Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Lima Lontar Milik Puri Kauhan Ubud, Bahas Pedoman Kesehatan dan Wabah

17 Juni 2020, 18: 52: 08 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lima Lontar Milik Puri Kauhan Ubud, Bahas Pedoman Kesehatan dan Wabah

ilustrasi (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Bali memiliki beberapa jenis lontar yang membahas mengenai wabah (sasab). Salah satunya adalah lontar usada atau naskah pengobatan yang ada di Puri Kauhan Ubud. Setelah diteliti dan dianalisa, terdapat jenis lontar yang mebahas mengenai pedoman kesehatan serta protocol wabah. Ada juga lontar penghalau wabah yang ditemukan oleh Filolog Naskah Lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus.

Dalam pertemuan virtual yang digelar Puri Kauhan Ubud, Minggu (14/6), Sugi Lanus membeberkan lima lontar yang menurutnya memiliki keterkaitan tentang wabah serta pedoman kesehatan dalam kajian lontar Bali. Lima lontar tersebut yakni Tutur Bhuana Alit, Panca Aksara, Dharma Usada, Kreta Basa dan Dasanama.

Tutur Bhuana Alit merupakan manuskrip lontar yang dibuat pada 13 Juni 1938 Masehi atau sekitar tahun 1850-1860 pada penanggalan Saka. Tidak ada nama penulis tercantum dalam lontar yang berjumlah 14 lembar ini. Lontar yang ditulis menggunakan bahasa Kawi dan Bali ini masih terlihat jelas karena fisik manuskrip masih dalam keadaan utuh. “Dalam lontar Tutur Bhuana Alit disebutkan, dalam tubuh manusia ada yang namanya air, ada gunungnya, maksudnya ini adalah tinggi rendahnya temperature. Sesungguhnya manusia tidak mudah terkena wabah. Inilah manusia-jati yang dipercayai oleh orang Bali. Ini yang dijeaskan dalam lontar Tutur Bhuana Alit. Manusia-jati itu, maksudnya orang yang memahami dirinya. Bagaimana ia mampu mengelola Sapta Kelola yang ada dalam tubuhnya,” jelasnya.

Baca juga: Libatkan 150 Personil, TMMD Di Payangan Akan Buka Jalan 2,3 Km

Manuskrip  lontar Panca Aksara memiliki nama lain Pancaksara Usadha dan Pancaka Sara. Manuskrip ini memiliki ukuran panjang 42 cm dan lebar 4 cm. Manuskrip berhasil diselamatkan dari kerusakan total akibat kerapuhan dan ancaman serangga. Namun, manuskrip 16 lempir yang ditulis dengan aksara Bali dengan bahasa Kawi dan Bali ini masih bisa dibaca dengan jelas. Ini ada hubungannya dengan Bhuana Alit (tubuh manusia). Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Bhuana Agung. Panca Aksara ini adalah kosmologi dan hubungannya ke makrokosmos (alam) dan mikrokosmos (manusia). Aksara dalam Panca aksara ini adalah sound (suara). Suara yang dimaksud itu suara Tuhan dengan aksara Brahman. Dua lontar ini sangat menarik karena memaparkan sinkronisasi antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Panca Aksara juga berhubungan dengan Dasa Aksara yang didalamnya berisi tentang bagaimana meningkatkan imun tubuh. Dasa Aksara merupakan sepuluh huruf utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan Dewata Nawasanga. Dari sepuluh huruf bersatu menjadi Panca Brahma (lima huruf suci untuk menciptakan dan menghancurkan), Panca Brahma menjadi Tri Aksara dan Tri Aksara menjadi eka aksara. Ini hurufnya OM. Bila sudah hafal dengan pengucapan huruf suci tersebut, diharapkan selalu diingat dan diresapi, karena merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak di dalam tubuh (bhuana alit) ataupun dalam jaat raya ini (bhuana agung),” jelasnya.

Dasa Nama merupakan manuskrip lontar yang dibuat pada 13 Juni 1938, atau tahun 1850 Saka. Lontar ini tersimpan utuh di dalam sebuah keropak dan dibuat dalam format Cakepan. Tidak diketahui siapa yang menulis manuskrip ini. Ditulis dengan menggunakan aksara Bali, manuskrip lontar Dasa Nama yang masih utuh ini menggunakan bahasa Sansekerta, Kawi, dan Bali, dan terdiri dari 25 lempir. “Lontar ini membahas mengenai wabah terkait tumbuhan, sangat spesifik. Dasanama ini adalah kamus mengenai tumbuhan,” katanya.

Naskah lontar berjudul Kreta Basa ditulis oleh Ida Anak Agung Lingsir pada tahun 1864 Isaka. Kreta Basa merupakan naskah yang berasal dari Puri Kauhan Ubud dan disimpan dengan baik di sebuah keropak. Naskah yang panjang 42,3 cm dan lebar 3.5 cm terdiri dari 35 lempir. “Sementara dalam lontar ini adalah untuk memahami semua akasara-aksara. Jadi kalau tidak memahami Kreta Basa, mustahil bisa membaca dan memahami isi lontar. Kalau tidak paham dengan Kreta Basa agak susah untuk memahami Dharma Usada,” terangnya.

Manuskrip Lontar Dharma Usada memiliki kondisi fisik dengan panjang 39 cm dan lebar 3,7 cm. Dengan jumlah 11 lempir, manuskrip ini masih dalam kondisi utuh dan dibuat dalam kondisi cakepan. Tidak diketahui kapan manuskrip ini dibuat dan siapa pembuatnya. Manuskrip ini ditulis dengan bahasa Bali dan menggunakan aksara Bali. Manuskrip kini tersimpan rapi di dalam sebuah keropak lontar. “Dalam lontar ini dibahas cara menghalau wabah. Bisa dibilang ini adalah pedoman penghalau wabah. Lontar ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki skil penyembuhan, seperti balian.

Ada tiga variable obat yang ditulis di dalamnya, yaitu masui, jangu, kesuna. Nah Kreta Basa itu larinya ke sini. Kalau sudah menguasai, kita diharapkan dapat menjadi manusa-jati. Bukan manusia sejati atau sempurna tapi bisa terlahir kembali,” tegasnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP