Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Biaya Ngaben Makin Mahal, Desat Adat Buleleng Bangun Krematorium

28 Juni 2020, 18: 50: 23 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Desat Adat Buleleng Bangun Krematorium

NGARUAK : Prosesi upacara Ngaruak sebagai tanda dimulainya pembangunan krematorium di Setra Desa Adat Buleleng, Minggu (28/6) siang.  (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Proses pembangunan gedung pengabuan atau Krematorium mulai dilakukan di Setra Desa Adat Buleleng. Pembangunan Krematorium yang diinisasi krama Desa Adat Buleleng diharapkan dapat dimaksimalkan oleh krama, sehingga upacara Pitra Yadnya bisa lebih efektif dan efisien.

Pembangunan ditandai dengan upacara Ngruak di lahan yang akan dibanguni gedung krematorium, Minggu (28/6) siang. Upacara Ngaruak dipimpin  Jro Mangku Dalem Desa Adat Buleleng, dihadiri Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, pengelola Setra, Ketut Suryada, serta para kelian banjar adat di wawidangan Desa Adat Buleleng.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan, pembangunan krematorium ini sudah direncanankan oleh pihaknya sejak lama. Tetapi, karena dana yang dimiliki sangat terbatas serta harus menyusun master plan, rencana itu akhirnya baru bisa direalisasikan  bulan Juni ini.

Krematorium dibuat untuk mengikuti perkembangan zaman, serta untuk mempermudah dan mempercepat proses pembakaran mayat. Anggaran yang disiapkan untuk membangun krematorium ini sebesar Rp 1 miliar ,yang bersumber dari pendanaan Pemprov Bali sebesar Rp 500 juta.

"Kami buat master plan jalan melingkar,  posisi gedung pengabuannya ada di bawah  sebelah timur dari Setra Buleleng, ada rumah dukanya juga. Disiapkan tempat parkir juga.  Krematorium ini nanti dioperasikan oleh pihak ketiga dalam hal ini sebuah yayasan, namun hasilnya nanti akan dibagi dua dengan desa adat," jelas mantan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng ini.

Sutrisna pun menyebut, krematorium ini akan dibuka untuk umum, namun dengan catatan harus mengikuti awig-awig yang ada di Desa Adat Buleleng. Seperti tidak melakukan pembakaran saat Purnama-Tilem, dan Piodalam Kahyangan Tiga. Sementara terkait biaya kremasi, diatur oleh pararem. Pembangunan krematorium ini diperkirakan membutuhkan waktu selama enam bulan.

"Kremasi ini tidak termasuk  banten. Kami hanya menyediakan tempat pembakaran saja. Kalau krama dari Desa Adat Buleleng, hanya bayar uang kebersihan dan ongkos gas Rp 850 ribu. Sementara untuk warga dari luar Desa Adat Buleleng hanya bayar penanjung batu, disesuaikan dengan kondisi ekonominya, mulai dari 0 rupiah sampai Rp 3 juta.  Nol rupiah ini untuk jenazah tanpa identitas yang biasanya dititip oleh Dinsos," tutupnya.

Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Desa Adat Buleleng, Made Dharma Tanaya, selaku  inisiator pembangunan krematorium, menuturkan, selama ini biaya pengabenan terkesan mahal. Namun, jika dengan krematorium diharapkan bisa memangkas biaya tanpa mengurangi makna.

Rencananya, pembangunan akan dilaksanakan melalui dua tahap. Lahan yang dimanfaatkan untuk pembangunan krematorium pada bagian timur laut Setra seluas 20 x 20 meter. Gedung tersebut akan meliputi dua tempat krematorium, bale pawedaan, bale payadnyan, bale pasandekan, bale pegongan, kantin, gudang, dan wc umum. Jika tidak ada aral melintang, pembangunan dipredisksi rampung selam enam bulan kedepan. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news