Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Mata Air Empat Rasa di Bunutan Bertuah Obati Kencing Batu

27 Juni 2020, 06: 19: 31 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Mata Air Empat Rasa di Bunutan Bertuah Obati Kencing Batu

BERTUAH: Nyoman Sukerena menunjukkan lokasi sumber Mata Air Masam di Banjar Bangle, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem.   (Agus Eka/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Mata Air Masam yang berada di Banjar Bangle, Desa Adat Sega, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, sangat unik.  Dari mata air ini, punya rasa yang berbeda, ada yang terasa asam, agak pahit, hingga manis. 

Sumber Mata Air Masam di Banjar Bangle, Desa Adat Sega, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, biasa disebut warga setempat banyak versi. Ada yang menyebutnya Mata Air Asam atau Tirta Asem, bahkan juga dinamai  Mata Air Masem. Dan disebut juga tempat Pasucian Ida Bhatara Bagus Pamaksan Bangle. 

Salah satu tokoh di Banjar Bangle, Nyoman Sukerena, mengatakan, sumber mata air unik ini sudah ditemukan sekitar 1980-an. Yang menarik dari lokasi tersebut,  lanjutnya, sumber air justru lebih dulu dikenal masyarakat luar Bali, sebelum akhirnya ramai dikunjungi sekarang. 

Diakuinya, warga setempat bahwa sumber Mata Air Masam ini, bertuah mengobati penyakit kencing batu, dan penyakit lainnya. Kepercayaan ini timbul setelah beberapa orang membuktikan khasiatnya, dan menyampaikannya kepada masyarakat lokal di Banjar Bangle. Meski belum bisa dibuktikan secara ilmiah, lanjutnya, kenyataannya cukup banyak orang yang sudah datang. 

Kata Sukerena, orang-orang yang datang ke Bangle berdasarkan petunjuk lewat mimpi. Mereka rata-rata diberikan petunjuk, jika ada salah satu sumber air yang dapat membantu penyembuhan penyakit mereka. Bahkan, mereka tidak mengenal nama desanya, melainkan hanya tahu lokasi mata air itu.

“Sampai di sini, kami tanyakan yang dating mengaku tidak tahu nama desa, bahkan nama kabupatennya. Yang jelas mereka datang karena ada semacam pawisik (wangsit) yang mengantar mereka ke Bangle.

Untuk mencapai lokasi mata air ini pun tidak sulit. Berjalan dari kawasan wisata Amed, lalu ke timur dan tiba di Desa Bunutan. Kemudian menuju arah selatan ke Banjar Bangle. 

Sepanjang perjalanan, pemandangan eksotis akan tersaji di sepanjang jalan karena berada di gugusan bukit. Sampai di Banjar Bangle, pengunjung bisa masuk melalui setengah jalan rabat beton, kemudian lanjut di jalan setapak lebih kurang 3 km. Dijelaskan Sukerena, Mata Air Masam terletak di kaki Gunung Lempuyang. Konon mata air yang disucikan itu, ada kaitannya dengan keberadaan Pura Lempuyang. 

Ada lima sumber mata air. Lokasinya terpisah, dari lokasi pertama paling bawah, lalu naik ke lokasi selanjutnya. “Air yang timbul dari tanah tidak pernah surut di musim apapun. Meski kemarau kering, debit air tidak pernah sedikit,” tutur salah seorang warga Banjar Bangle, Ketut Astika kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin. 

Ketut Astika lantas menunjukkan sumber mata air pertama. Lokasinya paling bawah. Di area itu terdapat Palinggih Surya, Gedong Sari, dan Panglurah. Di area luar pura terdapat semacam lorong kecil berukuran sekitar 50cm x 50cm. di lokasi inilah orang-orang bisa nunas tamba (memohon obat).

“Airnya rasanya masam. Ada sensasi asam. Kata orang-orang ada kandungan emas. Entahlah belerang atau emas. Belum ada pasti, tapi ini menarik. Airnya bisa diminum,” timpal Nyoman Sukerena, mengajak untuk ikut mencicipi rasa air itu. Wisatawan asing pun dipersilakan mencicipi air selama tidak cuntaka ( datang bulan) atau kasebelan. 

Menurut Nyoman Sukerena, warga yang memohon dipersilakan memakai sarana sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka yang sudah mendapatkan apa yang diinginkan, lanjutnya, biasanya akan datang kembali. 

Mereka membawa beberapa perlengkapan upacara sebagai ucapan syukur dan ungkapan terima kasih. Tidak hanya memohon obat, mereka juga datang untuk memohon keselamatan. “Ada yang bayar kaul setelah permohonannya terpenuhi, seperti sembuh dari sakitnya,” timpal Ketut Astika. 

Selain sumber Mata Air Masam, beberapa meter ke atas terdapat mata air kedua berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pertama. Rasa airnya ada kesan asam sedikit pahit. Begitu pula seterusnya hingga ke atasnya lagi. Rasa airnya manis, ada yang dua rasa di satu mata air, yakni tawar dan asam. Terakhir sama seperti yang pertama, rasanya asam. Kelima sumber mata air ini dipercaya bertuah untuk kesembuhan penyakit medis dan non medis. 

Ketut Astika menuturkan, lokasi pasucian itu sempat luluh lantak pada 1996 akibat diterjang banjir bandang. Satu-satunya palinggih di sana kala itu hancur. Setelah kejadian itu, tokoh di banjar setempat berinisiatif memindahkan palinggih ke tempat agak tinggi, tak jauh dari lokasi sebelumnya. Setelah itu, palinggih lain mulai dibangun.

Selain sebagi tempat memohon kesembuhan dari berbagai penyakit, lanjutnya, juga menjadi tempat  Melasti (masucian). Pamedek  (warga yang hendak sembahyang) bisa nangkil  (dating) saat piodalan yang jatuh bertepatan rahina Galungan. “Tidak hanya untuk sembahyang. Wisatawan asing juga kerap datang, ingin mengetahui keunikan airnya,” pungkas Nyoman Sukerena. 

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news