Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Perajin Lukisan Wayang Nagasepaha Tak Tersentuh Bantuan

21 Juni 2020, 09: 27: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perajin Lukisan Wayang Nagasepaha Tak Tersentuh Bantuan

PERAJIN LUKISAN KACA: Kadek Suardi salah satu perajin Lukisan Kaca di Desa Nagasepaha. (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Hampir seluruh sendi perekonomian terseok-seok akibat Pandemi Covid-19. Tak terkecuali perajin Lukisan Kaca di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng. Ironisnya, hingga kini perajin yang menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng tersebut belum tersentuh bantuan dari pemerintah.

Tak pelak kondisi ini membuat sejumlah perajin banting stir dengan bekerja serabutan agar tetap bertahan hidup. Mulai dari menjadi tukang bangunan, pedagang permata hingga beralih menjadi jasa pembuat kolam ikan minimalis dan tebing-tebingan.

Seperti diungkapkan Kadek Suardi, salah seorang perajin lukisan kaca yang sekaligus sebagai ketua kelompok lukis kaca desa nagasepaha. Pria asli desa nagasepaha ini menuturkan, dampak pandemic covid 19 ini sangat luar biasa. Selama beberapa bulan terakhir,pihaknya hanya mampu menjual lukisan kaca hanya beberapa buah.

“Hal ini sangat berbeda dengan kondisi normal sebelumnya,biasanya dalam kondisi normal,saya mampu menjual lukisan kaca berbagai ukuran dengan jumlah 20 - 40 buah setiap bulannya.Namun kini event pameran atau kegiatan pemintahan tidak ada,minat anak membeli juga tidak ada serta harga yang sangat turun drastis,” ungkapnya, Sabtu (20/6) siang.

Kondisi ini pun membuat pria tiga anak ini harus membanting profesi dan memilih menjadi tukang pembuat kolam minimalis disertai dengan tebing-tebingan. Penghasilannya pun sangat berbeda dengan hasil lukisan kaca yang ia geluti sejak tahun 2000-an.

“Biasanya saat kondisi normal dalam sebulan hasil lukisan kaca bisa   4 juta sampai 4 setengah juta rupiah, sementara untuk pembuat kolam minimalis sendiiri harganya tergantung dari konsumen dan sesuai dengan kesepakatan,” tuturnya lagi

Sampai saat ini UKM lukis kaca di Desa Nagasepaha, belum tersentuh bantuan pemerintah. ”Beberapa lalu sudah mengajukan pengajuan dari dinas koperasi dan UMKM Kabupaten Buleleng. Namun hingga kini kami,khusunya dengan anggota kelompok yang ada masih menunggu,jenis bantuan apa yang nanti akan diberikan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Suradi juga mengungkapkan kekecewaannya tidak diperhatikannya UKM khusunya lukisan kaca yang ada di desa nagasepaha, kecamatan buleleng.”Padahal kita sudah diakui menjadi asset daerah buleleng, setiap ada kegiatan pameran kita selalu dinomorsatukan,namun sekarang nyatanya banyak dari anggota kami mengharapkan bantuan dari pemeritah,tambahnya.” keluhnya lagi.

Selain merasa kurang diperhatikan Suradi juga mengungkapkan masalah lain,yakni kurangnya minat generasi muda di desa yang mau belajar mebuat lukisan kaca.”Hal ini yang paling kami takutkan,kurangnya regenerasi dari generasi muda untuk mendalami lukis kaca di desa nagasepaha,kecamatan buleleng. bukan tidak menutup kemungkinan,lukisan kaca yang menjadi ciri khas kabupaten buleleng berada di ambang kepunahan,” pungkasnya.

Terpisah Kepala Dinas Koperasi Perdagangan Perindustrian dan UMKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta menyebut saat ini pihaknya tengah mendata bahan usulan masyarakat yang bergerak di sektor informal, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menangah (IKM) untuk mendapatkan bantuan permodalan. Bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali itu akan diberikan dalam bentuk stimulan usaha.

Sadiarta mengatakan bantuan stimulan dari Pemrpov Bali ini akan diberikan selama 3 bulan berturut-turut. Mulai dari bulan Mei, Juni dan Juli yang sebulannya sebesar Rp 600 ribu per orang.

 “Saat ini masih dalam pendataan di desa dan kelurahan nanti desa yang mengusulkan karena pemerintah desa yang dinilai paling tahu kondisi masyraakatnya di bawah terutama yang terdampak Covid-19. Nanti data itu diserahkan ke kecamatan, dari kecamatan yang menyampaikan ke kami di Dinas selanjutnya diusulkan global ke Pemprov Bali,” jelasnya.

Penerima bantuan stimulan usaha ini sebut Sadiarta sesuai dengan petunjuk teknis dari Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Bali yang diutamkan pelaku usaha mikro sektor perdagangan dan jasa yang selama ini terdampak Covid-19 dan belum pernah menerima bantuan pemerintah. Seperti warung-warung kecil, pedagang asongan, buruh harian lepas, tukang suun, pedganag kaki lima, hingga pedagang tradisional.

 Masyarakat yang tergolong di dalamnya, selain harus memenuhi syarta utama belum pernah menerima bantuan pemerintah selama pandemic, juga harus melampirkan surat keterangan usaha atau izin industri kecil atau UMKM jika sudah memiliki. Bagi masyarakat yang bergerak di sektor informal melengkapi permohonannya dengan surat keterangan sebagai pekerja harian yang dikeluarkan Kantor Perbekel atau Kelurahan di wilayahnya.

“Penetapan penerima dan jumlahnya kewenangannya di Provinsi, kami hanya ditugaskan melakukan pengusulan dengan kelengkapan persyaratan yang harus disertakan. Mudah-mudahan bisa lebih banyak kuota yang kita dapatkan,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news