Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

KFS Takut Aibnya Hamil di Luar Nikah Terbongkar

07 Juli 2020, 18: 12: 38 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

KFS Takut Aibnya Hamil di Luar Nikah Terbongkar

BUKTI : Kapolres Buleleng AKBP Made Sinar Subawa menunjukkan barang bukti terkait kasus penemuan orok di Pemuteran. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Satu persatu fakta kasus pembuangan orok di Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak  pada 3 Juni 2020 lalu terkuak. Rupanya, motif tersangka KSF, 17, menghabisi darah dagingnya lantaran takut aibnya hamil di luar nikah terbongkar.

Kapolres Buleleng, AKBP Made Sinar Subawa saat ditemui di Mapolres Buleleng, Selasa (7/7) menjelaskan, remaja yang baru saja lulus dari salah satu SMK di Kecamatan Gerokgak itu, merasakan sakit perut dan air ketubannya pecah pada 3 Juni sekira pukul 23.00 Wita.

Begitu tanda-tanda melahirkan terlihat, KFS langsung membuka celananya. Ia kemudian mengejan sebanyak tiga kali, hingga bayi berjenis kelamin laki-lakinya itu berhasil dilahirkan di kamarnya.

Seusai melahirkan, tersangka KFS langsung membungkus bayinya  menggunakan selimut berwarna ungu, dan membawanya ke kamar mandi. Ia merasa takut jika kelahiran bayinya itu berhasil diketahui oleh keluarga, sebab KFS hamil diluar nikah.

Di dalam kamar mandi, KFS sempat memotong tali pusar yang masih menempel pada perut bayi dengan menggunakan gunting yang sempat ia ambil di atas rak televisi. Setelah tali pusarnya dipotong, tersangka kemudian takut kalau bayinya ini menangis dan didengar oleh keluarganya.

“Tersangka langsung membekap mulut dan hidung bayi tersebut sekitar dua menit hingga bayi tersebut tewas. Setelah itu, tersangka membersihkan tubuhnya, lalu mengambil kardus dan meletakan jenazah bayinya beserta ari-ari, serta selimut yang digunakan saat melahirkan ke dalam kardus," terang AKBP Sinar kepada awak media.

Setelah jenazah bayi diletakan di dalam kardus, KFS kemudian membuang darah dagingnya itu dengan menggunakan sepeda motor di sebuah jalan setapak di Banjar Dinas Kembang Sari. Jarak rumah tersangka dengan lokasi dibuangnya  bayi itu sekitar 2.5 kilometer.

“Lokasinya memang agak jauh, dan tersangka ini memang menguatkan diri karena saking takutnya ketahuan oleh keluarga. Semua aksi persalinan tersangka dilakukannya sendiri. Tanpa bantuan orang lain" ucap AKBP Sinar.

Hingga akhirnya empat hari kemudian, tepatnya, Minggu (7/6) sore, jasad bayi malang itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang warga bernama Suwitra. Mirisnya lagi, kondisi jasad tidak utuh lantaran  dimakan biawak. Temuannya ini pun langsung dilaporkan ke Mapolsek Gerokgak. Tak butuh waktu lama, polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku KFS, Minggu (14/6).

"Ketika diamankan awalnya tersangka mengaku jika bayi yang dilahirkan sudah dalam keadaan meninggal. Namun, setelah dilakukan autopsi terhadap jenazah bayi tersebut, ternyata ditemukan adanya resapan darah di bagian tulang rahang akibat kekerasan benda tumpul," imbuh mantan Kapolres Tabanan ini. Atas bukti hasil autopsi inilah KFS tak bisa berkelit, dan akhirnya mengakui bahwa dirinya sempat membekap bayi yang memasuki usia kehamilan delapan bulan ini, sekitar dua menit hingga akhirnya tewas. 

Disinggung terkait ayah biologisnya, AKBP Sinar mengaku sejauh ini belum melakukan penyelidikan kea rah itu. Namun, ia mengaku kasusnya akan tetap dikembangkan, termasuk mencari ayah biologisnya. Bahkan, pihaknya juga sudah melakukan rekonstruks, Senin (6/7) kemarin. Tercatat ada 23 adegan yang diperankan oleh tersangka.

"Kasus akan terus kami kembangkan. Selama hamil memang keluarga tersangka tidak ada yang tau. Tersangka ini hanya tinggal dengan kakeknya, karena kedua orangtuanya sudah lama bercerai," bebernya.

Atas perbuatannya, KFS kini dijerat dengan pasal 341 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. Meski telah ditetapkan tersangka, namun KFS hingga kini tidak dilakukan penahanan. Saat ini KFS sedang dititipkan di rumah aman dan dalam pengawasan psikolog. "Tersangka masih di bawah umur, namun kami tetap berkoordinasi dengan Bapas untuk mendampingi tersangka melalui psikolog. Ancaman hukumannya tujuh tahun, diversi tidak memungkinkan," pungkasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news