Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Mengaku Dipukul Petugas, AMP Lapor ke LBH Bali

07 Juli 2020, 21: 11: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mengaku Dipukul Petugas, AMP Lapor ke LBH Bali

MENGADU: Sejumlah mahasiswa dari AMP datang ke LBH Bali, Selasa (7/7). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali atas dugaan kasus pemukulan yang dilakukan oleh aparat keamanan saat membubarkan aksi mereka, Senin (6/7) di depan Monumen Bajra Sandi, Renon, Denpasar.

Bertempat di kantor LBH Denpasar, Selasa (7/7), Ketua AMP Komite Bali Jeeno menerangkan, selain membubarkan paksa para demonstran dengan water canon, polisi juga diduga melakukan pemukulan terhadap massa aksi. “Ada enam orang rekan kami yang mengalami luka, ada yang luka di bagian bibir akibat dipukul petugas, kemudian di bagian dahi,” ungkap Jeeno.

Selain itu, petugas juga diduga menarik baju salah seorang demonstran hingga sobek. Menurut penuturan  Jeeno, pihak polisi dinilai berbuat berlebihan dengan membubarkan massa yang hanya berjumlah 25 orang. “Saat aksi kami baru mulai sekitar 5 menit, kami sudah dipaksa bubar. Bahkan ada tiga teman kami yang langsung diseret masuk mobil Dalmas,” jelasnya lagi.

Selain itu, saat pihak aksi berusaha untuk negosiasi agar rekan mereka dilepaskan, tiba-tiba mobil water canon langsung menyemprotkan ke arah massa hingga mereka lari kocar-kacir. “Saat kami mau proses negosiasi, tiba-tiba mobil water canon langsung menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke arah kami, kami sampai sesak napas,” ungkapnya kembali.

Sementara itu, pihak LBH Bali Ni Putu Candra Dewi akan melakukan perundingan internal terlebih dahulu untuk menyikapi aduan Aliansi Mahasiswa Papua tersebut. “Kami akan berunding dulu antara LBH Bali dan pihak AMP, bagaimana sebaiknya kami menentukan sikap bersama,” tandasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan diri AMP menggelar aksi di monumen Bajra Sandi Renon, Senin (6/7). Dalam aksi tersebut, pihak AMP menuntut negara atas tragedi berdarah yang terjadi di Biak, Papua.

Aksi yang digelar saat pandemi Covid-19 tersebut, mendapat atensi khusus dari aparat. Sebanyak 73 aparat Polresta Denpasar diturunkan lengkap dengan water canon. Massa aksi dibubarkan dengan paksa oleh petugas karena khawatir aksi tersebut jadi tempat penyebaran Covid-19.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news