Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Pemerkosa Menantu di Bawah Umur, Ternyata Oknum Pemangku di Pedungan

30 Juni 2020, 21: 47: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pemerkosa Menantu di Bawah Umur, Ternyata Oknum Pemangku di Pedungan

ilustrasi (DOK.JAWA POS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Fakta mengejutkan terungkap di balik kasus pemerkosaan seorang perempuan yang masih di bawah umur. Pemerkosa wanita berinisial NM, 15 tersebut, ternyata seorang jero mangku, sekaligus mertuanya sendiri dan juga pamannya.

Luh Anggraeni selaku pihak P2TP2A yang sekarang mendampingi korban dan keluarganya membeberkan fakta hubungan pelaku dan korban serta ayah pelaku yang ternyata bermasalah. “Ayah korban dan pelaku merupakan saudara sepupu. Mereka tinggal dalam satu pekarangan rumah,” ungkapnya, Selasa (30/6).

Ayah korban, menurut penuturan keluarga korban melalui P2TP2A, merupakan seorang yang bermasalah dalam rumah tangga dan diketahui menelantarkan istri dan anaknya (korban). “Ayah korban ini sudah tiga kali menikah. Ibu korban merupakan istrinya yang kedua, dan ayah korban sekarang menelantarkan anak istrinya, ditinggal pergi ke Jawa,” bebernya.

Dari istri pertama, diketahui korban memiliki 5 orang anak, sedangkan  dari istrinya kedua (Ibu korban) dia memiliki 3 orang anak. “Kelima anak dari istri pertama itu juga ditinggal di istri keduanya. Jadi ibu korban sekarang menanggung 8 anak. Di antaranya, 5 dari istri pertamanya dan 3 anak kandungnya,” ungkap Luh Anggraeni kembali.

Tidak hanya itu, ayah korban diketahui menikah lagi di Jawa, tanpa mempedulikan anak istrinya yang ada di Bali. “Dia bersama istri ketiganya di Jawa,” terang perempuan yang kerap menangani kasus kekerasan terhadap perempuan ini.

Fakta lain juga dibeberkan pihak P2TP2A Denpasar mengenai status ayah korban dan juga pelaku.  Ternyata ayah korban dan pelaku merupakan seorang jero mangku di tempat tinggalnya di Pedungan. “Ayah korban dan pelaku merupakan jero mangku,” ungkapnya.

Tidak adanya ayah korban di rumah, memungkinkan pelaku yang tinggal satu pekarangan rumah dengan korban leluasa melampiaskan nafsu bejatnya. Menurut Luh Anggraeni, pihak keluarga pelaku mencoba terus meminta ketemu dengan ibu korban setelah kasus ini dibawa ke jalur hukum. “Ini kan sama-sama keluarga, antara korban dan pelaku. Pihak pelaku meminta ketemu dengan ibu korban, tetapi tanpa pendampingan dari P2TP2A. Ya… kami tidak mengizinkan,” bebernya kembali.

Korban dan ibunya, menurut keterangan Luh Anggreani, saat ini sudah berada di tempat yang aman dan dilindungi. Sementara itu, masih menurut pihak P2TP2A, pelaku saat ini sudah ditangkap oleh Polresta Denpasar.

Kasubag Humas Polresta Denpasar Iptu I Ketut Sukadi saat dikonfirmasi terkait perkembangan kasus tersebut, tidak memberikan keterangan banyak. “Kasusnya masih dalam proses penyidikan,” jawabnya.

Awal terbongkarnya kasus ini, saat korban curhat kepada perawat di sebuah puskesmas di Kota Denpasar. Dia menceritakan bahwa dirinya diperkosa sebulan setelah melahirkan. Sedangkan dirinya baru melahirkan sehingga ada pengawasan khusus. “Pihak Puskesmas memberikan atensi khusus kepada korban karena korban hamil masih di bawah umur. Laporan kami terima dari pihak Puskesmas, saat diperkosa oleh mertuanya dia baru saja melahirkan, masih dalam masa nifas. Dia melahirkan akhir Maret.” ungkapnya.

“Jadi setelah diperkosa, dia mengalami pendarahan, kemudian dilarikan ke Puskesmas. Karena pendarahan, pihak Puskesmas merujuk ke rumah sakit,” bebernya kembali.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Kasus pemerkosaan yang dialami oleh NM, terjadi saat dirinya sedang tertidur, Rabu (29/4). Tidak adanya ayah korban yang harusnya jadi sosok pelindung, membuat pelaku leluasa melampiaskan birahinya kepada korban.

Sebelum diperkosa mertuanya, korban yang masih di bawah umur ini juga pertama kali diperkosa oleh sepupunya (sekarang suaminya). “Dia kemudian dinikahkan dengan sepupunya walaupun masih di bawah umur dengan upacara adat kecil untuk mengesahkan agar bayi tidak lahir dengan cuntaka,” lanjut Luh Anggraeni.

Walaupun sudah menikah, keduanya tidak tinggal sekamar dan tidak saling tegur sapa. Setelah melahirkan anaknya tersebut dalam waktu satu bulan, korban kembali diperkosa oleh mertuanya tanpa peduli dampak perbuatan terhadap korban.

Luh Anggraeni menjelaskan, korban saat ini mengalami trauma berat akibat perkosaan yang dilakukan oleh mertuanya. “Korban saat ini selalu takut, kadang bengong sendiri, marah. Awalnya ibu korban takut ketika kasus ini dibawa ke Polresta. Kami yakinkan bahwa kasus ini harus diproses hukum. Kemarin (Selasa, Red) kami sudah lapor,” pungkasnya.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news