Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pura Goa Gajah Tempat Penekun Ajaran Siwa-Budha

26 Juni 2020, 00: 12: 21 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Goa Gajah, Tempat Penekun Ajaran  Siwa-Budha

SIWA BUDHA : Pura Goa Gajah di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, tempat penekun ajaran Siwa Budha di masa lalu.   (Putu Agus Adegrantika)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Pura Goa Gajah di Banjar Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar ini, cukup unik. Selain ada goa, di Pura Sad Kahyangan ini, arealnya tidak disekat dari nista, madya hingga utama mandala.

Pangayah Pura Goa Gajah, I Wayan Teken, mengatakan, goa baru ditemukan sekitar tahun 1923 di Pura Goa Gajah, merupakan tempat belajar ajaran Siwa Budha zaman dahulu. Dijelaskannya, Pura Goa Gajah pertama kali ditemukan seorang sarjana Belanda bernama Profesor Etigan Goris pada 1923. 

Ditemukannya areal itu, karena penasaran dengan apa yang ada di goa tersebut. “Saat masuk ke dalam,  ditemukan areal goa berupa huruf T. Masuknya kedalam sepanjang sekitar 13 meter dengan lebar di dalam mencapai 8 meter,” terangnya, pekan kemarin. 

Di sebelah kiri goa, terdapat sebuah arca berkepala gajah dan berbadan manusia. Arca tersebut ia katakan sebagai Dewa Ganesa. Sedangkan di sebelah kanan goa terdapat Tri Lingga Arca. Arca ini adalah manifestiasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai Prama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa. “Manifestasinya Tuhan disebut Prama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa. Kalau para pengunjung menyebut Tri Murti yang terdiri atas Brahma, Wisnu, dan Siwa,” sambungnya. 

Teken menyampaikan, di dalam goa yang  dibangun pada abad ke 11 saat  zaman pemerintahan Udayana, terdapat 15 ceruk yang fungsinya sebagai tempat bertapa penganut aliran Siwa Budha. 

Pada areal goa juga ditemukan tulisan  dalam Bahasa Dewa Negari. Tulisan itu diperkirakan sama seperti yang ada di India Selatan. “Terkait Goa Gajah, ada prasasti menunjukkan dalam Bahasa Dewa Nageri di India Selatan ada tempatnya Kunjara Pada. Kunjara itu gajah, sedangkan pada itu mengenang. Maka, diartikan Goa Gajah yang ada di sini sebagai tempat mengenang gajah yang ada di India waktu zaman itu,” imbuh Teken.

Disinggung dengan bentuk pura yang tanpa sekat antara nista, madya dan utama mandala, Teken menyebut, dahulunya itu adalah tempat menimba ilmu para Rsi. Khususnya ilmu yang mengarah pada Siwa Budha. “Istilah ini seperti tempat sekolah untuk mendidik penekun Siwa Budha,” terangnya. 

Sedangkan beberapa relief yang ada di depan goa disebut dengan wana prasta. Sebab, di Hindu mengenal tingkatan hidup tersebut. Teken menerangkan, di Hindu terdapat tingkatan dalam mejalani hidup, yang terdiri atas Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta, dan Sanyasa. Maka, di Goa Gajah seseorang mencari arti hidup yang sebenarnya. Sehingga praktik dalam memeroleh moksa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Di samping goa, lanjutnya, terdapat tulisan Dewa Negari, dan di depan goa Duara Pala dan Duara Pali. “Ini dimaksudkan dengan Tri Mandala Pura, makanya di areal pura tidak terdapat pambatas. Karena itu di depan goa disebut dengan madya mandala,” tandasnya.

Lokasi goa juga disebutkan berada di tempat yang sangat suci, karena diapit dua sungai. “Di pura sekarang itu dimaksud dengan Gangga Yamuna. Sebab, diapit Sungai Pekerisan dan Sungai Petanu. Petanu sebagai Kapilawastu dan Pakerisan disebut Saraswasti. Buktinya setiap Sarawasti ada Banyupinaruh yang tujuannya menyucikan diri secara lahir bathin,” bebernya. 

Pancuran yang ada di depan goa, lanjutnya, fungsinya untuk malukat para penekun Siwa Budha. Dikatakannya, sebelum masuk ke goa, pelajar Siwa Budha wajib membersihkan diri terlebih dahulu di tujuh pancuran yang ada, tepat berlokasi di selatan goa. 

Dijelaskannya, pada tahun 1954 sarjana Belanda bernama Prof Krisman juga menyebut tujuh pancuran dengan nama Sapta Gangga. “Sapta berarti tujuh, Gangga berarti sungai. Itu lambang sungai suci yang ada di India. Kenapa di sini ada, karena pada zaman dahulu para Rsi kita mungkin belajar di India Selatan, dan di sana terdapat tujuh pancuran. Gangga, Yamuna, Harmada, Kauwari, Gandawari, Saraswati, dan Sindhu,” terang Teken. 

Di Goa Gajah, ketujuh pancuran tersebut tetap dipergunakan sebagai tempat nunas tirta hingga panglukatan. “Pantangan bagi warga yang hendak ke areal Pura Goa Gajah,  tentu bagi mereka yang sedang datang bulan. Kemudian memiliki kesebelan karena ada sanak keluarga meninggal, termasuk yang memiliki pemikiran jahat, bisa  akan mengalami masalah,” terangnya. 

Disebutkan Teken, luas areal pura total mencapai 162 are, dan dibuka untuk pariwisata sejak 1974 lalu. Piodalannya jatuh pada Purnama Kapat yang berlangsung setiap satu tahun sekali.

Teken menjelaskan, dirinya sebelumnya selaku penjaga di pura atau disebut dengan pangayah. “Saya hanya sering menerangkan kepada para akademisi, jika ada penelitian ke sini. Sebab, saya ngayahngiring Bhatara Dewa Hyang Mangku Jero Lingsir (ayah jero mangku saat ini) sejak tahun 1974 sampai tahun 2018. Saya putuskan mapamit pada tahun 2018,” imbuhnya

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news