Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pesan Kasih Bhagavad Gita

OM Mahasenajanakaya Namah, Panglima Perang Surga

Oleh : Acharya Darmayasa )*  

26 Juni 2020, 00: 32: 53 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

OM Mahasenajanakaya Namah, Panglima Perang Surga

Acharya Darmayasa (istimewa)

Share this      

OM, sembah bhakti hamba kepada Siva Mahasenajanaka, ayah dari Panglima Perang Surga, Mahasena Kartikeya. (OM, my obeisances to Siva Mahasenajanaka, the father of the Army Chief of Heaven, Mahasena Kartikeya. 

Mahasena berarti Panglima Perang, dan Janaka berarti ayah. Mahasenajanaka yaitu Siva sendiri, adalah Ayah dari 'Mahasena' Kartikeya yang merupakan Panglima Perangnya Surga. Nama lain dari Mahasena atau Kartikeya adalah Skanda, Kumara, Murugan, Shanmukha, dan Subramaniam.

Kartikeya lebih banyak mendapat pemujaan di kalangan orang-orang Tamil di Negara Bagian Tamil Nadu di India Selatan, dan juga di Sri Lanka. Murugan (Subramaniam) merupakan Dewa Perang dan Pelindung Negeri Tamil.
Di Nusantara, khususnya di Bali, Kumara adalah Dewa Penjaga dan Pelindung bayi. Sang Hyang Kumara, dibuatkan sebuah Sthana (tempat) untuk Sang Hyang Kumara di tembok kamar arah di atas kepala bayi itu tidur, yang dinamakan Pelangkiran Kumara. Sang Hyang Siva menugaskan Sang Hyang Kumara untuk menjadi Pengasuh atau Pelindung dari para bayi yang giginya belum tanggal.

Hanya perlu dibedakan sebutan Kumara yang untuk 4 orang Resi Kumara (Catur Kumara) dengan sebutan Kumara untuk Sang Hyang Kartikeya, dan sebutan Kumara yang tetap menjadi anak kecil menuaikan tugas yang diberikan oleh Siva sebagai Penjaga dan Pelindung para bayi sampai 'ketus gigi' (tanggal gigi).

Menurut ajaran Veda, orang lahir ke dunia ini belum diakui sebagai manusia sebelum diupacarai 'samskara'. Samskara berarti pembentukan manusia yang 'sam' atau sempurna. Artinya, ada usaha-usaha dalam berbagai bentuk untuk mengarahkan kelahiran manusia tidak sama dengan kelahiran binatang.

Ada yang melalui upacara, belajar ajaran-ajaran suci Veda, mempraktikkan tapa, brata, yoga, samadhi, dan lain-lain. Usaha melalui upacara, terdapat 'Shodasha Samskara' (16 jenis Saṁskara) dilakukan sejak bayi berada di dalam kandungan sampai meninggal.

Di Bali, pelaksanaan upacara kelahiran bayi berdasarkan pada Lintar Janma Prawreti yang mengajarkan tentang kelahiran anak harus diupacarai. Disebutkan, itu adalah ajaran dari Siva Jagatnatha kepada Sang Hyang Aditya demi membedakan kelahiran seorang manusia dengan kelahiran binatang.

Berdasarkan kisah seperti yang terdapat dalam lontar Siwa Gama, Dewa Kumara adalah salah satu putra Dewa Siva dengan Dewi Uma. Sang Hyang Kumara dijadikan tetap menjadi kecil dan ditugaskan untuk menjaga bayi-bayi yang baru lahir, mulai dari lepas tali pusar sampai si bayi berumur akupak atau tanggal gigi untuk pertama kalinya.

Hyang Kumara karena tetap menjadi kecil dengan tugas menjaga dan melindungi bayi-bayi, maka Hyang Kumara juga disebutkan mempunyai sifat yang suci dan lugu. Saya masih ingat, waktu kecil dikasi tahu oleh Ibu dan Nenek, bahwa bayi yang dalam tidurnya tersenyum dan tertawa sendiri, ia dianggap sedang bermain-main dan melucu dengan penjaganya, Hyang Kumara. 

)* Master Meditasi Angka, Pengajar Veda, penerjemah Bhagavad Gita

 

(bx/rin/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news