujan deras menerpa rumah mereka. Selain itu, rumah bedeng di areal sekitar 1 are, ini hanya berlantai tanah dan memiliki dua kamar. Mereka pun harus tidur bersama dalam satu kasur di satu kamar tidur. Kondisinya pun tak layak, sempit dan sedikit pengap. Sedangkan kakek-nenek di satu kamar sebelahnya dengan kondisi yang serupa.

Sehari-hari kakek dan neneknya hanya menggarap lahan milik orang seluas 3,5 are serta harus membayar sewa lahan Rp 1 juta per tahunnya.

Ketut Artawan saat ditemui di rumahnya, Rabu (10/6) mengungkapkan, ketiga keponakannya tersebut merupakan anak dari kakaknya yang nomor 2 dari 4 bersaudara. Kakaknya, Made Restina sebelumnya tinggal di sebuah kontrakan bedeng di Perumahan Nuansa Hijau. “Setelah meninggal karena serangan jantung 9 bulan lalu ketiga anak dan ibunya, Ni putu Sudarni memilih pindah ke rumah mertuanya di Jalan Patih Nambi sambil bekerja sebagai tukang jarit pakaian dan tas di sebuah rumah bedeng,” katanya sambil menggendong si bungsu.

Artawan pun menceritakan, ibu kandung ketiga keponakannya, Ni Putu Sudarni sebelumnya pergi dari rumah dengan alasan membeli bunga. Namun hingga malam tak kunjung datang. Pihak keluarga pun sempat kebingungan, hingga akhirnya mendengar kabar bahwa iparnya tersebut telah berada di rumah orangtuanya di Buleleng.

“Sekitar lima hari lalu, pas hari raya Purnama, dia pamit bawa sepeda motor keluar buat beli bunga. Tapi kok lama sekali. Sampai malam tidak pulang-pulang,” ujarnya.

“Jadi kami cariin. Takutnya terjadi sesuatu dijalan. Tak lama, saya terima telepon dari bapaknya, dibilang kalau ipar saya sudah ada di Lokapaksa, di rumah bajangnya,” tuturnya Artawa.

Artawa menambahkan, biaya hidup ketiga keponakannya itu didapat dari hasil kerja kerasnya menjadi kuli bangunan, serta kedua orangtuanya sebagai penggarap. “Saya Cuma buruh bangunan. Bapak cuma penyakap (penggarap) sawah dan ibu kadang munuh padi. Hasilnya untuk biaya hidup kami dan anak-anak ini,” ujar dia.

Sementara, Ketut Parta menceritakan, dia dan keluarganya merantau dari Singaraja ke Denpasar sejak tahun 2005 karena sudah tidak ada pekerjaan. Sampai di Denpasar dia dan keluarga tinggal di kawasan Cargo di rumah bedeng dengan bekerja sebagai penggarap sawah. Namun, karena garapan sawahnya di kawasan Cargo sudah beralih fungsi dia ditawari oleh pemilik lahan untuk menggarap sawah di kawasan Jalan Patih Nambi.

“Saya pindah ke sini karena di Singaraja sudah tidak ada pekerjaan. Jadi saya di sini saja. Kalau tidak ada pekerjaan lagi di Denpasar ya saya pulang. Tapi karena masih ada jadi saya tinggal di sini saja. Kalau saya paksakan pulang mau makan apa. Ini saya dikasi untuk menggarap 3,5 are sambil dikasi memelihara dua sapi pemilik sawah jadi masih ada pekerjaan,” jelasnya.

Kata dia, di Singaraja juga masih ada rumah, namun rumahnya tersebut terbuat dari tembok tanah dan atap seng. Semenjak ditinggal merantau kata dia, rumahnya tersebut sudah mengalami kerusakan. “Kalau rumah di Singaraja ada cuman sudah rusak soalnya sudah lama ditinggalkan. Ada sih keponakan yang nengok-nengok ke sana tapi karena tidak ditempati sudah rusak,” ungkapnya.

Di sisi lain, raut kesedihan tak nampak dari anak-anak tersebut. Terlebih Gede Suardika anak sulung dari tiga bersaudara tersebut. Gede yang bercita-cita menjadi seorang pembalap motocross, ini tak sekali pun menunjukkan wajah sedih. Ditengah pandemi ini pun ia tetap rajin melaksanakan belajar dari rumah dibantu paman serta kakak keponakan yang sebaya dengannya. “Ya saya tetap semangat belajar saja. Kalau ada yang gak bisa saya tanya kakak (keponakan) biar bisa,” ungkapnya malu-malu.

Kisah tiga bersaudara ini mulai muncul ketika Komunitas Taman Hati mengunjungi mereka dan menyerahkan bantuan sembako serta susu formula dan diposting di sosial media.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehanilitasi Sosial Dinsos Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Diah Kurniawati mengatakan,  setelah peninjauan ini pihaknya segera berkoordinasi dengan Dinsos Buleleng dan Provinsi Bali sebagai tindaklanjutnya, karena secara administratif ketiga anak ini masih terdata sebagai warga di Sudaji, Buleleng. “Di sini ada anak-anak dan lansia yang perlu mendapatkan perlindungan. Untuk tindak lanjutnya kami koordinasikan dengan Dinsos Provinsi Bali, secara administrasi mereka masih terdata memiliki di Sudaji, Buleleng, kami upayakan yang terbaik,” katanya

Ketika dihubungi via telepon, Kasi Pelayanan Sosial, Anak dan Lansia, Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, Niken Pujiastuti menerangkan, pihak Dinsos Buleleng masih belum bisa berbuat banyak. Meskipun dari KK serta identitas lainnya menunjukkan di Buleleng, akan tetapi Dinsos masih terkendala data lainnya. Disamping itu, pihak keluarga juga masih belum berkeinginan untuk dievakuasi kembali ke Buleleng.

“Kami belum bisa berbuat banyak, karena kami belum tau juga data lengkapnya. Secara administratif mereka memang warga Buleleng. Sekarang kami masih telusuri juga keberadaan ibu kandungnya yang katanya sekarang sudah ada di Lokapaksa. Kami belum tau Lokapaksa mana, Lokapaksa kan luas,” kata dia.

“Jadi itu juga membuat kami kesulitan untuk melakukan pendekatan kepada pihak keluarga. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinsos Kota dan Provinsi untuk dapat menangani masalah ini. Karena mereka berdomisili di Kota Denpasar,” katanya.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news