Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Jual Olahan Kakul Demi Hidup Saat Pandemi

Sate Sera Tabia Terlaris, Gaet Pekerja Pariwisata yang Dirumahkan

18 Juni 2020, 14: 19: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sate Sera Tabia Terlaris, Gaet Pekerja Pariwisata yang Dirumahkan

FAVORIT: Para pembeli berdatangan mencicipi semua makanan olahan daging kakul di Desa Pertima, Karangasem, Senin (15/6). (AGUS EKA PURNANEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

SEPERTI ikan dalam air. Itulah yang dirasakan Gus Arik, warga Desa Pertima, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem saat ini. Di tengah kondisi keuangan yang tidak tentu, pria bernama asli I Gusti Bagus Alit Artama, itu membuka usaha kuliner kakul atau keong sawah. Pandemi Covid-19 membuatnya putar otak, memanfaatkan peluang agar dapur tetap mengebul.

Dia memilih membuka usaha kuliner olahan kakul. Alasannya strategis, makanan itu digemari berbagai kalangan sehingga pasti diburu. Untuk memuluskan usahanya, dua orang kerabatnya yang yang bekerja di sektor pariwisata digaet untuk membantu. Usahanya berjalan sejak tiga bulan lalu. Dia masih memanfaatkan beberapa bagian rumah jadi tempat makan. Belum ada warung.

"Saya ajak dua tenaga. Sebelumnya mereka kerja di pariwisata. Karena korona ini mereka tidak bekerja dulu. Saya tarik untuk ikut bantu dan jualan," tutur Gus Arik ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kediamannya Jalan Raya Perasi, Desa Pertima, Karangasem.

Menurut pria yang juga pegawai honor di Satpol PP Karangasem itu, dua kerabatnya mengaku senang. Setidaknya mereka punya pekerjaan sementara untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sampai kondisi kembali pulih. Mereka dipekerjakan sebagai tukang antar dan terkadang ikut membantu di dapur. Meski sama-sama susah, bagi dia, tidak ada salahnya berjuang bersama agar ekonomi bisa berjalan, sembari menanti keadaan kembali pulih. "Kalau tidak ambil sampingan, ya sulit" ujarnya.

Untuk promosi, dia mengandalkan media sosial (medsos). Pesan dari mulut ke mulut soal cita rasa juga membantu menjaring para pembeli. Perlahan berjalan, pesanan mulai masuk melalui akun-akun medsos milik pria berkepala plontos itu.

Selama tiga bulan ini, menu favorit adalah sate sera tabia alias sate dengan bumbu cabai dan terasi khas Bali yang super pedas. Dagingnya yang lembut dan kenyal membuat lidah penikmatnya semriwing. Ingin nambah meski pedas. Menu ini paling banyak dipesan. Para penikmatnya dibuat kepanasan. Menurut Gus Arik, cita rasa pedas jadi kekuatan utama. "Orang Bali sudah umum suka pedas," kata dia sembari menyebut ada banyak menu dijualnya.

Ahasil, usaha Gus Arik dikenal sampai luar wilayah Kecamatan Karangasem. Pesanan akan dikirim langsung oleh jasa antarnya dengan biaya antar gratis seputar Kecamatan Karangasem. Di luar itu, Gus Arik menambah biaya Rp 10 ribu sekali antar. "Hitung-hitung uang bensin," timpal salah seorang karyawan, Agung Putra.

Dalam sehari mampu menghabiskan 5-6 kg keong yang sudah bersih atau tiga kampil ukuran 15 kg yang belum bersih. Kakul diperoleh dari sawah di sekitar Desa Pertima. Tak sedikit pelanggan yang datang langsung ke rumah Gus Arik. Olahan ini banyak diburu karena mengandung protein tinggi dan vitamin lengkap. Seperti vitamin A, B3, B12, dan E. "Jadi baik untuk hipertensi, jantung, menurunkan kolesterol," ujar salah seorang pembeli, Gede Sanjaya.

Perbekel Desa Pertima I Gusti Ayu Biksuni mengapresiasi salah seorang warganya yang mau berusaha di tengah situasi sulit ini. Misalnya membuka warung makan olahan kakul. Apalagi kuliner tersebut sangat diminati warga Karangasem, sehingga penjualan diharapkan memberi hasil menjanjikan. "Saya sudah sering pesan. Memang perlu kita apresiasi. Apalagi mempekerjakan orang pariwisata yang kini dirumahkan. Sangat membantu," pungkas Biksuni.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news