Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Suara Gaib Tuntun Gusti Lanang Dapatkan Keturunan

30 Juni 2020, 09: 03: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Suara Gaib Tuntun Gusti Lanang Dapatkan Keturunan

MANGKU : Jro Mangku Lanang Gusti Agung Nyoman Alit dan Jro Mangku Istri Gusti Agung Ayu Metri (Krisna Pradipta/Bali Express)

Share this      

TABANAN, Bali EXPRESS - Pura Batan Tanjung di Banjar Taman, Desa Gubug, Kecamatan Tabanan, amat disakralkan. Hal ini tidak terlepas dari sejarah pura yang kental dengan aura mistis, terutama menyangkut leluhur pertama trah Arya Kenceng di Banjar Taman, Desa Gubug. 

Pura Batan Tanjung merupakan pura sungsungan dari leluhur pertama keluarga trah Jro Taman yang bernama I Gusti Lanang Dauh Pala. Pemangku Pura Batan tanjung, Jro Mangku Lanang Gusti Agung Nyoman Alit, 85, bersama Jro Mangku Istri Gusti Agung Ayu Metri, 86, serta salah satu prajuru pura, I Gusti Agung Made Surya Budiwan, 40, mengakui, Pura Batan Tanjung erat kaitannya dengan leluhur pertama mereka, dimana dahulunya I Gusti Lanang Dauh Pala tidak memiliki keturunan. Dan, ceritanya juga berhubungan dengan kudeta terhadap Raja Tabanan kala itu.

“Beratus tahun yang lalu, Raja Tabanan memiliki beberapa saudara, dan salah satunya bernama Gusti Nyoman Telabah di Tuak Ilang yang mencoba berontak atau kudeta terhadap raja,” papar Jro Mangku Lanang Gusti Agung Nyoman Alit kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.

Suara Gaib Tuntun Gusti Lanang Dapatkan Keturunan

PALINGGIH : Sejumlah palinggih di Pura Batan Tanjung, masih berupa bebaturan. (Krisna Pradipta/Bali Express)

Diceritakannya, Gusti Nyoman Telabah lalu meminjam keris pusaka bernama Ki Malang Soka milik I Gusti Lanang Dauh Pala yang merupakan keponakannya. Namun, Gusti Lanang Dauh Pala tidak ikut dalam pemberontakan tersebut. Kudeta akhirnya terjadi, namun Gusti Nyoman Telabah kalah.

Mengingat keris pusaka itu milik Gusti Lanang Dauh Pala yang notabene tidak terlibat dalam kudeta, akhirnya ikut terkena imbas. Keluarga Gusti Lanang Dauh Pala tidak diperhatikan lagi oleh Raja Tabanan. Gusti Lanang Dauh Pala lantas pergi menuju arah barat. 

Dalam perjalanannya itu, Gusti Lanang Dauh Pala tetap membawa keris pusaka tersebut bersama istrinya. Sempat menetap di beberapa tempat dan juga mendirikan rumah. Dalam beberapa tahun, Gusti Lanang Dauh Pala berhasil kumpulkan  harta melimpah. Namun sayang, belum memiliki keturunan. 

Kemudian, Gusti Lanang Dauh Pala kembali melanjutkan perjalanan menuju arah barat hingga sampai di daerah bernama Batu Ngenjung di Serijong. Di tempat ini, Gusti Lanang Dauh Pala mendengar suara gaib, yang tentu saja tidak kelihatan  sosoknya. Suara tersebut mempertanyakan kenapa dengan harta melimpah serta punya kekuasaan, tapi tidak memiliki keturunan. 

“Suara gaib tersebut mengatakan, jika Gusti Lanang Dauh Pala melanjutkan perjalanan ke barat hingga batas Tabanan dan Jembrana (dibatasi Tukad Balian) dan belum memiliki keturunan, lebih baik kembali saja ke tempat awal ke Batu Ngenjung,” cerita Jro Mangku Lanang Gusti Agung Nyoman Alit. 

Setelah mendengar suara itu, Gusti Lanang Dauh Pala melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi menetap di beberapa tempat, hingga sampailah di perbatasan (Tukad Balian). Namun tetap saja, Gusti Lanang Dauh Pala belum memiliki keturunan. Sampai akhirnya, Gusti Lanang Dauh Pala memutuskan kembali ke arah timur lagi menuju Batu Ngenjung. 

