Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Doa Untuk Putu Artayasa, “Tak Ada Berita Seharga Nyawa”

06 Juli 2020, 21: 21: 40 WIB | editor : Nyoman Suarna

Doa Untuk Putu Artayasa, “Tak Ada Berita Seharga Nyawa”

DUKA WARTAWAN : Jajaran Bali Express menggelar doa atas meninggalnya wartawan Putu Artayasa. Doa bertajuk ‘Duka Wartawan, Covid-19’ ini dilaksanakan di Kantor Bali Express Jawa Pos Group, Senin (6/7), dihadiri Kadis Kominfo Pemprov Bali Gde Pramana. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Keluarga besar Bali Express menggelar doa bersama atas berpulangnya rekan sesama jurnalis sekaligus Pemimpin Redaksi (Pimred) portal berita Balipuspanews.com, I Putu Artayasa, Senin (6/7) petang.

Selain karena kepergiannya, Rabu (1/7), yang begitu mendadak dengan diagnosa sakit jantung, almarhum dikabarkan positif terpapar Covid-19.

Inilah yang membuat keluarga besar Bali Express menggelar doa bersama secara dadakan. Selain untuk mendoakan almarhum, doa bersama yang berlangsung di halaman kantor Bali Express ini juga sebagai momen renungan bahwa jurnalis dalam menjalankan tugasnya sangat rentan dengan ancaman penyebaran Covid-19.

Keluarga besar Bali Express menggelar doa bersama atas berpulangnya rekan sesama jurnalis sekaligus Pemimpin Redaksi (Pimred) portal berita Balipuspanews.com, I Putu Artayasa, Senin (6/7) petang (Harian Noris Saputra)

Hal ini disampaikan Pemimpin Redaksi (Pimred) Bali Express, I Ketut Ari Teja mengawali acara tersebut. Selain keluarga besar Bali Express, doa bersama itu juga dihadiri jurnalis senior yang kebetulan kini menjadi anggota Komisi I DPRD Bali, I Made Rai Warsa. Serta Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik Provinsi Bali, I Gede Pramana.

"Kami merasa kehilangan salah satu teman, salah satu saudara seperjuangan dalam profesi jurnalis. Awalnya memang almarhum meninggalkan kita dengan diagnosa penyakit jantung. Cuma dalam perjalanannya ternyata positif Covid-19," ujar Ari Teja.

Karena itu, sambung dia, ini menjadi sebuah peringatan bahwa jurnalis menjadi profesi yang rentan di tengah pandemi Covid-19. Bagaimanapun juga, jurnalis harus menjalankan tugas utamanya menggali informasi secara profesional dengan bersandar pada kode etik, untuk kemudian disebarkan ke masyarakat.

“Ini sebagai gambaran juga bahwa di tengah menjalankan tugas utamanya, jurnalis begitu rentan dengan ancaman penyebaran Covid-19. Sekalipun di tengah dinamika pandemi belakangan ini, posisi jurnalis tidak luput dari caci maki. Jurnalis kerap disebut tendensius dan dianggap membuat berita yang membuat terpuruk ekonomi, sekalipun telah bertugas sesuai kode etik dan koridor pemberitaan,” tegas pria asal Lepang, Klungkung ini.

Dengan acara ini, ia juga bisa mengingatkan publik atau masyarakat bahwa jurnalis bekerja juga mempertaruhkan nyawa. Bahkan sudah kehilangan satu jurnalis, karena menjalankan tugas. “Agenda ini juga untuk menyampaikan pesan bagi kelompok masyarakat yang kerap bersuara sumbang terhadap kinerja jurnalis,” cetusnya. “Dan kami berharap usaha yang dibangun almarhum Putu, dalam dunia media online tetap bisa dilanjutkan keluarga dan anaknya,” sambung Ari Teja.

Sedangkan Direktur Bali Express Jawa Pos Group Putu Suyatra berpesan kepada semua jajaran Bali Express, termasuk kalangan jurnalis pada umumnya, untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam bekerja. Tetap mengutamakan keselamatan dalam bekerja. Jangan abai dan tetap waspada. “Teman – teman mesti ingat, mengutamakan keselamatan dalam bekerja, tetap pakai masker, tetap mengikuti protokol kesehatan dan jangan abai, tetap waspada,” jelas Suyatra.

Baginya, tak tak ada berita seharga nyawa. Keselamatan dan kelangsungan hidup sampai wabah ini usai atau reda yang utama. “Saya ingatkan lagi, tak ada berita seharga nyawa. Keselamatan dan kelanjutan hidup terpenting sampai wabah ini reda,” tegas pria asal Mengwi, Badung ini.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news