Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Roh Wanita Cantik Huni Sarkofagus di Desa Pedawa

29 Juni 2020, 05: 10: 03 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Roh Wanita Cantik Huni Sarkofagus di Desa Pedawa

SARKOFAGUS : Putu Okayasa temukan Sarkofagus di Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.  (Putu Mardika)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRSS- Sebuah Sarkofagus ditemukan seorang warga Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng,10 November 2019 lalu. Penemuan peti mati berbahan batu di lahan cengkih tersebut, rupanya tidak lepas dari kisah mistis. Dari pawisik (bisikan gaib) yang diterima, secara niskala Sarkofagus yang sudah pecah menjadi beberapa bagian tersebut konon dihuni oleh roh halus seorang perempuan cantik.

Seperti diceritakan Putu Okayasa saat ditemui di rumahnya, Minggu (28/6) sore, jika penemuan itu berawal saat dirinya hendak membuat lubang kompos di areal kebun cengkih milik Ketut Suyasa. Lokasinya pun hanya sekitar 50 meter dari tempat tinggalnya.

Ketika sedang asyik membuat lubang berukuran lebar satu meter, sepanjang 2,5 meter, tiba-tiba cangkulnya terantuk batu. Batu berbentuk lesung panjang tersebut pecah menjadi beberapa bagian. “Awalnya saya tidak tahu jika itu Sarkofagus. Malah saya kira itu harta karun. Setelah digali lebih dalam, ternyata saya menemukan benda ini (Sarkofagus). Belakangan ada yang bilang jika itu Sarkofagus. Setelah itu, saya temukan tutupnya lima meter dari jarak penemuan pertama,” tutur Okayasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Sarkofagus berdimensi panjang 0,8 meter, lebar 0,5 meter, dan kedalaman 0,4 meter tersebut, lantas dinaikkan dan ditaruh persis sebelah galian tempat Sarkofagus ditemukan. Kemudian, pada malam harinya, setelah penemuan Sarkofagus itu, istrinya bernama Kadek Retiasih, 45 bermimpi.

Dalam mimpi itu ia mendapat pawisik jika Sarkofagus itu ada penunggunya sosok roh halus perempuan cantik. Kepada Retiasih, roh halus itu memberikan ia tiga buah batu permata yang sangat bagus. “Istri saya diminta menyimpan baik-baik batu permata itu,” ujar Okayasa.

Berselang dua hari pasca mimpi tersebut, Okayasa mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil sekitar 500 meter dari rumahnya, tepatnya di Jalan Dusun Insakan, Desa Pedawa. Beruntung ia tidak mengalami cidera sedikitpun.

Pasca kecelakaan tersebut, Retiasih berniat untuk menanyakan kepada orang pintar, terkait makna mimpi yang dialaminya. Benar saja, kecelakaan yang dialami suaminya tersebut ada kaitannya dengan pawisik dalam mimpi dan penemuan Sarkofagus suaminya itu.

“Ternyata kami sisip (salah) karena suami saya merusak Sarkofagus itu. Dipikirnya Sarkofagus itu tidak ada penunggunya. Nah, saat kecelakaan, ternyata suami saya didorong oleh roh halus penunggu Sarkofagus,” ujar Retiasih. Oleh Paranormal tersebut, setiap Tilem ia diminta menghaturkan sesajen, berupa tipat gong, Sedangkan saat Purnama canang daksina. Paranormal itu juga meminta agar tidak digeser posisinya seperti sekarang.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kayoman, Putu Yuli Supriyandana mengatakan, penemuan Sarkofagus di Desa Pedawa memang bukanlah pertama kalinya. Menurut penuturan para tetua adat setempat yang ia dengar, wilayah Desa Pedawa yang sekarang, dahulunya telah dihuni manusia sejak zaman Megalitikum.

Hal ini dibuktikan dengan penemuan-penemuan  Sarkofagus  (peti  kubur  batu)  yang  lazim dipergunakan  pada  zaman  Megalitikum. Total jumlah Sarkofagus yang ada di Desa Pedawa 7 tujuh buah. Rinciannya 5 lima diantaranya dalam kondisi utuh, dua lagi dalam kondisi  rusak.  Lokasinya di Banjar Munduk Waban 2, Banjar Asah 3 buah, Banjar Insakan 1, dan Banjar Lambo 1.

Penemuan 5 Sarkofagus  awalnya terjadi  secara  tidak sengaja di lahan-lahan perkebunan warga. Sedangkan yang dua lagi merupakan temuan dari hasil pencarian yang sengaja dilakukan masyarakat pada tahun 2009 lalu. Terkait dengan hal tersebut, Kelompok Kayoman Pedawa merupakan kelompok yang menginisiasi pemetaan peninggalan-peninggalan purbakala tersebut.

Hal ini dilakukan karena adanya fenomena bahwa masyarakat Desa Pedawa mensakralkan Sarkofagus tersebut secara Hindu. Meskipun sudah sejak sekian lama ditemukan, temuan itu baru bisa resmi didaftarkan ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng pada tahun 2018 yang lalu.

“Kami meyakini bahwa Sarkofagus tersebut adalah sakral dan peninggalan leluhur, sehingga dihormati pula dengan dibuatkannya upacara suci dan banten, serta dihaturkan canang sari maupun rarapan. Sehingga perlu dirawat secara sekala dan niskala, sesuai dengan kepercayaan dan sifat-sifat lokal masyarakat Desa Pedawa,” bebernya.

Dikatakannya, meskipun mengizinkan pihak luar untuk melihat-lihat, namun cukup sulit untuk menyentuhnya, apalagi mengadakan penelitian secara seksama akibat sikap masyarakat yang konservatif. Kelompok  Kayoman  Pedawa  saat  ini  telah  mengupayakan untuk memetakan  ulang Sarkofagus  melalui  pendekatan  persuasif kepada masyarakat. Di samping itu, kerjasama dengan pihak Dinas Kebudayaan Kabupaten  Buleleng  juga  dilakukan  secara  intensif. Tujuannya  disamping pelestarian  dengan  memasukkan  peninggalan  tersebut menjadi  warisan  cagar budaya, juga mengupayakan agar mampu dijadikan museum desa dan menjadi tujuan wisata sejarah desa. “Mudah-mudahan penemuan yang 2019 ini, bisa diteliti. Sehingga diketahui jenis batunya tahun berapa, sekaligus bisa diprediksi umur Desa Pedawa,” pungkasnya.



(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news