Tapi, kali ini, suara gaib tersebut bukan suara lagi yang didengar Gusti Lanang Dauh Pala, melainkan sudah berwujud. “Tabik pakulun, beliau bernama Ratu Gede Gedah Porong yang akhirnya menjadi sesuhunan (junjungan) di Pura Batan Tanjung ini,” imbuhnya. 

Karena satya wacana (menepati janji) itu, lanjutnya, Gusti Lanang Dauh Pala akhirnya dituntun beliau supaya menuju daerah di timur yang bernama Tanah Tama (kini bernama Banjar Taman). Gusti Lanang Dauh Pala disarankan mendirikan rumah di sana, dan niscaya pasti memiliki keturunan. Dan, benar saja.  Setelah Gusti Lanang Dauh Pala tiba di Tanah Tama tersebut, akhirnya memiliki putra sebanyak delapan orang yang kini menjadi moncol di setiap jero di Banjar Taman, Desa Gubug.

“Karena kebenaran itu, akhirnya Gusti Lanang Dauh Pala memuja beliau. Itulah sejarah singkat atau garis besarnya berdirinya Pura Batan Tanjung ini,” tambahnya. 

Disebutkan Jro Mangku Lanang Gusti Agung Nyoman Alit, nama pura pada awalnya adalah Pura Batu Ngenjung yang diambil dari lokasi pertemuan Gusti Lanang Dauh Pala dengan junjungan (sasuhunan). Tetapi, karena di areal pura terdapat pohon Tanjung (Mimusops Elengi), maka lebih dikenal dengan nama Pura Batan Tanjung. 

Ditambahkannya, dahulu di areal pura terdapat pohon Tanjung yang begitu besar. Namun, pada saat zaman penjajahan, pohon tersebut dibakar habis oleh Belanda. “Sekarang masih ada pohon Tanjung berukuran sedang, lokasinya di pojok utara jaba tengah atau tepat di sebelah Palinggih Ratu Sapu Jagat. Batan artinya di bawah, Tanjung adalah nama pohon,” bebernya.

Pura ini bisa dibilang pura klasik. Arsitekturnya masih mempertahankan ukiran serta palinggih zaman kuno, misalnya palinggih jenis baturan. Relief di panyengker (tembok) juga masih terlihat jelas. “Ngenteg Linggih di pura ini terakhir kalinya dilaksanakan pada 12 April 1941,” urainya.

Di utamaning mandala terdapat 11 palinggih, yakni palinggih utama yang merupakan sasuhunan dari keturunan Gusti Lanang Dauh Pala, yaitu Palinggih Gedong Putra Rambut Siwi. Kemudian Palinggih Ratu Wayan, Ratu Made, Ratu Nyoman. Selanjutnya ada Palinggih Pasimpangan Batur Kintamani, Pasimpangan Gunung Agung, Pasimpangan Batu Karu, Pasimpangan Tamba Waras. Selanjutnya Pasimpangan Muncak Sari Rambut Sedana (Manik Galih), dan Pura Pasimpangan Puseh-Dalem Tabanan. Dan, satunya lagi ada di jaba tengah, yakni Palinggih Ratu Sapuh Jagat.

Banyaknya palinggih pasimpangan di areal jeroan, lanjutnya,  kemungkinan supaya pamedek tidak jauh-jauh langsung tangkil ke pura. Mengingat pada saat itu, akan memakan waktu yang sangat lama, jika sembahyang ke pura yang ada di luar daerah. Maka dari itu, dibuatlah pasimpangannya.

Djelaskan Gusti Agung Made Surya Budiwan, jumlah pangempon Pura Batan Tanjung 50 kepala keluarga (KK) di Banjar Taman dan panyiwi sebanyak 198 KK. Piodalannya jatuh pada Redite Pon Tambir. 

Yang unik dalam prosesi pada saat piodalan, lanjutnya,  para pamedek yang tangkil tidak langsung menuju ke jeroan pura. Pamedek wajib sembahyang terlebih dahulu di Palinggih Ratu Sapuh Jagat. Setelah itu, baru boleh masuk ke areal jeroan. “ Pamedek  wajib terlebih dulu bersembahyang di Pura Ratu Sapu Jagat yang sesuai namanya bermakna membersihkan atau menyucikan diri para pamedek,” tandas Jro Mangku Lanang, Gusti Agung Nyoman Alit.

(bx/dip/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news